Kau Tetap Yang Terbaik, Guru!

Hari rabu tanggal 12 November 2008 sekitar pukul 02.30

Bulan di malam hari terlihat begitu riang menampakkan wajahnya. Langit gelap, namun sejatinya ufuk timur sudah memberi tanda-tanda memancarkan sinarnya. Angin malam bertiup pelan, seolah meninabobokan siapa saja hingga tertidur pulas di atas kasur, termasuk saya.

Namun kehidupan malam yang begitu tenang tiba-tiba berubah menjadi kesedihan. Ketika tertidur pulas, saya dibangunkan oleh kakak kelas saya, dan saya beberapa kali hanya meng-‘eh pelan tanda malas beranjak dari kasur. Namun kata-kata kakak kelas saya membuat mata saya terbuka lebar bagai mata yang disiram sambal, melek semelek-meleknya. “Hab bangun hab cepet, Pak Sabar udah ngga ada” itulah kalimat yang diucapkan kakak kelas saya yang membuat mata saya melek semelek-meleknya. Begitu pun dengan kakak kelas saya yang tidur di samping ranjang saya, bahkan dia mendadak sewot “ente ngomong apaan mam? jangan sembarangan ente mam kalo ngomong!” cetus kakak kelas saya, Basri namanya.

“Astagfirullah, wallahi ane bas, liat aja noh ke bawah kalo ente gak percaya, udah pada rame dibawah!” ujar Umam. Saya dan kakak kelas saya buru-buru keluar kamar melihat keadaan. Dan benar saja, dirumah Guru saya itu terlihat ramai oleh anak santri lainnya, bahkan guru-guru saya, sofa-sofa pun sudah berada diluar semuanya. Disitu saya langsung lemes, melihat keadaan dari atas di depan kamar. Saya dan teman-teman lainnya yang juga baru terbangun langsung bergegas berganti pakaian dan turun ke bawah, kerumah tengah, rumah Guru saya. Orang-orang biasa menyebutnya rumah tengah atau rumah dinas. karena memang rumahnya terletak di tengah-tengah komplek pondok saya.

Sesampainya dirumah tengah saya tidak langsung mengaji Al-Quran untuk Guru saya itu, karena anak banat (perempuan2) masih ada di dalam membaca Al-Quran. Saya menunggu di luar rumah, menyalami setiap Guru yang ada. Cukup lama saya menunggu, dan sekitar pukul 06.00 saya baru berkesempatan untuk membaca Al-Quran dan surat-surat pilihan. Satu dua tetes air mata jatuh. Menahan untuk tidak semakin banyak yang keluar. Saya melihat wajah Almrhum Guru saya ketika salah seorang sanak keluarga membuka penutup wajahnya, terlihat seperti tidur biasa, tenang. Sempat setelah saya membaca Al-Quran melihat Ibu Usatzah Maesaroh Madsuni, istri dari Guru saya yang meninggal. Ibu, begitu kami memanggilnya. Wajahnya terlihat sangat teguh hampir tidak ada guratan kesedihan yang mendalam.

Hari semakin pagi, matahari mulai menampakkan wajahnya semakin jelas. Orang-orang semakin berduyun-duyun berdatangan. Komplek pondok penuh dengan kendaraan yang parkir. Karangan bunga juga turut menyambut kabar duka.

Waktu zuhur, Almarhum Guru saya disholatkan. Aula Masjid penuh. Bahkan saya pun dapet di shof belakang. Setelah itu dimakamkan. Almarhum dimakamkan masih di dalam lingkungan pondok, tepatnya di depan pintu gerbang kedua. Kurang lebih satu jam proses pemakaman berlangsung. Setelah proses pemakaman berlangsung, entah apa pasal, Ibu menangis. Tak pelak semua pun ikut menangis. Seakan ikut merasakan kesedihan, langit pun menangis, hujan turun membasahi bumi. Semoga menjadi sebuah rahmat dari Allah ketika hujan turun pada waktu itu.

Semakin sore orang-orang yang melayat mulai pulang meninggalkan pondok. Langit masih mendung, awan gelap masih menggantung di langit sisa hujan tadi. Suasana masih terasa sunyi, suara gurauan santri yang biasanya menghiasi sore hari tidak terdengar lagi.

Malam hari datang. Gelap menyelimuti langit pondok. Semakin larut, membuat para santri menguap dan beranjak tidur ke ranjangnya masing-masing. Angin malam seakan mengeloni para santri sehingga tertidur lelap. Sesekali bunyi denyit ranjang besi memecah sunyi ketika anggota tubuh santri bergerak kesana-kemari. jabrah dalam tidur.

Waktu subuh datang. Matahari menyemburatkan sinar fajar di ufuk timur sana. Seruan adzan mewajibkan siapa saja untuk bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh berjamaah di masjid. Sesekali terdengar sayup-sayup sampai suara adzan dari masjid kampung sebelah. Seruan nan indah di subuh hari.

Setelah menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan wirid, seperti biasa Ibu menyampaikan beberapa hal penting. Lesehan di depan mimbar. Tidak hanya informasi penting yang disampaikan, namun kata-kata yang memotivasi juga turut disampaikan, membuat pagi hari saya khususnya menjadi lebih berenergi.

Seperti dugaan saya sebelumnya, Ibu akan menceritakan kronologis atas meninggalnya suami tercinta, Dr. H. Sabaruddin Tain namanya. Benar saja. Ibu menceritakkan detil peristiwa itu. Awalnya cerita berjalan baik, terlihat Ibu begitu tegar, namun apa daya, ketika sampai pada detik-detik kematian almarhum, Ibu menangis, terisak. Saya pun tak kuasa menahan tangis, juga teman-teman banin dan banat yang ada di dalam masjid terdengar lirih. Tanpa diminta, air mata saya semakin mengalir deras. Suasana masjid lirih suara tangis. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena berlarut-larut dalam kesedihan itu tidak dianjurkan.

Sebernarnya pada hari selasa tanggal 11 november 2008, Almarhum masih sempat sholat maghrib berjamaah di masjid, saya pun masih sempat bersalaman dengan beliau. Makanya saya tidak percaya bisa secepat itu takdir menjemputnya.

“awalnya sekitar jam 01.30 sampai jam 02.00 Bapak bangun untuk sholat tahajjud. Setelah Bapak sholat baru Ibu sholat. Bapak tiduran di kasur ketika Ibu selesai sholat dan pas Ibu lagi Baca Al-Quran di meja kerja. Disitu Bapak batuk-batuk, trus Ibu ambilin air putih, minum. Ibu duduk duduk lagi baca Al-Quran. Engga lama, tapi ko kaya ada yang ganjil ya,, Bapak diem aja, Ibu coba deketin dan memanggilnya, tapi ko gak nyaut-nyaut. Disitu langsung kepikiran kemana-mana. Ibu langsung manggil bibi-bibi yang biasa masak di dapur. Dan para bibi gak tau harus gimana. Ibu langsung mengontak Dokter yang biasa stay di klinik pondok setiap hari-hari tertentu untuk ke rumah, memeriksa keadaan Bapak. Engga lama dokter bilang Bapak sudah gak ada”

“Sebelumnya Ibu udah tau kalo Bapak udah gak ada, tapi Ibu masih gak percaya kalo Bapak udah pergi. Engga lama juga Ibu udah telpon bang Arif sama Ka Fitri (anak) yang ada di Jakarta untuk langsung kesini.”

“Yang Ibu syukuri, ketika peristiwa itu Ibu ada disampingnya, dan terlebih lagi Bapak meninggal masih dalam keadaan berwudhu, engga lama setelah selesai sholat tahajjud, itu yang Ibu syukuri sama Allah”

Sebelumnya, 5 bulan yang lalu, almarhum kecelakaan mobil, akibat orang yang tidak bertanggungjawab. Beliau mengalami sedikit pecah pembuluh darah di otak, sehingga menyebabkan sedikit hilang ingatan. Dan anehnya kata Ibu, ayat yang masih diingat Bapak adalah surat Ar-Rahman:26 dan Al-kafirun (kalo engga salah inget). Sehingga Almarhum butuh terapi, dan hasilnya sangat berkembang dengan pesat. Dokter memvonis jika di akhir bulan November Almarhum selesai terapi maka bisa dipastikan almarhum sembuh total. Namun apa daya, garis takdir kekuasaan Allah sudah menjemputnya. Ketika ajal menjemput, tidak akan ada yang bisa memundurkannya atau memajukannya. Allah berfirman dalam surat Al-mu’minun:43, “Tidak (dapat) sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu).” 

Sifat Beliau sesuai dengan namanya, Sangat penyabar. Selama beliau menyampaikan materi dalam sebuah pembelajaran hampir tidak pernah sekalipun saya melihat Beliau marah terhadap muridnya, pernah sekali dan itu tidak berlangsung lama. Itu yang saya kagumi dari beliau, tidak pernah marah. Sangat baik, mengerti akan kebutuhan santrinya. Terbuka terhadap santri, pengalaman dan wawasannya sangat luas. Memang ketika beliau menyampaikan sebuah materi pembelajaran seperti Jurnalistik, Tafsir Al-Maroghi, Syarah Al-Hikam, sedikit materi yang disampaikan, namun sangat jelas dan rinci, mudah dipahami. Saya salah satu dari 4 orang anggota belajar kelompok Al-Quran setiap Ba’da maghrib oleh Beliau, metode yang diterapkan sangat menarik dan selalu ada rewardnya ketika kita bisa menyelesaikan apa yang diperintahkan, walaupun itu hanya sebungkus permen atau sisa air minumnya, itu reward yang sangat ditunggu-tunggu, meminum air sisa Beliau.

Beliau sangat mengidolakan Buya Hamka, yang kebetulan juga Beliau kelahiran Padang. Beliau salah seorang perintis “Majalah Aku Anak Salaeh” yang saat ini bisa dikatakan majalah wajib TKIT, karena hampir seluruh TKIT di Jabodetabek bahkan Indonesia menggunakan majalah tersebut. Beliau juga penulis    buku komik, yang ditulis mengenai Tokoh-tokoh Islam, Indonesia bahkan Tokoh-tokoh dunia yang berpengaruh

Saya mohon kepada para pembaca untuk sejenak meluangkan waktunya, mengirimkan surat Al-Fatihah     kepada beliau Almarhum Dr. H. Sabaruddin bin Datuk Tain, agar diterima disisi-NYA. Amin

Syukron katsiron..

Advertisements

Rasa Rindu

Pernahkah Anda sekalian memendam rasa? Hmm… rasa kagum, suka, bahkan cinta? Kita terkadang suka mengelak mengenai perasaan, namun hati kecil sulit sekali dibohongi. Ini merupakan sebuah puisi yang saya buat pada hari sabtu tanggal 30 Oktober 2010. Let’s cekidot…

Rasa Rindu

Aku tak tahu rasa apa ini
tiba-tiba datang
mengisi hatiku
memandangnya
menyejukkan hati
selalu mengalir dihati
terekam tak pernah mati

aku tak tahu rasa apa ini
namanya hadir dalam pikiran
terbesit hanya satu nama

aku mengelak
tetapi hati kecilku
berkata bohong tidak

aku tak tahu siapa dia
orang yang menarik hatiku
rasa rindu,
mengalir tiada henti
mengisi energi di dalam hati