Arti Sebuah Diam

Image

                 foto pribadi

Diantara sikap yang memiliki makna lebih dari satu mungkin hanya diam, setidaknya itu dilihat dari perspektif diri saya pribadi. Sebut saja marah, yang sudah jelas bahwa seseorang sedang marah, entah karena perkara apa. Sedih, yang mana seseorang mungkin sedang dirundung masalah atau bahkan sedang merasakan haru. Namun diam? Siapa yang tahu, ketika orang tersebut tetap bisu.

Saya paling suka dengan sikap yang satu ini, diam. Entah apa perkara yang membuat saya suka dengan sikap ini, namun yang pasti ketika saya berada pada sikap diam saya merasakan sebuah keadaan yang ‘nyaman’ dan tenang. Saya merasa gw banget pada saat saya melakukan ‘ritual’ diam. Diam yang saya lakukan terbagi menjadi 2 hal. Diam karena ada sebabnya dan diam tanpa sebab. Namun yang paling sering terjadi adalah diam tanpa sebab. Mau ada petir atau tidak, hujan atau tidak, banjir bandang sekalipun kalu saya ingin melakukan ritual diam ya saya akan diam. adakah perkara jika seseorang diam secara tiba-tiba tanpa sebab? Pun seandainya diam saya ada sebab, sebabnya bukan suatu hal yang besar.

Diam bukan berarti selalu marah, benci atau bahkan murka, hanya sebuah diam tanpa arti, apa salahnya? Tapi ternyata tak semua orang memahami makna diam sesungguhnya. Saya termasuk orang yang kepo dan sibuk mencari tahu jika ada teman yang diam secara tiba-tiba. Setidaknya jika tidak mendapatkan informasi sebabnya, saya hanya bisa menerka-nerka dalam hati. Cukup sampai disitu.

Satu alasan yang membuat saya memilih sikap diam, saya sedang tidak mau berinteraksi dengan orang-orang di sekitar saya, siapa pun itu. Toh saya tetap akan menjawab orang yang bertanya jika saya pada dalam situasi tersebut, namun sekenanya saja. Saya lebih memilih diam daripada saya harus berbicara yang sedikit akan manfaatnya. Walau pada keseharian saya lebih banyak berbicara yang setiap huruf yang keluar dari mulut sama sekali tidak ada manfaatnya. Pada saat diam, berarti saya sedang sadar bahwa diam ternyata lebih baik daripada banyak berbicara.

Ah, mungkin kau merasa aneh dengan sikap seperti ini. Namun itulah yang terjadi. Tak peduli orang benci dengan sikap diam saya atau ada yang malah senang? Ah ya! Senang karena mereka bisa bernafas lega tidak mendengarkan ocehan dari mulut saya yang membuat kuping panas, lelucon garing ditambah ocehan yang sama sekali tak bermakna. Mungkin saja. Apa pun itu, saya tidak akan terpengaruh merubah sikap diam saya. Ada satu kalimat yang saya suka dari Muhammad Ridho I salah satu kakak kelas saya yang isinya, “Tak selamanya diam itu tanda sedih. Diam pun bisa jadi tanda marah. Atau kalo mau husnuzon. Diam itu tanda zikir”.

 

Yang suka terdiam,

Wahab Kamal