Buah Tangan Dee’s Coaching Clinic

IMG-20150405-WA0001

Hari minggu, 5 April 2015 saya berkesempatan menjadi peserta Dee’s Coaching Clinic yang diselenggarakan oleh penerbit Bentang Pustaka. Dee’s Coaching Clinic ini tentunya mengundang narasumber yang jika disebut namanya para penggemar garis kerasnya akan teriak histeris karena karyanya yang fenomenal atau karena tidak sabar menunggu buku pamungkas Supernova IEP (Intelegensi Embun Pagi) yang masih dalam proses penulisan, yak, DEE LESTARI!!

Diawal, Dee menjelaskan tujuan atau latar belakang diselenggarakannya acara ini, Dee banyak sekali mendapatkan banyak pertanyaan dari orang lain khususnya pembaca karyanya mengenai cara atau teknik menulis yang baik agar dapat menghasilkan sebuah buku yang layak dan enak untuk dibaca, pertanyaan masuk dari mana saja, seperti email dan twitter yang tidak akan menjawab banyak pertanyaan sementara pertanyaan tentang kepenulisan semakin bertambah. Dee juga merasa sampai saat ini belum menemukan sebuah buku atau sumber yang dapat menjelaskan dengan sangat detail bagaimana cara menulis yang baik. Saya sendiri pun sangat kesulitan mencari sebuah sumber yang berkaitan dengan teknik kepenulisan baik itu dari cetak maupun acara kepelatihan –yang biasanya harganya cukup mahal, sehingga membuat saya ragu dan tidak tau harus dari mana untuk menulis sebuah buku. Berangkat dari masalah tersebut Dee berinisiasi untuk menyediakan sebuah forum dimana dalam forum tersebut berisikan pertanyaan-pertanyaan yang paling ingin ditanyakan tentang kepenulisan yang menjadi permasalahan orang pada umumnya. Tentunya dengan jumlah orang yang terbatas dan dengan waktu yang lebih panjang agar lebih intensif, tuntas, dan jelas dalam membahas sebuah topik kepenulisan. Untuk itu Dee dan Bentang Pustaka melaksanakan acara Dee’s Coaching Clinic ini di 5 kota.

Banyak sekali pertanyaan yang muncul dari para peserta yang hadir tentang kepenulisan yang memang menjadi masalah saya pribadi dalam menulis. Dalam menulis, tentunya kita harus memiliki persiapan yang matang agar tulisan kita dapat terarah dan mencapai tujuan apa yang mau kita sampaikan. Secara garis besar Dee membagi persiapan dalam menulis menjadi dua;

  1. Konkritkan yang abstrak. Maksudnya adalah kita harus tau apa yang akan kita tulis, karena kebanyakan dari kita apa yang akan kita tulis seringkali hanya numpuk di otak kita sehingga kita tidak tau apa yang mau kita tulis. Kita mau nulis apa? Itu yang pertama kali harus kita ketahui. Dee tidak pernah punya cita-cita menjadi seorang penulis. Tujuan Dee menulis adalah karena pengen bukunya ada di toko buku, selain itu Dee menulis karena pengen baca cerita yang paling pengen dia baca, karena dia cari-cari cerita itu gak ada dibuku mana-mana, kata Dee, daripada bingung harus nyari cerita yang pengen dia baca kesana-kemari yaudah mendiangan gue tulis aja sendiri ceritanya J
  1. Kuantifikasikan yang kualitatif. Apa yang masih menjadi kualitatif (khayalan atau deskripsi panjang lebar) lebih baik di kuantitatifkan menjadi angka yang lebih pasti. Contoh;
  • Menentukan Premis itu adalah DNA-nya sebuah buku atau lebih sederhanya tujuan buku/inti cerita buku yang akan kita tulis apa?
  • Jenisnya apa? Fiksi kah? Nonfiksi kah? Dll
  • Berapa halaman yang mau ditulis? 150 halaman? 200 halaman? 300 halaman? Dst
  • Tahun terbit. Kapan terbitnya? Misalnya kita mau nerbitin buku pas bulan ulang tahun kita januari 2017
  • Bagi yang sudah punya penerbit akan lebih mudah—karena dikejar deadline juga hehe, bagi yang belum sambil nulis sambil nyari penerbit yang cocok dengan isi tulisan kita
  • Lama menulis dalam sehari? 1 jam kah? 2 jam kah? 3 jam kah? Misalnya dalam sehari nulis 2 jam dari jam 04.00-06.00, tentunya harus disiplin waktu
  • Banyak kata dalam sekali menulis. Misalnya tadi kita punya waktu nulis 2 jam/hari, maka berapa kata yang kita tulis dalam 2 jam itu? Kalo dalam hitungan pada saat Dee menjelaskan, kurang lebih 250 kata sehari kita menulis dalam waktu 2 jam. Hanya setengah halaman/hari! Namun jangan setiap hari kita menulis, harus memiliki waktu jeda untuk libur agar otak kita lebih fresh dan gak ngebul 🙂

Itulah beberapa contoh dari mengkuantifikasikan yang kualitatif.

Selanjutnya IDE. Personifikasikan Ide. Saya cukup terkejut ketika Dee mengatakan bahwa ide lah yang mencari kita, bukan kita yang mencari ide. Dee menjelaskan bahwa ide memiliki alamnya sendiri, dan jumlahnya lebih banyak jumlah manusia di alam bumi. Namun sayangnya kita kurang peka terhadap kehadiran ide disekeliling kita. Untuk itu, kita harus menjadikan ide sebagai partner kita, buatlah relationship yang klop! Ide kalo udah klop dengan kita, akan dengan sendirinya datang dan pergi disaat yang tepat. Jadikanlah ide seperti teman kita pada umumnya, misalnya diajak ‘bicara’ dan ‘muasyawarah’ pada saat-saaat tertentu. Itulah ide.

Selanjutnya adalah bagian yang cukup penting dalam menulis, yaitu kerangka cerita. Dee lebih suka menyebutnya Pemetaan Cerita. Sebelumnya sudah disinggung bahwa dalam menulis kita harus mempunyai premis, yaitu tujuan dari cerita itu apa. Dee memberikan gambaran premis itu seperti pulau A dan pulau B. Pulau A sebagai awal dan pulau B sebagai akhir. Nah untuk menuju pulau A ke B tentunya sangat jauh—terutama dalam menulis novel yang tebalnya lebih dari seratus halaman, untuk itu perlu penghubung antara pulau A dan pulau B, yaitu pulau-pulau kecil sebagai jembatan agar cerita sesuai dengan premis dan tidak merambat jauh keluar dari tujuan atau tema.

Dee juga memberikan gambaran dalam membuat pemetaan cerita, yaitu struktur 3 babak. Apa itu struktur 3 babak? Cerita yang kita tulis dibagi menjadi 3 babak;

  • Babak 1 disebut sebagai tesis. Isinya adalah mengenai apa yang terjadi pada dunia karakter/tokoh dalam hidupnya. Jadi dibabak 1 ini, menjelaskan awal mula kehidupan tokoh itu seperti apa. Dibabak 1 ini pula sudah mulai ditumbuhkan konflik yang akan dihadapi oleh si tokoh.
  • Babak 2 disebut sebagai antitesis. Pada babak 2 ini dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu 2A dan 2B. Bagian 2A ke 2B adalah perubahan yang terjadi pada si tokoh/konflik. Pada 2A, si tokoh sudah mengalami konflik dalam hidupnya. 2B, juga berisikan konflik yang terjadi pada si tokoh namun kalo bisa lebih sulit lagi konflik yang dihadapi. Singkatnya pada babak 2 ini adalah perubahan yang seharusnya tidak terjadi pada si tokoh.
  • Babak 3 disebut sebagai sintesis atau solusi. Tentunya berisi mengenai solusi yang dilakukan si tokoh dalam menyelesaikan konflik yang dihadapinya.

Dalam pemetaan cerita, tidak ada patokan struktur yang ‘tok’ harus digunakan dalam menulis, terserah penulis itu sendiri dalam memetakan jalan cerita dalam bentuk seperti apapun, yang jelas cerita dapat terarah dengan baik, karena memang itu tujuan dalam memetakan cerita. Mind mapping bisa juga menjadi pilihan dalam memetakan cerita karena memang mind mapping cukup umum digunakan oleh siapapun dalam memetakan sesuatu. Atau dikombinasikan antara struktur satu dengan lainnya, itu akan lebih bagus lagi.

Pertanyaan tentang riset juga banyak sekali ditanyakan oleh peserta, bukan hanya peserta di kota Jakarta namun juga di kota-kota sebelumnya. Singkatnya, yang dilakukan dalam riset sama seperti yang dilakukan pada umumnya, observasi, wawancara, studi pustaka, gambar, film, dan lain-lain. Namun sebagai catatan, coba cari atau riset sesuatu yang mempunyai cerita unik didalamnya, sesuatu yang mempunyai kisah dibaliknya. Hal itu yang kemudian akan menarik perhatian pembaca.

Dalam membuat karakter atau tokoh, kita harus mengenal karakter apa yang akan kita ciptakan. Karakter yang kita ciptakan tentunya mempunyai keistimewaan dan tentunya mempunyai kelemahan yang membuat orang ingin menjadi seperti si tokoh atau empati terhadap si tokoh. Dan yang paling penting adalah kita harus mempunyai keyakinan dalam menuliskannya.

Itulah beberapa pertanyaan dan penjelasan yang dibahas dalam Dee’s Coaching Clinic Jakarta yang menurut saya cukup penting dalam proses menulis, khususnya penulis pemula seperti saya. Acara ini tambah seru lagi karena kehadiran bintang tamu atau undangan yang juga bertitel sebagai penulis yang sudah tidak asing seperti Trinity, jenny Jusuf, amrazing, Junanto dan lain sebagainya.

Saya mau mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada Bentang Pustaka yang telah memberikan saya kesempatan dalam acara ini dan memang itulah yang saya inginkan J. Tentunya juga kepada narasumber sekaligus penulis favorit saya mbak Dee Lestari atas ilmu menulisnya yang keren banget, untuk motivasi yang saya dan peserta lainnya butuhkan untuk memulai menulis, melahirkan ‘anak jiwa’. Terima kasih, semoga bisa berjumpa lagi di lain kesempatan :).

Advertisements