Mengagumi Gelombang

Judul Buku       : Gelombang

Penulis             : Dee Lestari

Tahun Terbit     : Oktober 2014

Tebal Buku      : 482 hlm

Harga              : Rp. 79.000

“Namamu Alfa, kan? Nomor satu itu artinya. Kalau kau jadi nomor satu di New York, artinya kau jadi nomor satu di mana pun.”

Petikan percakapan diatas benar adanya. Thomas Alfa Edison, tokoh utama yang akrab disapa Inchon memang menjadi nomor satu dihati para pembacanya. Inchon merupakan panggilan akrab Alfa ketika masih tinggal di Sianjur Mula-Mula, asal-muasal Batak bermula. Menghabiskan masa kecilnya di kampung halaman bernama Sianjur Mula-Mula Alfa menjalani hidupnya seperti kebanyakan orang, tidak ada yang aneh dalam hidupnya. Kondisi kehidupan Alfa mulai berubah ketika ada upacara gondang di kampungnya. Semenjak upacara tersebut Alfa diikuti oleh makhluk halus yang disebut sebagai Si Jaga Portibi, ditambah dengan mimpi buruk yang terus berulang. Alfa tidak pernah menyangka kehidupannya akan penuh kejutan, bahkan kejutannya membuat ia hampir mati karena mimpi yang dialaminya. Mimpi jugalah yang membuat Alfa tahu siapa dia sebenarnya. Tidak hanya itu, pembaca akan dikejutkan dengan kisah Alfa ketika menetap di Amerika sebagai imigran gelap, bagaimana Alfa mulai sadara bahwa mimpi yang mencoba membunuhnya ternyata adalah sebuah petunjuk yang amat sangat penting.

Lagi dan lagi, Dee Lestari membuat sebuah karya yang sangat apik. Sebenarnya saya tidak kaget kalo buku Supernova Gelombang ini akan sangat lezat untuk dinikmati, melihat seluruh buku sebelumnya sukses membuat saya ternganga, tak bisa berkata-kata! Setiap buku memiliki ciri khas yang berbeda-beda, sebut saja PARTIKEL yang semua emosi tercurahkan dalam satu buku, jalan cerita yang membuat saya gigit jari, garuk-garuk kepala, bergumam tidak jelas, dan kegiatan yang saya sendiri bingung bagaimana mengekspresikannya. Atau buku PETIR yang pembawaannya sangat santai banget, mudah dipahami karena memang hampir seluruhnya hal-hal yang kita lakukan atau lihat sehari-hari, terlebih leluconnya bikin perut sakit karena ketawa ngakak.

Pun demikian ketika saya membaca buku Gelombang . Buku kelima dari serial Supernova ini memiliki ciri khas, logat Batak terasa kental ketika menceritakan kehidupan Alfa di Sianjur Mula-Mula. Tanpa perlu di setting terlebih dulu, otak kita langsung mengikuti logat Batak disetiap percakapan yang ada. Ajaib memang, padahal saya orang Betawi. Itulah kelebihan yang dimiliki oleh Dee Lestari, pemilihan diksi yang pas banget, Gelombang membuat saya malas menutup buku atau sekedar menggeser pantat dari atas bangku yang menjadi alas duduk. Penggabungan antara bahasa indonesia dan bahasa inggris pun asik banget, duh gimana ya jelasinnya, pokoknya asik deh, bahasa inggris yang dipake pun mudah dimengerti karena memang kebanyakan bahasa sehari-hari, jadi gak perlu buka kamus lagi.

Karakter yang kuat juga sudah melekat di setiap tokoh imajinasi Dee. Setiap karakter memiliki daya tarik yang berbeda-beda. Dalam Gelombang, Alfa memiliki karakter yang cowok banget, cool, cerdas gak ketolongan—diterima tiga universitas ternama Amerika ditambah meloloskan kedua orang sahabatnya, mempunyai motivasi yang tinggi namun ada jiwa melankolis didalamnya. Percampuran karakter seperti itulah yang membuat setiap tokoh Supernova mempunyai daya pikat yang kuat, yang membuat cewek-cewek penggemar Supernova kepincut sama Bodhi, Kell dan Alfa. Bahkan saya mengkhayal menjadi sosok alfa dikehidupan nyata, hihi. Penamaan setiap tokoh pun disesuaikan dengan karakternya. Dibaliknya terdapat filosofi yang melatarbelakangi mengapa nama itu ada dan begitu penting.

Yak, RISET! Isi buku Supernova ‘mahal’ banget karena risetnya. Supernova bukan cuma kisah imajinatif belaka yang tidak memiliki dasar dan pengetahuan didalamnya. Gelombang membuat saya jadi tahu banyak tentang tidur yang selama ini saya tahu hanya aktivitas merem—mimpi—melek di malam hari. aktivitas tidur dibahas dari sudut medis loh, bukan hanya dari pengalaman belaka saja, ada teori yang mendasarinya. Untuk masalah riset, gak usah ditanya lagi kapasitasnya. Jika tidak percaya, silakan baca dari buku pertama sampai buku keempat.

Tidak ada yang lebih penting dari buku Gelombang ini selain teka-teki yang masih menjadi misteri penggemar Supernova. Gelombang sedikit banyak mengungkap teka-teki lebih terungkap. Namun masih saja belum bisa ditebak. Istilah seperti Peretas, Infiltran dan Sarvara serta penjelasan masing-masing perannya, Asko dan Antarabhava, munculnya Ishtar dikehidupan Alfa, peran Bintang Jatuh yang dikenal sebagai Diva dibuku pertama membuat saya sebagai pembaca makin gregetan. Bukan Dee namanya kalo tidak membuat penggemarnya penasaran, sampe-sampe harus membuat coretan jalan cerita Supernova yang belum juga mendapatkan titik temu, seperti kejadian di akhir buku Gelombang ini:

Sejurus tangan tahu-tahu lewat di depan halaman yang tengah kubaca, mamkasaku kembali menengok ke samping.

                “Kell,” ia memperkenalkan diri.

                “Alfa.” Aku menyambut jabat tangannya.

Sekali lagi, Dee membuat saya gila.

**

Saya pantas menjadi salah satu peserta yang turut serta dalam event Dee’s Coaching Clinic. Saya merupakan penggemar buku, terutama dengan genre novel. Karya-karya Dee Lestari memberikan motivasi yang kuat kepada saya untuk bisa menulis. Event Dee’s Coaching Clinic merupakan kesempatan saya untuk menimba ilmu dari penulis Supernova langsung yang mungkin sulit ditemui diberbagai kesempatan. Di event Dee’s Coaching Clinic saya mau belajar tentang kepenulisan, bagaimana teknik menulis yang baik, mencari ide, menciptakan karakter tokoh yang kuat, bagaiamana riset dilakukan dan hal-hal lain yang saya yakin banyak sekali ilmu dan pengetahuan baru untuk saya dalam menciptakan sebuah karya yang layak untuk dibaca oleh pembaca. Tentunya event Dee’s Coaching Clinic berharap setelahnya muncul bibit-bibit penulis baru yang memiliki kemauan kuat dalam menghasilkan karya tulis yang berkualitas. Dan saya memiliki kemauan yang kuat tersebut. Terima kasih.