Bisu

“Tolong, katakan yang sejujurnya, apa yang kamu mau dari aku?” raut mukaku entah harus memelas seperti apa lagi, dan pertanyaan apa lagi yang harus aku lontarkan kepada seseorang yang diam membisu sejak dua jam yang lalu, hanya ada suara detak jantungku yang semakin memburu dan riuh rendah tempat ini.

“Tolong kamu jawab pertanyaan terakahir dari aku ini, apa yang kamu mau dari akau?” tanyaku lembut sedikit gemas.

“Aku hanya mau kamu menikahi aku dalam dua hari kedepan. titik.” Akhirnya yang diajak bicara bersua juga, dengan nada yang penuh penekanan.

“Hanya untuk itu kamu diam selama dua jam ini? Tidak menjawab sepatah kata pun apa yang aku tanyakan kepadamu selama dua jam ini? Bahkan meminum setengguk air pun tidak?” aku mendengus kesal.

“Iya!” bentaknya lebih keras.

Orang-orang sekitar sesekali melirik dari bangku dimana mereka duduk. Mau tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Baik jika itu yang kamu mau, tetapi sayang sekali, aku tidak mau menikahimu!” kataku tegas sambil dan membanting uang diatas piring yang hanya tinggal noda makanan, berlalu pergi.

Dari jauh kudengar, ada suara isak tangis dari tempat aku pergi.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s