Anak Meniru Apa Yang Ia Lihat

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang anak kecil usia balita memiliki memori otak yang masih sangat amat bagus. Otak anak balita merekam apapun yang ia lihat, ia dengar, ia rasakan melalui sentuhan maupun penciuman. Semua indera yang dimiliki anak balita bekerja mengikuti alur yang ada disekelilingnya. Saya mencoba mengkritik kebiasan anak menonton televisi, film dan sebaginya yang berkaitan dengan indera penglihatan anak. Dan saya menulis dari susut pandang dari apa yang saya lihat dan saya alami baik di lingkungan saya tinggal maupun media sosial.

Sangat disayangkan, anak balita (saya mendefinisakan anak balita usia 2-12 tahun/kelas 6 SD) jaman sekarang dibiarkan begitu saja menyaksikan tayangan sinetron atau film yang menurut saya tidak mendidik anak untuk menjadi pribadi yang baik kedepannya. Bahkan orang tuanya ikut menyaksikan tayangan sinetron atau film disisi anaknya, seakan tayangan sinetron atau film tersebut boleh di konsumsi oleh anak tersebut,tanpa ada upaya untuk mencegahnya. Mungkin ada usaha mencegah tapi ya anaknya nonton lagi dibiarin lagi aja.

Apa yang anak lihat itu yang akan ia tiru. Jika anak melihat tayangan sinetron atau film yang sudah berbau cinta-cintaan atau pacaran dari ia kecil, maka apa yang ada di mindset anak kecil tersebut adalah bahwa nanti kalo sudah besar kita harus kaya gitu atau boleh kaya gitu (re: pacaran atau jatuh cinta). Dan ‘besar’ disini bukan lagi pada usia ketika sesorang beranjak dewasa, 22 tahun keatas. Tapi ‘besar’ yang disiarkan oleh sinetron dan film yang disaksikan adalah ‘besar’ usia sekolah menengah pertama, bahkan pada saat sekolah dasar. Jika ada orang yang berpikiran ini adalah masalah sepele, hanya untuk hiburan anak, atau hiburan anak biar ia tenang, gak rewel, itu saya rasa salah besar. Cara yang dianggap tepat agar anak tenang dan gak rewel dengan memeberikan atau membiarkan anak melihat tayangan sinetron atau film dengan bumbu percintaan malah akan menjerumuskan anak itu sendiri. Walau sinetron atau film kartun/anime sekalipun.

Jangan salah, tidak semua film-film kartun atau anime layak untuk anak tonton. Saya katakan buanyak banget film kartun/anime yang tidak layak untuk ditonton oleh anak. Misalnya saja film Doraemon Stand By Me yang belum lama ini menjadi perbincangan. Siapa yang tidak tahu doraemon? Robot imut menggemaskan dari masa depan. Namun sayang, Doraemon Stand By Me jika dicermati lebih dalam tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Kenapa? Karena inti cerita dari Doraemon Stand By Me adalah menceritakan tentang masa depan Nobita yang nantinya akan menikah dengan siapa, dan dari dia sekolah SD sudah memikirkan tentang cinta dan nikah. Anak SD macam apa yang dari dia SD sudah memikirkan tentang percintaan dan pernikahan. Yang ada ketika anak nonton film doraemon ini mindsetnya terbentuk bahwa ketika SD nanti si anak sudah harus memikirkan soal percintaan dan pernikahan dari semenjak dia SD. Anak akan meniru apa yang ia lihat. Pembaca mau anaknya dari umur SD sudah memikirkan soal percintaan dan pernikahan bahkan memperjuangkannya sedemikan rupa seperti film yang ia tonton? Saya sih ogah :p. Belum lagi belakangan ada kasus anak SMP yang bunuh diri karena melihat anime yang ada adegan bahwa kematian/bunuh diri akan mendapatkan ketenangan. Pada kasus tersebut meyakinkan kita bahwa tidak semua film kartun atau anime layak ditonton anak dan lemahnya pengawasan orang tua.

Anak kecil jaman sekarang sudah gak asing dengan kata yang namanya pacaran, putus cinta, jadian dan hal-hal yang berkaitan dengan percintaan. Sudah tidak tabu lagi. Padahal pada jaman saya kecil kata pacaran amat sangat jarang dibahas, yang ada sibuk mainan tradisional tahun 90-an. Lebih mirisnya, tidak hanya merusak dari sinetron atau film yang anak lihat, tapi dari lagu yang anak dengar. Lagu-lagu yang harusnya hanya boleh di dengar oleh orang dewasa tapi sekarang bebas didengar oleh anak kecil, sebut saja cabe-cabean, goyang dumang dan lagu-lagu lainnya yang kalau dilihat liriknya itu sangat tidak pantas dinyanyikan oleh anak kecil. Sungguh kasian dan miris anak kecil jaman sekarang.

Hal tersebut kembali lagi kepada keluarga dan orang tua. Orang tua seharusnya sadar akan dampak anaknya kedepan nanti ketika si anak sedari kecil sudah menyaksikan sinetron atau film tentang percintaan, juga lagu yang liriknya sangat tidak layak didengar anak kecil. Saya yakin orang tua jaman sekarang sudah lebih tau dan lebih maju daripada orang tua jaman dahulu. Tapi ternyata orang tua jaman dulu yang kurang memiliki pendidikan yang layak tetapi bisa mengurus anak lebih baik daripada oarang tua jaman sekarang yang sudah memiliki titel pendidikan tinggi.

Seharusnya orang tua sudah mendidik dan membentuk karakter anaknya sedari kecil yang berisikan pengetahuan dan pemahaman sesuai dengan kemampuan si anak. Banyak sekali cara yang dapat digunakan oleh oleh orang tua dalam mendidik dan membentuk karakter anaknya, salah satunya adalah dengan cara menonton film, tapi film yang seperti apa? Tentunya film-film yang berisikan pengetahuan dan pendidikan seperti kisah-kisah nabi, video bagaimana cara berperilaku yang baik, bagaiamana caranya sholat, bagaimana caranya hormat kepada orang tua dan lain-lain. Film dan video tersebut buanyak sekali dan mudah sekali di dapat pada jaman sekarang. Hindari anak menonton sinetron tayangan di televisi, menurut saya tayangan di telivisi hampir seluruhnya tidak layak ditonton oleh anak-anak. Walau menonton film atau video yang memiliki konten pendidikan dan pengetahuan, orang tua pun harus berada disampinya untuk memberikan pemahaman, terutama ibu. Dengan lagu pun orang tua dapat mendidik dan menambah pengetahuan anaknya, tentunya lagi-lagi lagu yang layak untuk didengar oleh anak. Memang dapampaknya belum keliatan ketia si anak kecil, tetapi nanti akan terasa ketika anak dewasa nanti.

Saya belum memiliki anak ataupun berkeluarga. Saya tahu dan paham dalam mendidik anak itu sama sekali tidak mudah. Namun setidaknya saya sudah mempunyai gambaran dan pemahaman harus seperti apa nanti ketika saya memiliki anak dalam mendidik dan membentuk karakter anak agar menajadi pribadi yang lebih baik dari saya. Pendidikan yang utama itu dari sebuah keluarga. Jika sebuah keluarga sudah mendidik dan membentuk anaknya sesuai dengan ajaran agama dan aturan hukum negeri ini. Maka sejahteralah negeri Indonesia ini. Selamat berjuang dalam mendidik dan membentuk karakter anak.

Advertisements

One thought on “Anak Meniru Apa Yang Ia Lihat

  1. Pffftttt Anime sekarang lebih parah dari yang dulu om-om yang memperkosa anak SD atau tante-tante mecium anak SD? atau manusia ditebas tubuhnya menjadi 10 bagian? atau ada seorang pedhofilia, sorang anak SD mencium pria dewasa? atau karakter cowok yang mukanya jatuh ke selangkangan cewek atau ke buah dada cewek? peras buah dada cewek, kecelakaan ngintip lagi telanjang../…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s