Sudirman Dan Para Pekerjanya

jendral sudirman

Sudah menjadi rahasia umum jika kota Jakarta menjadi pusat segala kegiatan diberbagai sektor di Indonesia, sehingga tidak sedikit orang-orang berbondong-bondong pergi ke kota Jakarta untuk mengadu nasib, mencoba peruntungan. Salah satu kawasan yang padat oleh pekerja adalah Sudirman dan sekitarnya . Tengok saja Sudirman ketika jam masuk kantor dan pulang kantor, hampir semua ruas jalan padat oleh kendaraan bermotor, baik oleh kendaraan pribadi maupun transportasi umum, bahkan oleh para pejalan kaki.

Saking padatnya orang-orang yang bekerja dan atau melewati jalur Sudirman transportasi umum penuh sesak, mulai dari bis, metro mini, commuter line bahkan ojek sekalipun. Saya sebagai pengguna transportasi umum yang saat ini melewati jalan Sudirman harus pandai-pandai mengatur waktu. Disiplin menjadi kunci mulusnya perjalanan menuju kantor atau pulang. Terlambat satu menit saja bisa telat 15-30 menit dan bisa lebih dari itu. Istilah teman-teman, “berangkat gak ngeliat matahari pulang pun juga gak ngeliat matahari”,. Ya jam setengah 6 teng harus sudah jalan dari rumah jika tidak mau datang telat ke kantor, itu berarti harus bangun sebelum bedug subuh dipukul. Itu tidak pake acara sarapan lagi, tidak sempat. Sarapannya di luar dengan catatan berangkat tepat jam setengah 6. Kalo mau bandel-bandel dikit walau telat masih nyempetin untuk sarapan.

Saya melihat ada usaha yang sangat besar diantara para pekerja, baik wanita maupun pria, sama saja, tidak ada bedanya. Bayangkan, seorang wanita yang bekerja di daerah Sudirman atau melewati daerah Sudirman yang menggunakan transportasi umum seperti commuter line harus berdesak-desakan dengan wanita lainnya dan tentu dengan laki-laki juga. Tapi yang unik, kekuatan wanita meningkat lebih besar ketika menyerobot masuk diantara sesaknya commuter line atau bis umum. Belum lagi harus bangun lebih pagi lagi dari suaminya (jika sudah bersuami) untuk mengurus ‘kebutuhan’ suaminyayang juga bekerja dan berangkat pagi.

Memang pada jaman sekarang dalam hal bekerja posisi wanita sudah bisa disejajarkan dengan laki-laik, artinya wanita juga mampu melakukan apa yang sesungguhnya menjadi kewajiban laki-laki, mencari nafkah. Meningkatnya kebutuhan hidup di berbagai sektor memaksa para wanita membantu suaminya untuk mencari nafkah, walau tidak ada kewajiban bagi seorang wanita mencari nafkah untuk keluarga.

Satu hal lagi yang menurut saya yang perlu diapresiasi adalah kesadaran masyarakat untuk menggunakan transportasi umum untuk mengurangi angka kemacetan dan polusi udara, walau sesungguhnya tidak semua pengguna transportasi umum menggunakan alasana itu, misalnya lebih efektif dan efisien dengan menggunakan tranpostasi umum atau memang tidak memiliki kendaraan pribadi. Alasan lain yang menurut saya banyaknya masyarakat menggunakan transportasi umum adalah sudah semakin baiknnya sistem trasnportasi umum seperti kereta listrik commuter line. Pengguna jasa commuter line itu banyak banget dan padet banget. Saya membayangkan jika seluruh pengguna commuter line menggunakan kendaraan pribadi jika berangkat kerja. Jakarta tidak perlu menuggu dua atau tiga tahun kedepan untuk macet total, sekarang pun bisa jika itu terjadi. Transportasi umum dari bis, commuter line, transjakarta dll yang setiap hari selalu padat penumpang saja jalanan masih macetapalagi jika pengguna transportasi umum beralih ke kendaraan pribadi? Entah bagaimana wajah Jakarta ketika itu.

Itu sedikit ulasan dan pengalaman mengenai kondisi riuhnya ketika orang-orang melangkahkan kaki, mengais rezeki.

Gambar diambil disini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s