Teman Satu Visi

Image

Teman, kawan, sahabat atau apalah sebutannya menjadi hal wajib yang harus kita punya. Saya mengatakan wajib memiliki teman atau sahabat karena memang pada faktanya manusia tidak dapat hidup sendiri. Saya pernah membaca (tapi saya lupa saya baca dimana) bahwa orang yang memilki teman atau banyak teman harapan hidupnya semakin panjang daripada yang tidak memilki teman.

Teman memang suatu hal yang unik ya, teman yang kadang membuat kita bahagia, teman juga yang membuat kita kesel, sedih, stress, problem solving, troublemaker, dan segala hal bisa ditimbulkan oleh yang namanya teman. Makanya sebagian orang ada yang menganggap teman lebih tau siapa kita dibandingkan orang tua kita sendiri, karena saking banyaknya dan seringnya waktu kita dihabiskan bersama teman. Malah ada yang kalo pengen tau lebih dalam tentang seseorang pasti yang ditanya temannya. Atau ada orang yang berbuat buruk yang dilihat temannya. Kalo pas kebetulan temannya memang kelakuannya kurang baik ya orang lain menjudge kita kurang baik karena kita berteman sama orang yang kurang baik. Jadi, orang mudah untuk menilai attitude kita baik atau tidak itu bisa dilihat dari dengan siapa kita berteman. So, jangan salah pilih teman ya.. hehe

Tapi sejujurnya saya belum menemukan teman. Teman dalam artian teman yang mempunyai satu visi. Saya mencari teman yang benar-benar satu visi dan satu pikiran yang sama. Saya tidak mempersalahkan passion atau apalah dari saya dan teman saya berbeda, tapi asal satu visi saya sangat senang berteman dengannya. Ada sih beberapa teman yang satu visi dan tujuan, tapi kadang merasa ada hal-hal yang kurang cocok, eh tapi mungkin itu cuman ego aja kali ya hahaha..

Ada satu teman yang saya anggap sudah memenuhi kriteria teman yang saya mau. Walaupun dalam hati masih belum yakin 100%, tapi udah 90% lah yakin kalo itu memang teman satu visi yang saya cari hehehe. Butuh waktu lebih dari 5 tahun untuk meyakinkan bahwa teman saya itu benar-benar teman satu visi yang sama. Bahkan sampe sekarang aja belum ngerasa 100% hahaha

“Kok lebay banget sih nyari temen aja rempong banget?” mungkin itu salah satu pertanyaan yang muncul dari benak anda ketika membaca ini. Saya paham. Tapi inilah yang saya lakukan. Saya merasa itu suatu bentuk usaha saya dalam membentuk karakter yang ada pada diri saya. Saya merasa pkiran dan mindset saya ketika dekat dengan orang yang satu visi dengan saya, saya merasa  lebih enjoy dan bisa berpikir lebih positif jauh kedepan daripada lagi deket atau maen sama temen yang biasa-biasa aja. Jadi kualitas teman itu berpengaruh untuk diri saya pribadi walau dampaknya tidak bisa dirasakan secara langsung.

Mencarai teman satu visi itu amat sangat sulit. Saya merasa sulit sekali mencari teman yang satu visi. Eh tapi apa saya sendiri ya yang mempersulit diri ha3x. Lebih mudah mencari musuh daripada mencari teman yang satu visi. Jadi, ada yang mau menjadi teman satu visi saya? Hehehe 🙂

Salam.

Klik untuk melihat gambar.

Advertisements

Harga Sebuah Kepercayaan

Image

Kepercayaan yang dimaksud bukan kepercayaan akan adanya Tuhan, melainkan kepercayaan yang disematkan kepada orang yang kita anggap dapat dipercaya dalam hal apapun. Kata sebagian orang, untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain itu sulit loh, dan biasanya jika orang sudah percaya sama kita dan kita sekali saja mengecewakan orang tersebut maka dia akan sulit untuk mempercayai kita lagi bahkan tidak akan pernah, sekecil apapun kesalahan yang kita lakukan.

Kepercayaan yang orang lain berikan kepada kita, jangan dijadikan sebagai beban yang berat karena mengemban amanah yang orang lain berikan kepada kita. Akan tetapi jadikan kepercayaan tersebut sebagai sebuah motivasi untuk terus memperbaiki kualitas diri dalam mengemban amanah. Jujur merupakan kata kunci dari kepercayaan yang orang lain berikan kepada kita.

Berbicara mengenai kepercayaan, ada sebuah kisah yang mneurut saya sangat cocok dengan kepercayaan. Mungkin sebagian dari kalian sudah pernah mendengar cerita ini, baiklah, begini ceritanya…

Di dalam sebuah desa, ada seorang pengembala domba yang usianya kurang lebih 7 tahun. Pengembala tersebut mengembalakan domba milik beberapa penduduk desa. Pada suatu hari, entah iblis apa yang merasuk kedalam pikiran, pengembala tersebut tiba-tiba terlintas ide untuk berbuat iseng kepada penduduk desa. Idenya adalah, pengembala tersebut berteriak meminta tolong kepada penduduk desa, karena ada serigala yang menerkam domba gembalaannya.

“Tolong… tolong…. Ada serigala makan domba saya.. tolong… tolong…” terika pengembala panik. Penduduk desa yang mendengar teriakan dari pengembala langsung bergegas menuju asal suara. Namun penduduk desa terkejut melihat apa yang terjadi, tidak ada satu serigala pun disana, bahkan pengembala dan domba-dombanya terlihat baik-baik saja. Pengembala tertawa melihat penduduk desa yang datang berlari dengan wajah panik. Penduduk desa merasa kesal karena telah dibohongi oleh pengembala dan langsung membubarkan diri tanpa diperintah.

Selang beberapa menit, pengembala berteriak kembali seperti teriakan yang sebelumnya untuk kedua kalinya. Penduduk desa yang mendengar teriakan panik pengembala langsung bergegas ke asal suara. Namun lagi, ternyata tidak terjadi apa-apa seperti sebelumnya. Pengembala tertawa terbahak-bahak akan apa yang terjadi. Penduduk desa semakin kesal terhadap tingkah laku si pengembala untuk yang kedua kalinya.

Merasa apa yang dilakukannya berhasil, pengembala kembali berteriak seperti teriakan yang pertama dan kedua untuk yang ketiga kalinya. Penduduk desa yang mendengar teriakan tersebut bergumam antar satu sama lain, “ah paling si pengembala bohong lagi kaya yang tadi, ngapain kita capek-capek kesana..” kata salah satu penduduk desa. “iya bener-bener..” kata penduduk desa lain membenarkan.

Namun sayangnya, teriakan ketiga dari si pengembala bukan sebuah lelucon, akan tetapi sebuah kejadian nyata, dimana pada saat teriakan yang ketiga, serigala benar-benar muncul menerkam para domba-domba gembalaannya.

Cerita diatas menggambarkan bahwa betapa mahalnya sebuah kepercayaan yang orang lain berikan kepada kita. Sekali dua kali kecewa, orang lain akan sulit memberikan kepercayaan (lagi) kepada kita. Walaupun hal yang sepele. Jadi, masih mau mengecewakan orang yang mempercayai kita? 🙂

*Gambar diambil disini