Inspirasi Berserakan

inspireTerkadang kita kesulitan untuk mencari sebuah inspirasi yang dapat menggugah semangat didalam diri kita. Mencari dengan berbagai cara, bahkan ditempuh dengan cara-cara yang negatif. Merokok, minum-minuman beralkohol dan cara lainnya yang katanya dengan melakukan hal itu dapat menghilangkan penat sehingga pikiran dapat kembali segar, dengan begitu mudah mencari inspirasi. Ah tapi itu bukan cara yang baik untuk ditiru, merusak kesehatan diri sendiri iya.

Yang ingin saya sampaikan adalah bahwa tanpa kita sadari dan kita cari, inspirasi berserakan dimana-mana. Lihat sekeliling kita, perhatikan. Kita lupa bahwa inspirasi tidaklah harus dengan hal-hal yang besar. Dari yang kecil asal kita dapat mencermatinya dengan baik maka bisa menjadi sesuatu yang besar manfaatnya untuk diri kita pribadi bahkan orang lain. Inspirasi dapat berupa apapun, baik itu manusia, lingkungan bahkan angin yang berhembus pun bisa menjadi sebuah inspirasi.

Misalnya saya sebagai orang yang suka nulis blog, seringkali saya dengar dan saya rasakan sendiri betapa sulitnya mencari inspirasi untuk sebuah tulisan, ini berlaku bagi penulis blog amatiran seperti saya pribadi. Walaupun dalam menulis, terkadang bukan inspirasi yang menjadi kendala, namun kemauan menuangkan inspirasi kedalam tulisan itu sendiri yang menjadi kendala, inspirasi banyak, sudah terbayang apa saja yang akan dituliskan di dalam otak, tapi eksekusi menulisnya tidak pernah sampai.

Dan ketika mendapatkan inspirasi yang besar, mimpi langsung menjulang tinggi, bahkan mencapai tapal batas, ingin seperti dia. Otak berputar mencari cara apa yang harus dilakukan untuk mencapai apa yang saya inginkan. Namun yang menjadi penyakit adalah semangat yang membuncah seringkali tidak bertahan lama, luntur bak disapu hujan. Jika sudah seperti itu seakan lupa apa tujuan yang akan dicapai kedepan. Dan yang harus dilakukan (lagi) adalah mencari inspirasi.

Yap, padahal inspirasi berserakan dimana-mana.

Jika Tidak Seperti Impian

dream-1

Setiap orang bebas memilih pekerjaan apa yang akan mereka lakukan dimasa depan nanti sesuai dengan keinginan atau passion. Atau bahkan berangan-angan bekerja di tempat yang diidam-idamkan, menjadi eksekutif muda, boss dan lain sebagainya, padahal kita tidak expert di bidang itu. Bebas,mumpung berangan-angan gratis, tapi jangan ketinggian, repot kalo ternyata tidak kesampean, bisa stress. Berangan-angan menjadi orang sibuk seperti tergambar di dalam film atau novel atau bahkan kisah nyata, pergi ke luar kota untuk mengerjakan tugas kantor berhari-hari. Tidak, tidak ada yang salah dengan itu semua. Namun kita harus dapat berpikir realistis, tidak semua yang terjadi dimasa depan akan persis seperti yang kita impikan, toh jika memang benar-benar terjadi maka bersyukurlah kepada Tuhan. Karena Dia lah yang mengatur segala sendi kehidupan.

Ternyata melakaukan sebuah pekerjaan (bekerja) tidak selamanya berjalan mulus, artinya ada rasa bosan disana. Saya merasakan bahwa ada saat-saat dimana kita merasa bosan, tidak semangat atau hal-hal yang berhubungan dengan malas melakukan sebuah pekerjaan. Mungkin hal itu memang sudah menjadi sebuah hal yang biasa yang terjadi pada setiap pekerja. Atau juga ada penyebab lain bosan dan malasnya seorang pekerja. Saya tidak tau apakah hal tersebut juga dialami oleh orang yang bekerja sesuai dengan passion-nya.

Pada saat hal itu terjadi pada diri kita, kita tidak berhak menyalahkan siapa pun akan bosannya pekerjaan yang kita lakukan, karena itu sudah menjadi pilihan kita. Kita yang memilih. Dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan kita bertanggung jawab akan hal itu. Sungguh ini hal yang lucu bagi saya pribadi, saya tidak pernah membayangkan bagaimana jika seseorang yang bekerja sesuai dengan bidang atau passion nya tapi tetap merasa bosan, dan sudah berkerja puluhan tahun. Dan tidak bisa membayangkannya lagi ketika datang bosan kepada orang yang bekerja bukan pekerjaan impian dan sudah bekerja selama bertahun-tahun. Masikah mereka bertahan?

Namun hati tidak pernah berbohong, pada akhirnya kita akan memilih atau beralih kepada sebuah pekerjaan yang kita suka di dalamnya. Pekerjaan yang mendeskripsikan siapa diri kita dan keinginan kita menjadi.

 

Gambar diambil disini

Barangmu Bukan Milikmu

CLTulisan ini didedikasikan untuk barang tercinta yang belum genap satu tahun, padahal bulan september yang akan datang kita genap satu tahun bersama. Tapi takdir berbicara lain. Handphone kesayangan raib, berpindah tangan kepada orang yang tidak kuhendaki.

Peristiwa ini berawal dari ketika aku hendak berangkat ke kantor menggunakan jasa commuter line Manggarai-Sudirman selasa lalu. Saat itu sedang menunggu kereta arah Sudirman sambil mendengarkan musik menggunakan handphone. Ketika kereta hendak datang aku masukan headset kedalam tas yang dimana posisi tas berada/digemblok di depan badan. Sedangkan handphone dimasukkan di dalam kantong celana sebelah kanan. Kereta tiba, seperti biasa, kereta penuh dan yang mau naek pun juga penuh, jadi kebayang sulitnya untuk naek kereta, dorong-dorongan dan sikut-sikutan sudah menjadi hal biasa. Aku sama sekali tidak memikirkan perihal handphone. Pada saat yang sama, ada perempuan yang handhpone-nya jatuh atau memang ada yang mencopet tapi handphone-nya terjatuh. Dan ternyata ada dua handphone milik perempuan tadi yang handphone-nya jatuh/hilang, karena pada saat itu si perempuan masih miscall (mencari) handphone-nya dengan wajah panik. Sebenernya pada saat itu aku penasaraan dengan handphoneku, ada atau tidak, namun kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengecek maka aku tidak gubris. Pada saat itu kondisi di dalam kereta benar-benar sangat padat, tidak bisa menggerakkan badan satu derajat pun.

Dan benar saja, ketika turun dari kereta handphone sudah tidak ada di dalam kantong celana sebelah kanan. Aku agak berpikir postif,”mungkin lupa naro di dalam tas, atau keselip di dalam tas..”, tapi setelah di periksa tetap tidak ada, kereta sudah melenggang jalan menuruti titah masinis. Saat itu aku langsung shock, deg-deg-an, aktivitas jantung langsung meningkat darstis. Tapi untung tidak bertahan lama. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan handphoneku, termasuk bertanya kepada satpam stasiun atau lain sebagainya.

Hmm..

Ini bukan kejadian yang pertama kali handphone dicuri orang, beberapa bulan sebelumnya juga hampir dicuri, saat itu ada tangan jahil yang berusaha mengambil handphone, untung langsung terjaga, terbangun dari tidur, dan handphone selamat. Namun peristiwa kali ini memang sedang tidak berpihak kepadaku, dan seharusnya peristiwa pertama menyadarkanku akan kehati-hatian.

Tidak lama setelah peristiwa terjadi aku menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miiki sesungguhnya bukan miik kita, apa yang kita miiki saat ini hanyalah titipan dari yang Maha Memiliki. Aku yakin itu cara Tuhan menegur aku akan kesalahan yang telah aku perbuat baik itu tidak sengaja maupun sengaja. Atau berpikir baiknya Tuhan memiliki rencana terbaik pengganti handphone. Itu mengapa di dalam Islam kita tidak dianjurkan untuk cinta dunia, artinya segala sesuatu yang kita miliki kita cintai melebihi apapun, sekedarnya saja, namun begitu bukan berarti ketika rumah kita kemalingan kita diam saja, kita wajib menjaga dan mempertahan barang milik kita, dan jika kita kehilangan sesuatu maka ikhlaskanlah, sesungguhnya barangmu bukan milikmu.

Yang sedang kehilangan,

Wahab Kamal

Gambar diambil disini

Sudirman Dan Para Pekerjanya

jendral sudirman

Sudah menjadi rahasia umum jika kota Jakarta menjadi pusat segala kegiatan diberbagai sektor di Indonesia, sehingga tidak sedikit orang-orang berbondong-bondong pergi ke kota Jakarta untuk mengadu nasib, mencoba peruntungan. Salah satu kawasan yang padat oleh pekerja adalah Sudirman dan sekitarnya . Tengok saja Sudirman ketika jam masuk kantor dan pulang kantor, hampir semua ruas jalan padat oleh kendaraan bermotor, baik oleh kendaraan pribadi maupun transportasi umum, bahkan oleh para pejalan kaki.

Saking padatnya orang-orang yang bekerja dan atau melewati jalur Sudirman transportasi umum penuh sesak, mulai dari bis, metro mini, commuter line bahkan ojek sekalipun. Saya sebagai pengguna transportasi umum yang saat ini melewati jalan Sudirman harus pandai-pandai mengatur waktu. Disiplin menjadi kunci mulusnya perjalanan menuju kantor atau pulang. Terlambat satu menit saja bisa telat 15-30 menit dan bisa lebih dari itu. Istilah teman-teman, “berangkat gak ngeliat matahari pulang pun juga gak ngeliat matahari”,. Ya jam setengah 6 teng harus sudah jalan dari rumah jika tidak mau datang telat ke kantor, itu berarti harus bangun sebelum bedug subuh dipukul. Itu tidak pake acara sarapan lagi, tidak sempat. Sarapannya di luar dengan catatan berangkat tepat jam setengah 6. Kalo mau bandel-bandel dikit walau telat masih nyempetin untuk sarapan.

Saya melihat ada usaha yang sangat besar diantara para pekerja, baik wanita maupun pria, sama saja, tidak ada bedanya. Bayangkan, seorang wanita yang bekerja di daerah Sudirman atau melewati daerah Sudirman yang menggunakan transportasi umum seperti commuter line harus berdesak-desakan dengan wanita lainnya dan tentu dengan laki-laki juga. Tapi yang unik, kekuatan wanita meningkat lebih besar ketika menyerobot masuk diantara sesaknya commuter line atau bis umum. Belum lagi harus bangun lebih pagi lagi dari suaminya (jika sudah bersuami) untuk mengurus ‘kebutuhan’ suaminyayang juga bekerja dan berangkat pagi.

Memang pada jaman sekarang dalam hal bekerja posisi wanita sudah bisa disejajarkan dengan laki-laik, artinya wanita juga mampu melakukan apa yang sesungguhnya menjadi kewajiban laki-laki, mencari nafkah. Meningkatnya kebutuhan hidup di berbagai sektor memaksa para wanita membantu suaminya untuk mencari nafkah, walau tidak ada kewajiban bagi seorang wanita mencari nafkah untuk keluarga.

Satu hal lagi yang menurut saya yang perlu diapresiasi adalah kesadaran masyarakat untuk menggunakan transportasi umum untuk mengurangi angka kemacetan dan polusi udara, walau sesungguhnya tidak semua pengguna transportasi umum menggunakan alasana itu, misalnya lebih efektif dan efisien dengan menggunakan tranpostasi umum atau memang tidak memiliki kendaraan pribadi. Alasan lain yang menurut saya banyaknya masyarakat menggunakan transportasi umum adalah sudah semakin baiknnya sistem trasnportasi umum seperti kereta listrik commuter line. Pengguna jasa commuter line itu banyak banget dan padet banget. Saya membayangkan jika seluruh pengguna commuter line menggunakan kendaraan pribadi jika berangkat kerja. Jakarta tidak perlu menuggu dua atau tiga tahun kedepan untuk macet total, sekarang pun bisa jika itu terjadi. Transportasi umum dari bis, commuter line, transjakarta dll yang setiap hari selalu padat penumpang saja jalanan masih macetapalagi jika pengguna transportasi umum beralih ke kendaraan pribadi? Entah bagaimana wajah Jakarta ketika itu.

Itu sedikit ulasan dan pengalaman mengenai kondisi riuhnya ketika orang-orang melangkahkan kaki, mengais rezeki.

Gambar diambil disini