Magis Kebo

ย 

Pengelaman ini terjadi ketika saya masih duduk di tahun pertama di pondok pesantren. Saya masih merasa asing dengan keadaan lingkungan, khususnya lingkungan masyarakat sekitar yang terasa kampungnya, terlihat dari masih banyaknya pohon-pohon besar, rawa-rawa, sawah dan sebagainya.

Hari minggu. Biasanya di hari ini para santri bebas melakukan kegiatan apapun, seperti mencuci pakaian, menjemur kasur, olahraga dan berbagai macam kegiatan lainnya. Hari itu saya bersama teman saya pergi untuk memancing tidak jauh dari pondok saya. Sekitar pukul 9, saya dan keempat teman saya berangkat. Pertama-tama kami pergi ke warung yang merupakan salah satu milik teman saya untuk membeli peralatan pancing sederhana. Iya, teman saya itu mondok walaupun rumahnya hanya berjarak kurang dari 10 menit jika berjalan kaki dari pondok.

Setelah kami membeli dan memasang alat pancing, kami bergegas ke tempat pancingan. Tempatnya itu berada di antara pohon-pohon bambu yang cukup lebat. Bukan empang, hanya seperti kobangan air biasa namun memiliki ikan yang cukup banyak dengan ukuran sedang. Dari tempat mancing, terlihat pondok saya berdiri.

Sebelumya teman saya mengingatkan untuk selalu berzikir, jangan banyak melamun karena memang katanya tempatnya cukup angker. Sesampai dilokasi, kami langsung memasang umpan cacing yang telah kami persiapkan sebelumnya. Suasana begitu sejuk karena angin yang bertiup cukup kencang ditambah dengan pohon-pohonan yang sangat lebat. Ketika kami memancing, ada sekitar 3-4 kebo datang di jarak sekitar 10 meter dari tempat kami memancing. Kebo-kebo itu milik warga sekitar.

Entah perasaan apa yang datang kedalam diri saya, saya merasa salah satu kebo tersebut melihat ke arah saya dengan pandangan yang tidak biasa, cukup lama saya memandanginya. Bulu kuduk saya merinding. Saya bengong. Tidak lama teman saya menyadarkan saya dan mengajak pulang ke pondok. Karena memang kami telah mendapatkan ikan walau tidak banyak. Kami pulang melewati kebo-kebo itu, dan sampai saya lewat kebo itu masih memandangi saya. Namun saya mencoba untuk tidak melihatnya.

Sesampainya di pondok saya masih merasa sehat-sehat saja, tidak ada yang janggal. Namun keesokan harinya, ketika saya bangun dari tidur untuk sholat subuh berjamaah saya merasa badan saya berat sekali, kepala pusing dan badan terasa tidak enak. Saya memutuskan untuk shalat di kamar dan tidak masuk sekolah. Saya pikir sakit saya hanya sebentar saja, namun makin hari-makin parah walaupun saya sudah minum obat yang diberikan dokter pondok. Kakak kelas saya yang memijit kaki yang rasanya amat sangat sakit jika dirasakan oleh orang yang sadar, saya tidak merasakannya sama sekali, bahkan terasa seperti tidak dipijit.

Akhirnya di hari ketiga saya pulang kerumah untuk berobat dan istirahat. Apakah itu akibat magis dari tatapan kebo yang menatap saya?

Wallahu aโ€™alam.