Bisu

“Tolong, katakan yang sejujurnya, apa yang kamu mau dari aku?” raut mukaku entah harus memelas seperti apa lagi, dan pertanyaan apa lagi yang harus aku lontarkan kepada seseorang yang diam membisu sejak dua jam yang lalu, hanya ada suara detak jantungku yang semakin memburu dan riuh rendah tempat ini.

“Tolong kamu jawab pertanyaan terakahir dari aku ini, apa yang kamu mau dari akau?” tanyaku lembut sedikit gemas.

“Aku hanya mau kamu menikahi aku dalam dua hari kedepan. titik.” Akhirnya yang diajak bicara bersua juga, dengan nada yang penuh penekanan.

“Hanya untuk itu kamu diam selama dua jam ini? Tidak menjawab sepatah kata pun apa yang aku tanyakan kepadamu selama dua jam ini? Bahkan meminum setengguk air pun tidak?” aku mendengus kesal.

“Iya!” bentaknya lebih keras.

Orang-orang sekitar sesekali melirik dari bangku dimana mereka duduk. Mau tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Baik jika itu yang kamu mau, tetapi sayang sekali, aku tidak mau menikahimu!” kataku tegas sambil dan membanting uang diatas piring yang hanya tinggal noda makanan, berlalu pergi.

Dari jauh kudengar, ada suara isak tangis dari tempat aku pergi.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Advertisements

Posisi Sahabat

Perahu_Kertas_Sampul

#KisahKasihFavoritku Perahu Kertas Hal. 319

“Selamat. Kamu berhasil jadi juara satu. Tidak ada yang menggeser posisi lu buat gua, Gy,” ucap Noni sambil tersenyum ceria. Kugy membaca tulisan di medali emas itu. Sahabat Terbaik dan Terawet.

Saya sepakat dengan Noni, tidak ada yang dapat menggeser posisi seorang sahabat didalam kehidupan kita. Sahabat ibarat dua mata sisi sebuah koin, tidak dapat dipisahkan. Mengapa? Karena sahabatlah yang paling mengerti satu sama lain, daripada pacar sekalipun. Sahabatlah yang paling mengetahui seluk beluk siapa diri kita sebenarnya. Jika kita mempunyai kabar buruk, seorang sahabat siap menjadi pendengar pertama, ia rela memberikan sebagian dirinya untuk merasakan pedihnya kabar buruk yang kita rasakan. Pun dengan kabar baik, sahabat menjadi orang pertama pula yang siap menampung luapan kegembiaraan dari kita. Tak peduli pada saat itu ia sedang merasakan kepedihan akan realitas hidupnya. Demi kebahagiaan sahabat terbaiknya. Jika ada saat dimana hubungan antar sahabat renggang, semesta tidak akan tinggal diam. Semesta memiliki cara agar antar sahabat kembali menyatu. Entah bagaimana caranya.

Kisah kasih antar sahabat merupakan cinta kasih yang sesungguhnya. Kasih yang begitu tulus. Dan tak akan pernah putus.

Gambar diambil disini

Anak Meniru Apa Yang Ia Lihat

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang anak kecil usia balita memiliki memori otak yang masih sangat amat bagus. Otak anak balita merekam apapun yang ia lihat, ia dengar, ia rasakan melalui sentuhan maupun penciuman. Semua indera yang dimiliki anak balita bekerja mengikuti alur yang ada disekelilingnya. Saya mencoba mengkritik kebiasan anak menonton televisi, film dan sebaginya yang berkaitan dengan indera penglihatan anak. Dan saya menulis dari susut pandang dari apa yang saya lihat dan saya alami baik di lingkungan saya tinggal maupun media sosial.

Sangat disayangkan, anak balita (saya mendefinisakan anak balita usia 2-12 tahun/kelas 6 SD) jaman sekarang dibiarkan begitu saja menyaksikan tayangan sinetron atau film yang menurut saya tidak mendidik anak untuk menjadi pribadi yang baik kedepannya. Bahkan orang tuanya ikut menyaksikan tayangan sinetron atau film disisi anaknya, seakan tayangan sinetron atau film tersebut boleh di konsumsi oleh anak tersebut,tanpa ada upaya untuk mencegahnya. Mungkin ada usaha mencegah tapi ya anaknya nonton lagi dibiarin lagi aja.

Apa yang anak lihat itu yang akan ia tiru. Jika anak melihat tayangan sinetron atau film yang sudah berbau cinta-cintaan atau pacaran dari ia kecil, maka apa yang ada di mindset anak kecil tersebut adalah bahwa nanti kalo sudah besar kita harus kaya gitu atau boleh kaya gitu (re: pacaran atau jatuh cinta). Dan ‘besar’ disini bukan lagi pada usia ketika sesorang beranjak dewasa, 22 tahun keatas. Tapi ‘besar’ yang disiarkan oleh sinetron dan film yang disaksikan adalah ‘besar’ usia sekolah menengah pertama, bahkan pada saat sekolah dasar. Jika ada orang yang berpikiran ini adalah masalah sepele, hanya untuk hiburan anak, atau hiburan anak biar ia tenang, gak rewel, itu saya rasa salah besar. Cara yang dianggap tepat agar anak tenang dan gak rewel dengan memeberikan atau membiarkan anak melihat tayangan sinetron atau film dengan bumbu percintaan malah akan menjerumuskan anak itu sendiri. Walau sinetron atau film kartun/anime sekalipun.

Jangan salah, tidak semua film-film kartun atau anime layak untuk anak tonton. Saya katakan buanyak banget film kartun/anime yang tidak layak untuk ditonton oleh anak. Misalnya saja film Doraemon Stand By Me yang belum lama ini menjadi perbincangan. Siapa yang tidak tahu doraemon? Robot imut menggemaskan dari masa depan. Namun sayang, Doraemon Stand By Me jika dicermati lebih dalam tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Kenapa? Karena inti cerita dari Doraemon Stand By Me adalah menceritakan tentang masa depan Nobita yang nantinya akan menikah dengan siapa, dan dari dia sekolah SD sudah memikirkan tentang cinta dan nikah. Anak SD macam apa yang dari dia SD sudah memikirkan tentang percintaan dan pernikahan. Yang ada ketika anak nonton film doraemon ini mindsetnya terbentuk bahwa ketika SD nanti si anak sudah harus memikirkan soal percintaan dan pernikahan dari semenjak dia SD. Anak akan meniru apa yang ia lihat. Pembaca mau anaknya dari umur SD sudah memikirkan soal percintaan dan pernikahan bahkan memperjuangkannya sedemikan rupa seperti film yang ia tonton? Saya sih ogah :p. Belum lagi belakangan ada kasus anak SMP yang bunuh diri karena melihat anime yang ada adegan bahwa kematian/bunuh diri akan mendapatkan ketenangan. Pada kasus tersebut meyakinkan kita bahwa tidak semua film kartun atau anime layak ditonton anak dan lemahnya pengawasan orang tua.

Anak kecil jaman sekarang sudah gak asing dengan kata yang namanya pacaran, putus cinta, jadian dan hal-hal yang berkaitan dengan percintaan. Sudah tidak tabu lagi. Padahal pada jaman saya kecil kata pacaran amat sangat jarang dibahas, yang ada sibuk mainan tradisional tahun 90-an. Lebih mirisnya, tidak hanya merusak dari sinetron atau film yang anak lihat, tapi dari lagu yang anak dengar. Lagu-lagu yang harusnya hanya boleh di dengar oleh orang dewasa tapi sekarang bebas didengar oleh anak kecil, sebut saja cabe-cabean, goyang dumang dan lagu-lagu lainnya yang kalau dilihat liriknya itu sangat tidak pantas dinyanyikan oleh anak kecil. Sungguh kasian dan miris anak kecil jaman sekarang.

Hal tersebut kembali lagi kepada keluarga dan orang tua. Orang tua seharusnya sadar akan dampak anaknya kedepan nanti ketika si anak sedari kecil sudah menyaksikan sinetron atau film tentang percintaan, juga lagu yang liriknya sangat tidak layak didengar anak kecil. Saya yakin orang tua jaman sekarang sudah lebih tau dan lebih maju daripada orang tua jaman dahulu. Tapi ternyata orang tua jaman dulu yang kurang memiliki pendidikan yang layak tetapi bisa mengurus anak lebih baik daripada oarang tua jaman sekarang yang sudah memiliki titel pendidikan tinggi.

Seharusnya orang tua sudah mendidik dan membentuk karakter anaknya sedari kecil yang berisikan pengetahuan dan pemahaman sesuai dengan kemampuan si anak. Banyak sekali cara yang dapat digunakan oleh oleh orang tua dalam mendidik dan membentuk karakter anaknya, salah satunya adalah dengan cara menonton film, tapi film yang seperti apa? Tentunya film-film yang berisikan pengetahuan dan pendidikan seperti kisah-kisah nabi, video bagaimana cara berperilaku yang baik, bagaiamana caranya sholat, bagaimana caranya hormat kepada orang tua dan lain-lain. Film dan video tersebut buanyak sekali dan mudah sekali di dapat pada jaman sekarang. Hindari anak menonton sinetron tayangan di televisi, menurut saya tayangan di telivisi hampir seluruhnya tidak layak ditonton oleh anak-anak. Walau menonton film atau video yang memiliki konten pendidikan dan pengetahuan, orang tua pun harus berada disampinya untuk memberikan pemahaman, terutama ibu. Dengan lagu pun orang tua dapat mendidik dan menambah pengetahuan anaknya, tentunya lagi-lagi lagu yang layak untuk didengar oleh anak. Memang dapampaknya belum keliatan ketia si anak kecil, tetapi nanti akan terasa ketika anak dewasa nanti.

Saya belum memiliki anak ataupun berkeluarga. Saya tahu dan paham dalam mendidik anak itu sama sekali tidak mudah. Namun setidaknya saya sudah mempunyai gambaran dan pemahaman harus seperti apa nanti ketika saya memiliki anak dalam mendidik dan membentuk karakter anak agar menajadi pribadi yang lebih baik dari saya. Pendidikan yang utama itu dari sebuah keluarga. Jika sebuah keluarga sudah mendidik dan membentuk anaknya sesuai dengan ajaran agama dan aturan hukum negeri ini. Maka sejahteralah negeri Indonesia ini. Selamat berjuang dalam mendidik dan membentuk karakter anak.