Rindu Yang Terpatri

IMG_3030

Resensi buku Tere Liye—Rindu

Judul                  : Rindu

Penulis              : Tere Liye

Penerbit            : Republika Penerbit

Tebal Buku        : 544 halaman

Tahun Terbit      : Oktober 2014, cetakan 1

Nama Tere Liye mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan pembaca buku di Indonesia. Penulis yang sudah ‘melahirkan’ banyak karya yang cukup membuat para pembaca jatuh hati terhadap barisan kata, kalimat atau paragraf yang tercetak dalam buku. Beberapa karyanya bahkan sudah di produksi ke layar lebar, sebut saja Hafalan Surat Delisha dan Bidadari-Bidadari Surga. Tere Liye lebih banyak menulis dengan genre fiksi daripada genre lainnya—yang memang menurut saya Tere Liye lebih fokus pada genre fiksi. Novel merupakan jenis buku yang paling sering ditulis oleh Tere Liye. Novel-novelnya sudah tidak bisa diragukan lagi, baik dari isi cerita maupun bahasa. Tema yang diangkat dari novel yang ditulis pun berkaitan dengan hal-hal yang begitu dekat dengan kita, nilai-nilai yang sehari-hari kita amalkan.

Berbicara tentang Tere Liye dan novel, baru-baru ini Tere Liye kembali menerbitkan novel terbarunya, Rindu. Dilihat dari judul bukunya, novel Rindu ini terlihat sederhana, namun mengandung berjuta makna dan tanya. Ya, rindu mengandung arti yang dalam dan setiap orang berhak menginterpretasikan kata rindu kedalam makna yang berbeda-beda. Seperti cerita dalam novel ini, ada banyak rindu di dalam setiap perjalanan dan tanya.

Adalah Gurutta yang menjadi tokoh utama pada novel kali ini. Seorang ulama yang masyhur, kedalaman ilmunya membawa ia dikenal oleh kalangan masyarakat. Umurnya sudah tidak muda lagi, namun masih gagah melakukan aktivitas. Pada saat itu ia berkesempatan pergi melakukan perjalanan suci ke tanah haram. Namun tidak mudah bagi Gurutta untuk ikut perjalanan suci itu, ia tahu tidak akan semudah itu ia ikut, sehingga ia meminta izin kepada Guberbur Jendral De Jonge dari Batavia, tanda tangannya tidak bisa dibantah oleh siapapun termasuk oleh Sergeant Lucas.

Kapal Blitar Holland menjadi kapal yang membawa penumpang menuju tanah suci, berhenti di beberapa pelabuhan untuk mengangkut penumpang ataupun memenuhi keperluan kapal dan kebutuhan sehari-hari penumpang di dalam kapal. Kapal yang di pimpin oleh Kapten Phillips ini berkekuatan tenaga uap, yang pada kala itu menjadi teknologi kapal paling modern. Tere Liye menceritakan dengan detil kehidupan diatas kapal selama perjalanan, mulai dari matahari terbit sampai rembulan menampakkan wajah teduhnya. Pembaca akan merasa seperti benarbenar merasakan kehidupan diatas kapal seperti nyata, setiap sudut ruang kapal di deskripsikan dengan jelas. Namun siapa sangka, di dalam kapal Blitar Holland tersebut beberapa penumpang memiliki pertanyaan yang mengusik batin. Lima pertanyaan di dalamnya.

Anna dan Elsa merupakan kakak beradik yang ikut kedalam perjalanan besar ini bersama kedua orangtuanya. Daeng Andipati, adalah Ayah dari kakak beradik tersebut. Umurnya masih belia, sembilan dan lima belas tahun. Selama perjalanan Anna sangat antusias terhadap kegiatan apapun di dalam kapal, keceriaannya membawa ia dekat dengan siapa saja, berbeda dengan Elsa yang agak pendiam daripada adiknya itu. Seperti lazimnya kakak beradik, Anna dan Elsa seringkali meributkan sesuatu hal yang tidak penting. Pertengkaran kakak beradik ini menjadi bumbu yang gurih selama perjalanan menuju tanah suci ini.

Gurutta menjadi orang yang paling dihormati di dalam kapal, sehingga apapun yang Gurutta usulkan diamini oleh seluruh penumpang kapal. Sebut saja pengajian untuk anak-anak pada sore hari selepas sholat ashar, kajian ba’da subuh dan lain sebagainya. Tentu saja tujuannya adalah baik, mengisi waktu kosong diatas kapal dengan melakukan aktifitas yang bermanfaat bagi seluruh penumpang kapal.

Bonda Upe bersedia menjadi guru mengaji anak-anak selama berada diatas kapal. Pakaiannya yang serba cerah membuat Anna sering dibuat kagum. Terlebih, Bonda Upe yang memiliki kulit putih dan paras cantik khas negeri cina—dan memang keturunan orang cina. Selama di dalam kapal, Bonda Upe seperti menutup diri dari pergaulan di dalam kapal, Gurutta, Daeng Andipati, Anna, Elsa dan orang-orang di dalam kapal jarang sekali melihat Bundo Upe makan di kantin bersama-sama—kantin menjadi tempat berkumpulnya seluruh penumpang dan saling kenal lebih jauh satu sama lain. Bonda Upe keluar kabin hanya sekedar sholat di masjid kapal. Sikap Bonda Upe sudah terlihat jelas bahwa ia membawa satu pertanyaan yang membuatnya menutup diri, yaitu masa laluny ayng kelam menjadi seorang pelacur yang dijual oleh bapak kandungnya sendiri demi memenuhi kepuasan nafsunya semata dalam berjudi, membuat ia bertanya-tanya apakah Allah akan menerima hajinya dengan keadaan masa lalu ia yang kotor itu? Pertanyaan itu ia lontarkan dengan taku-takut kepada Gurutta—yang tentunya sudah tahu ada sesuatu yang tidak wajar pada sikap Bonda Upe. Sehingga Gurutta dengan bijak memberikan sebuah petuah saktinya yang siapapun mendengarnya pastilah tenteram hatinya. Maka satu pertanyaan terjawab yang dialami oleh Bonda Upe.

Pertanyaan kedua justru muncul dari Daeng Andipati. Tampak bahagia dimata orang lain yang melihatnya namun tidak bagi Daeng Andipati ketika ia teringat akan masa lalunya yang tidak kalah kelamnya dengan apa yang dialami oleh Bonda Upe. Pertanyaan yang dilontarkan Daeng Andipati kepada Gurutta diawali dengan insiden yang tidak terlintas sama sekali. Terjadinya percobaan pembunuhan kepada Daeng Andipati yang membuat ia harus membuka luka lamanya demi melihat orang yang ingin membunuhnya namun digagalkan oleh salah satu kelasi kapal. Daeng Andipati sebenarnya sudah lama ingin menanyakan hal ini kepada Gurutta ketika diawal ia tahu akan satu kapal dengan Gurutta, namun mulutnya enggan berbicara. Akhirnya peristiwa tersebut membawa dirinya bertanya kepada Gurutta, pertanyaan yang sudah lama ia pendam. Rasa benci yang amat sangat medalam kepada ayahnya adalah pertanyaan besarnya, apakah dengan dendam yang amat sangat tersebut Allah akan menerima ia di tanah haram? Membeci seseorang yang harusnya ia sayangi? Gurutta dengan kerendahan hati dan kharismanya menjawab dengan lugas dan tegas atas pertanyaan Daeng Andipati, bahwa memaafkan dengan tulus dapat melunturkan benci, yang mendarah daging sekalipun.

Di tengah perjalanan, sudah separuh lebih penumpang sudah masuk dari berbagai wilayah di tanah air menaiki kapal Blitar Holland untuk melakukan perjalanan besar. Di separuh perjalanan itu pula peristiwa yang membuat awan mendung di dalam kapal membungkus langit-langit kapal. Salah satu penumpang meninggal dunia dalam perjalanan suci ini. Adalah Mbah Putri, suami dari Mbah Kakung meninggal ketika sujud dalam sholat subuh. Berita meninggalnya Mbah Putri tentu saja mengagetkan siapa saja yang berada di dalam kapal, terlebih Anna yang cukup akrab dengan kedua pasangan kakek-nenek itu. Peristiwa itu menimbulkan pertanyaan besar ketiga yang ternyata terlontar dari mulut suami almarhumah Mbah Putri. Mbah Kakung merasakan kesedihan yang mendalam atas meninggalnya istri tercinta, ia mempertanyakan takdir Tuhan yang tidak tepat dalam memanggil istri tercintanya kepada pangkuan-Nya, tidak bisakah ditunda setelah ia melaksanakan haji di tanah suci? Yang menjadi cita-cita sepasang kekasih sepuh itu sejak dahulu kala? Gurutta, dengan sabar dan pelan-pelan menjelaskan kepada Mbah Kakung akan takdir yang menimpa dirinya dan istri. Bahwa takdir Tuhan tidak dapat dimajukan atau dimundurkan sejengkal pun.

Ambo Uleng menjadi pemilik pertanyaan besar keempat diatas kapal Blitar Holland tersebut. Ambo Uleng adalah satu-satunya kelasi yang berdarah lokal—seluruh awak kelasi berkebangsaan Belanda. Uniknya, Ambo Uleng pun baru menjadi kelasi ketika kapal berangkat dari pelabuhan Makassar. Kepergiannya bersama kapal Blitar Holland diharapkan juga pada kepergian rasa sakit hati yang memilukan. Ambo Uleng dekat dekat dengan Anna, anak dari Daeng Andipati yang memanggilnya Om Kelasi. Sakit hati akan kisah cintanya membuat Ambo Uleng menjadi orang yang paling pendiam diatas kapal, bahkan Ruben teman sekamarnya di kabin merasa jengkel akan diamnya Ambo Uleng yang tanpa sebab itu. Kedekatannya dengan Gurutta membuat Ambo Uleng mencoba memberanikan diri untuk membuka rahasia yang selama ini ia pendam sendiri di dalam hati, tentang kisah cintanya yang memilukan, demi mendapatkan cinta sejati. Pertanyaan besar yang ada pada Ambo Uleng adalah apakah sesungguhnya cinta sejati itu? Apakah ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta sejati sesuai dengan apa yang ia miliki? Lagi dan lagi, Gurutta yang menjawab pertanyaan besar itu, diselingi dengan kisah cinta Gurutta yang tidak jauh berbeda dengan Ambo Uleng pada masa lalu. Bahwa untuk emdapatkan cinta sejati adalah dengan cara melepaskan.

Kempat pertanyaan besar yang dibawa oleh penumpang diatas kapal Blitar Holland terjawab sudah. Masih ada satu pertanyaan lagi yang belum terjawab. Pertanyaan kelima justru datang dari Ahmad Karaeng, yang tidak lain dan tidak bukan adalah nama asli dari Gurutta. Ia menyebutnya kemunifikan. Bagaimana mungkin ia yang dengan mudahnya menjawab seluruh pertanyaan orang lain namun tidak bisa menjawab pertanyaan diri sendiri. Puncak dari pertanyaan ini adalah ketika kapal Blitar Holland dibajak oleh pembajak dari Somalia yang terkenal dengan pembajakan kapalnya yang ganas. Pada saat itu Gurutta ditahan oleh Sergeant Lucas karena dianggap mencoba melakukan pemberontakan melaui buku yang ia tulis. Selama diatas kapal, selain menjadi imam dan memberikan kajian agama diatas kapal, Gurutta menulis buku, yang isinya tentu saja tentang semangat kemerdekaan—karena pada waktu itu masih dijajah oleh Belanda. Pertanyaan besar Gurutta, mengapa ia menuliskan semangat kemerdekaan melawan penjajahan namun ia tidak berani dalam akasi nyata melawan pembajak somalias yang membajak kapal? Bukankan itu munafik? dan ternyata jawaban atas pertanyaan Gurutta muncul dari mulut Ambo Uleng yang memberikan aksi nyata, bukan hanya sekedar berbicara. Gurutta hanya tercengang, tak menyangka jawaban atas pertanyaannya terlontar dari mulut anak kemarin sore yang sedih akan kehilangan cinta sejatinya.

Novel setebal 544 halaman ini tidak akan terasa tebalnya. Pasalnya, sebagai pembaca kita larut akan kehidupan diatas kapal yang digambarkan seakan nyata oleh sang penulis. Secara makna, novel ini memiliki arti yang sangat mendalam yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca, melalui lima pertnyaan besar yang dibawa oleh penumpang kapal. Novel ini pun sarat akan sejarah dan budaya, bagaiamana setting novel ini pada saat zaman penjajahan, beragam budaya yang dibawa oleh penumpang dari masing-masing daerah asal sampai kepada keindahan wilayah atau ciri khas daerah yang disinggahi kapal di pelabuhan. Kehdiupan laut pun tidak lepas dari cerita novel ini, bagaimana lumba-lumba berenang secara berkelompok dan ikan paus menyemburkan air keatas dari tubuhnya. Hal tersebut tergambar jelas di dalam novel Rindu ini. Bukan Tere Liye namanya jika pemilihan diksi yang enak dan mudah dicerna oleh siapapun pembacanya, seperti ketika kita bercakap-cakap sehari-hari.

Menurut hemat saya, novel Rindu ini agak berbeda dengan novel Tere Liye lainnya, memang novel yang ditulis oleh Tere Liye diambil dari hal atau kisah-kisah sederhana, namun di novel Rindu ini, walau memiliki makna yang mendalam, isi ceritanya memang benar-benar sederhana, tidak seperti novel Tere Liye yang pernah ditulis sebelumnya. Konflik yang terjadi pun tidak serumit dan setegang dari novel pendahulu Rindu. Hampir keempat pertanyaan dijawab dibagian tengah menuju akhir, terlalu lama dan banyak menceritakan kehidupan di dalam kapal.

Terlepas dari itu semua, novel ini layak dibaca oleh siapa saja. Novel ini memberikan sebuah hikmah yang dapat diambil oleh pembaca melalui jawaban atas lima pertanyaan besar tersebut. Dan yang terpenting, novel ini terbit diwaktu yang pas, ketika bulan haji 1435 H jatuh pada bulan Oktober 2014 🙂

Salam Rindu.