Maaf Mas, Anda Salah Karcis!

Image

 

Tanggal 21 Oktober 2012. Pengalaman yang cukup menarik untuk saya. Berawal dari keikutsertaan saya pada acara PKMJ Teknologi Pendidikan UNJ 2012 tanggal 19 Oktober 2012 di Puncak, Bogor. Berangkat dan pulang saya menumpang motor teman saya. Sekitar pukul 00.00 saya dan beberapa teman saya pulang dari puncak ke Jakarta, saya menumpang motor teman saya yang rumahnya berada di bilangan Depok. Pukul 01.43 saya dan teman saya sampai di rumahnya. Karena waktu menunjukkan dini hari, saya memutuskan untuk menginap di rumah teman saya sampai pagi.

Pukul 09.30 saya bangun dan bersiap-siap untuk pulang. Saya berniat pulang dengan menggunakan transportasi Busway, namun teman saya tidak bisa mengantarkan saya ke shelter Busway karena jam 10.00 ada urusan, maka saya memutuskan menggunakan transportasi kereta api, saya diantar teman saya sampai ke stasiun Depok yang tidak begitu  jauh jaraknya dari rumah teman saya.

Di satsiun Depok.

Sesampai disana saya membeli karcis kereta api commuter line jurusan Depok-Jakarta seharaga Rp. 8.000,- dan langsung berdiri menuggu di pinggir peron. Kurang lebih 10 menit menunggu kereta datang.

Perjalanan kereta Depok-Jakarta lancar.

Sebenarnya tujuan saya jika menggunakan transportasi kereta adalah stasiun Klender baru, Pondok Kopi. Namun dikarenakan tidak ada jurusan langsung ke arah stasiun Klender Baru dari stasiun Depok  maka saya harus turun di stasiun Manggarai dan melanjutkan perjalanan ke arah Bekasi.

Pukul 10.30

Sampai di stasiun Manggarai saya langsung menuju peron jurusan Bekasi. Dalam hati saya ragu, apakah saya harus membeli karcis baru atau langsung saja menaiki kereta. Karena informasi yang saya dapatkan sistem kereta api sekarang seperti Transjakarta, menggunakan sistem transit, maka saya pikir saya tidak perlu membeli karcis jurusan Manggarai-Bekasi lagi. Toh lagi pula kereta yang saya naiki juga sama-sama commuter line dan warna karcisnya pun sama, merah.

Cukup lama menunggu, kereta yang saya tunggu pun datang. Saya masuk kereta dan langsung duduk persis di samping pintu dimana saya masuk. Kebetulan penumpang sepi jadi masih banyak bangku yang masih kosong. Selama perjalanan sebenernya saya sangat menikmati, kereta yang lenggang dan bersih menjadi terasa cozy. Namun ada hal yang masih mengganjal di pikiran saya, karcis. Saya kerap kali tenggok kanan-kiri lorong kereta melihat ada tidaknya petugas pemeriksa karcis. Ada perasaan lega karena tinggal dua stasiun lagi saya sampai dan tidak adanya batang hidung petugas pemeriksa karcis. Namun perasaan lega itu langsung terkikis ketika pemeriksa karcis datang. Saya mempersiapkan karcis yang sebelumnya saya beli di stasiun Depok ketika pemeriksa karcis sudah dekat dengan tempat saya duduk.

Tanpa diminta saya sudah menyodorkan karcis. Pemeriksa karcis tidak seperti biasanya memeriksa karcis dengan teliti dan bertanya kepada saya,,

Pemeeriksa karcis: “Mau kemana Mas?” katanya.

Saya: “Mau ke stasiun Klender Baru pak!” kata saya santai.

Pemeriksa karcis: “Maaf mas, Anda salah karcis!” kata pemeriksa.

Saya menatap bingung.

Pemeriksa karcis: “Seharusnya karcis mas itu Citayem-Bekasi, bukan Depok-Jakarta, emang mas tadi naek darimana dan mau kemana?” cetusnya sambil menunjukkan karcis penumpang lainnya.

Saya menjelaskan kronologis dari awal saya naik kereta sampai saya turun di manggara dan melanjutkan perjalanan ke Bekasi.

Saya: “Waktu itu saya pernah ko beli satu karcis terus nyambung kereta lain lagi”, saya mencoba mengeles. Tidak bisa dipungkiri, pada waktu itu muka saya berubah menjadi muka yang sedikit panik, bagaimana tidak, menjadi pusat perhatian satu gerbong karena salah karcis!

Pemeriksa karcis: “Oh tidak bisa begitu mas, ini ada buktinya”, sambil membandingkan karcis saya dan karcis penumpang lainnya yang benar.

Saya: “Trus saya harus gimana?”, tanya saya mencoba santai, walupun perasaan saya gak santai.

Pemeriksa karcis: “Kalo di peraturan, mas kena denda 50 ribu rupiah!”

Wajah saya langsung pucet, teringat dompet saya yang kebawa oleh teman saya saat di acara PKMJ dan  hanya tersisa uang Rp. 21.500,- dikantong. Ditambah lagi teringat cerita pengalaman teman-teman saya yang kejadiannya persis seperti saya, dan karena tidak punya uang untuk bayar denda, teman saya ada yang disuruh mengepel di stasiun sampe di periksa oleh petugas di kantor.

Petugas karcis: “Yaudah nanti mas turun di stasiun depan, dan langsung membeli tiket baru!” cetusnya sambil meninggalkan saya.

Perasaan saya sedikit lega, tidak jadi denda 50 ribu 🙂

Sejurus kemudian kereta berhenti di stasiun Buaran, satu stasiun sebelum stasiun tujuan saya, Klender Baru. Ketika hendak turun, saya sempat melirik ke arah kanan lorong kereta, dimana pemeriksa karcis yang tadi memeriksa saya melihat ke arah saya, memastikan saya turun atau tidak. Saya berjalan keluar kereta cuek.

Saya langsung berjalan ke arah pintu keluar stasiun, dari jauh saya melihat orang yang hendak keluar stasiun harus memberikan karcis dan diperiksa petugas. Saya mengeluarkan karcis yang tadi bermasalah yang untungnya tidak ditahan pemeriksa karcis. Saya berpikir cepat, langsung saja saya melipat karcis saya agar arah jurusan karcis tidak langsung diketahui petugas. Ketika melewati pintu, saya memberikan karcis dan langsung berjalan cepat menuruni anak tangga sebelum petugas menyadari bahwa saya salah karcis dan memanggil saya. Beruntung, sampai saya menjauh tidak ada teriakan petugas memanggil saya. Saya mengelus dada.

Saya mengambil hikmah bahwa sebelum menggunakan sesuatu kita harus mengetahui dan memahami secara jelas prosedur yang berlaku seperti apa, apapun itu.

Alhamdulilah 😀

 

Foto: Google image

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s