Bungawan

Edelweis

Colekan kernet di pundakku membuyarkan lamunanku. Aku spontan menengok. Kernet mengulurkan tangannya. Aku langsung mengerti. Kukeluarkan uang 50 ribu rupiah. Dikembalikan 8 ribu rupiah sambil berlalu ke penumpang yang lain. Sekilas aku melihat sekitar. Hampir semua penumpang tertidur dibangkunya masing-masing. Ada raut lelah dibeberapa wajah penumpang. Penumpang laki-laki setengah baya disampingku pun tertidur pulas. Kepalanya turun-naik dibahuku. Bus melaju diatas jalan tol yang ramai lancar. Malam semakin larut. Kulihat arloji yang melingkar ditangan sebelah kiri. Jarum pendek berhenti tepat diangka 12. Rasa kantuk rupanya menghinggapi diriku. Mulutku mulai menguap yang menyebabkan mataku berair. Kepala aku sanderkan dibadan bangku. Mulai mencoba memejamkan mata.

Suara ping berkali-kali membangunkanku dari tidur. Spontan aku membuka layar ponsel. Ada beberapa pesan yang masuk. Aku buka pesan dari Guntur. Menanyakan posisi bus yang aku tumpangi. Aku tidak tahu ini sudah sampai dimana. Aku melihat kearah samping ternyata bapak separuh baya sudah bangun dari tidurnya.

“Permisi pak, mau tanya, terminal Garut berapa lama lagi ya?” tanyaku kepada bapak separuh baya disebelahku.

“Sebentar lagi sampai dek.” Jawabnya singkat. Aku ucapkan terima kasih. Ada rasa ragu dalam hatiku akan jawaban bapak ini. Tapi yasudahlah.

Belum sampai 20 menit, bus sudah memasuki terminal. Jarum jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku melihat sekeliling terminal dari kaca. Ada banyak bus terparkir didalam terminal dengan berbagai macam jenis merek. Aku jadi malu sendiri karena berburuk sangka terhadap bapak separuh baya itu. “Maafkan aku, pak.” Gumamku dalam hati. Penumpang bus mulai turun secara tertib. Sampai diluar bus aku langsung mengambil tas carrierku didalam bagasi. Tentunya atas bantuan kernet bus.

Diluar dugaanku, ternyata terminal ini ramai sekali. Begitu banyak orang-orang yang mau mendaki gunung. Kebanyakan dari mereka berkelompok. Sedangkan aku hanya berdua. Aku berjalan menuju warung makan yang ramai dihinggapi para pendaki. Dibelakang warung ada beberapa pintu kamar mandi—digunakan oleh para pendaki untuk membersihakan diri. Tentunya ada tarifnya untuk menggunakan kamar mandi itu. Buang air kecil atau besar 2 ribu rupiah. Sedangkan mandi 5 ribu rupiah. Persis disamping warung makan ada sebuah musholla. Aku berdiri membelakangi warung. Membuka layar ponsel dan berkirim pesan kepada Guntur perihal keberadaannya.

“Woy anak hilang!” kepalaku dikeplak dari belakang. Aku spontan menengok. Eh, kutukan akan dikeplaknya kepalaku langsung luluh demi melihat Guntur dihadapanku. Entah seperti apa wajah bahagiaku melihat teman lama yang tidak bertemu lebih dari 8 tahun. Pelukan singkat disertai dengan jabat tangan erat membuka pertemuan kami.

“Gila lo, udah berapa abad kita gak ketemu?” kataku mencoba berkelakar. Tawa kami langsung pecah. Aku tidak peduli akan reaksi orang-orang melihat kelakuan kami. Aku terkejut melihat perubahan yang terjadi dengan Guntur. Tubuhnya yang tinggi dan berisi. Rambutnya yang panjang diikat seperti buntut kuda. Warna tubuhnya agak coklat, tidak seputih dulu.

“Gaya lo makin kekinian aja Bung.”

“Yoilah, AGATA gitu loh!” cengirku.

“Apaan tuh?” raut muka Guntur berubah bingung.

“AGATA itu Anak Gaul Jakarta!” tawa kami kembali pecah.

**

Segelas cangkir kopi dan beberapa pisang goreng telah kami lahap. Guntur sudah minum kopi bercangkir-cangkir sebelum aku datang. Hanya sesekali mencomot pisang goreng yang masih hangat. “Jadi kita langsung berangkat sekarang nih?”

“Lah gue mah ikut lo aja. Kan lo yang punya rencana.” Jawabku sambil merogoh kantong celana belakang sebelah kanan untuk mengambil dompet. Tidak ada. Pindah ke kantong sebelah kiri. Aku meraba-raba kanntong kanan dan kiri berulang kali. Tetap tidak ada. Aku mulai panik.

“Eh, dompet gue mana ya?” seruku panik.

“Lah lo tadi taro mana dompetnya?” Guntur ikut panik.

“Gue taruh kantong celana belakang, tapi kok gak ada ya?” aku mendengus. Berusaha mengingat-ingat terakhir menaruh dompet.

“Oh, shit!! Sialan gue kecopetan!” seruku.

“Yang bener lo? Kok bisa? Dimana?” tanya Guntur tak sabaran.

“Gue baru ingat, tadi di bus samping gue bapak separuh baya. Kedalam bus gue cuma bawa ponsel, power bank, headset sama dompet. Carrier taruh dibagasi. Di perjalanan gue lihat si bapak itu tidur pulas. Pas gue tidur, terus bangun, si bapak udah melek. Gue yakin pas gue tidur itu si bapak ambil tuh dompet.” Ceritaku pada Guntur dengan degup jantung yang naik-turun.

“Yakin lo si bapak itu yang ngambil?”

“Yakin gue, orang sebelumnya gue bayar ongkos bus ke kernet dompetnya masih gue pegang kok!” kataku lemes.

“Terus lo masih megang uang?”

Aku mencoba merogoh kantong celan bagian depan. Ada uang 8 ribuan—kembalian ongkos bus dan 2 ribu rupiah—kembalian beli botol air minum. Aku menunjukkan semuanya dihadapan mata Guntur. “Tinggal segini, Gun.” Kataku memelas.

“10 ribu rupiah?” Guntur tidak percaya. Aku hanya mengangguk pelan dengan raut wajah seperti orang kelaparan.

“Ah gila lo, terus lo nanti ongkos pulang pake uang apa? Belum kita ongkos ke pos awal, 2 kali nyewa mobil woy!” Guntur terlihat bingung.

“Ya pake uang lo lah.” Kataku sambil tersenyum. Menepuk pundaknya lalu berlalu pergi. Guntur hanya mematung.

**

Kami sepakat bergegas berangkat menuju pos awal pendakian. Untuk mencapainya, kami harus naik dua kali angkutan. Pertama kami naik mobil angkot yang berukuran tanggung. Cukup untuk mengangkut 15 orang. Karena kami hanya berdua dan untuk menaikinya harus rombongan, maka kami bergabung dengan rombongan lain. Setelah itu kami harus naik mobil lagi. Kali ini mobil jenis losbak. Sesampainya di pos, kami langsung mendaftarkan diri kepada petugas dan membayar uang masuk. Kami harus menyerahkan fotokopi KTP. Untungnya fotokopi KTP tidak aku taruh dalam dompet. Kalau iya, sia-sia perjalananku ini. Setiap rombongan harus ada ketua yang bertanggung jawab. Karena kami hanya berdua, tentulah Guntur yang menjadi ketua.

Sebelum memulai pendakian, Guntur memimpin doa. Tentunya demi kelancaran pendakian kami selamat sampai tujuan, tidak ada hal-hal buruk terjadi menimpa kami. Berdoa membuat kami semangat. Kami langsung bergegas memulai pendakian. Waktu masih menunjukkan jam 4 pagi. masih cukup gelap. Kami mengeluarkan senter sebagai penerang jalan. Jalan yang kami lalui masih berbatuan. Kanan-kiri kami terdapat semak-semak. Sesekali kami berhenti untuk istirahat sejenak. Jalanan yang kami lalui masih berbatuan. Bahkan semakin banyak bongkahan batu yang berukuran besar di pinggir jalan. Tebing terlihat tinggi menjulang. Batu-batu ini ternyata hasil dari meletusnya Gunung Papandayan. Guunung Papandayan memang masih terbilang gunung merapi aktif. Terakhir meletus november tahun 2002 lalu.

Setelah istirahat beberapa menit kami melanjutkan perjalanan. Dan istirahat lagi jika tubuh mulai lelah. Minum beberapa tenggak air. Sesekali berfoto jika menemukan pemandangan yang bagus. Kakiku mulai terasa pegal. Padahal baru jalan sekitar setengah jam. Beban berat yang aku bawa membuat aku cepat lelah. Carrier yang aku gemblok berukuran 70 liter. Cukup berat bagiku sebagai pemula. Guntur terlihat santai tidak ada rasa lelah terlihat di raut wajahnya. Malah ia meledek aku yang terlihat kelelahan.

“Yaelah Bung, baru juga jalan sebentar udah lelah aja.” Ledeknya diikuti gelak tawa. Aku ambil batu semabarangan dijalan dan menimpuknya. Namun ia menghindar dengan cekatan. Aku bernafas secara perlahan. Aku baru tersadar bahwa udara disini cukup dingin. Padahal aku sudah memakai jaket tebal dan beberapa kaos didalamnya, celana gunung panjang , sarung tangan dan sepatu gunung. Tetapi udara dingin masih bisa menyelusup masuk kedalam tubuh.

Diujung, kami melihat sebuah warung gubuk. Aku agak heran kenapa ada warung diketinggian ini. Guntur hanya menyengir. Nanti diatas juga ada lagi, Bung!” seakan Guntur bisa menangkap raut keherananku. Kami mampir di gubuk warung untuk istirahat. Aku sedikit terkejut yang menjual sudah berusia lanjut. Seorang nenek tua. Aku salut, dengan umurnya yang sudah lanjut usia tetapi masih kuat dan semangat dalam mencari nafkah. Guntur memesan teh tawar panas sedangkan aku kopi hitam.

“Sudah berapa lama bu berdagang disini?” sapaku basa-basi.

“Lumayan nak, kurang lebih 40 tahun.” Katanya dengan bahasa Indonesia yang jelas.

“Wow, lama juga ya.” Gumamku.

“Ade baru pertama kali naik gunung?” tanyanya.

“Iya bu, saya baru pertama kali naik gunung, kalo teman saya ini sudah sering.” Jawabku jujur.

“Nak, dalam sebuah perjalanan, buang jauh-jauh rasa angkuh dalam hati. Didepan sana, akan ada banyak tantangan. Hanya orang-orang bermental bajalah yang sanggup melewatinya. Rasa manis akan terasa jika kita mencapai apa yang menjadi tujuan.” Seketika ada keheningan. Entah mengapa si nenek tiba-tiba berbicara seperti itu. Guntur yang mengetahui keadaan yang mulai ganjil langsung mengambil tindakan.

“Jadi semuanya berapa, bu?” katanya cepat sambil berdiri bersiap-siap. Aku mengikutinya patah-patah. Kami bergegas kembali berjalan setelah membayar. Bahkan uang kembalian tidak diambil oleh Guntur.

“Tadi kok si nenek tiba-tiba ngomong begitu ya?” tanyaku penasaran.

“Udah gak usah dipikirin, namanya juga nenek-nenek.” Jawabnya santai. Kata-kata nenek tadi masih terngiang ditelingaku. Aku mencoba melupakan apa yang si nenek katakan tadi. Tidak terasa kami sudah setengah perjalanan. Sudah lebih dari dua jam kami berjalan. Jalanan yang kami lalui tidak lagi berbatuan. Kali ini sudah memasuki pepohonan yang cukup lebat. Jalan setapak menjadi jalur yang kami lalui. Sesekali berpapasan dengan rombongan pendaki lainnya. Saling sapa satu sama lain.

Kabut tebal menyelimuti jalanan yang kami lalui. Jarak pandang kami terbatas. Sekilas awan terlihat mendung. Jalanan yang kami lalui pun sudah mulai cukup sulit. Beberapa kali jalanan naik cukup terjal. Harus berhati-hati sekali aku berjalan. Bahkan sampai agak merangkak untuk menjaga keseimbangan. Benar saja, hujan turun sangat deras. Kami langsung bersiap mengenakan jas hujan yang kami bawa. Jas hujan adalah salah satu barang yang wajib dibawa ketika mendaki gunung. Kami tetap melanjutkan perjalanan. Kami melewati Pondok Saladah. Tempat dimana para pendaki mendirikan tenda untuk bermalam. Banyak sekali tenda yang sudah berdiri tegak. Namun kami tidak mendirikan tenda, perjalanan terus dilanjutkan.

“Didepan sana, kita akan sampai di Hutan Mati, Bung. Lihatlah nanti betapa kerennya Hutan Mati!” mata Guntur berbinar. Aku semakin tidak sabar. Hujan sudah berhenti. Cukup lama hujan turun. Jalanan semakin licin. Kami harus lebih berhati-hati. Tidak lama kami sampai di Hutan Mati. Aku langsung terperangah melihat keindahannya.

“Woohhooo…! Gila keren banget!” aku langsung berseru demi melihat keindahan Hutan Mati. Saking senangnya kau loncat sembarang arah. Guntur hanya tersenyum melihat tingkah lakuku.

Batang pohon tanpa daun bagai kayu yang ditancapi. Berwarna hitam pekat. Tanahnya berkontur agak lembek. Seperti lumpur namun agak berbatuan kecil-kecil. Tercium bau belerang walau tidak begitu pekat. Udara sangat dingin dan sejuk. Walaupun sudah jam setengah 7 pagi, namun langit masih agak buram, tertutup kabut tebal. Kami melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Sekelilingnya bukit-bukit yang diliputi hutan lebat. Kami dapat melihat kawah-kawah dibawah sana. Tempat kami memulai pendakian. Orang dibawah sana begitu kecil. Aku mulai menyadari makna dari naik gunung. Melihat kebesaran Tuhan dan kita bukanlah apa-apa. Begitu kerdilnya manusia dimata alam, apalagi bagi Tuhan. Namun masih banyak manusia yang menyombongkan dirinya. Aku merenung, semakin dalam.

Momen foto-foto pastinya tidak kami lewatkan. Berbagai pose kami lakukan demi mendapatkan foto terbaik. Kami meminta tolong orang lain untuk difoto berdua. Tidak banyak orang-orang berada di Hutan Mati pada saat itu. Puas melihat keindahan Hutan Mati dan pemandangan disekelilingnya, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan yang aku tunggu-tumggu, melihat langsung bunga yang disebut-sebut sebagai bunga abadi, Bunga Edelweis.

**

Jalan menuju Tegal Alum cukup sulit. Beberapa kali harus naik dengan ketinggian curam. Pohon-pohon lebat dengan akar yang menjalar ke jalan menjadi rintangan yang harus kami lewati. Aku sudah mulai kelelahan. Benar-benar kelelahan. Walau sudah istirahat beberapa kali. Kaki mulai terasa sangat pegal. Guntur berjalan di depan dengan cekatan. Tidak ada kulihat rasa lelah di wajahnya. Bahkan udara dingin bukan hambatan baginya. Padahal ia hanya mengenakan kaos tipis, syal melingkar di leher, celana pendek dan sandal gunung. Beberapa kali aku tertinggal cukup jauh. Namun Guntur akan berhenti bila ternyata aku tertinggal. Didepan aku lihat Guntur sedang duduk di akar pohon yang cukup besar.

“Lo gak apa-apa? Masih kuat?” tanyanya kahwatir melihat raut kelelahan diwajahku.

“Tenang, gue masih kuat kok, ayo jalan lagi.” Jawabku menenangkan.

Kami melewati jalan menanjak yang cukup curam. Disampingnya jurang yang diisi pepohonan lebat. Untuk menanjaknya aku harus menggunakan kedua tanganku untuk memanjatnya. Berpegangan kepada akar yang menjalar dijalan. Kaki kanan aku angkat menginjak akar yang berfungsi sebagai pijakan. Mencoba mengangkat beban tubuh. Tapi sial, kakiku terpeleset. Hujan membuat jalanan begitu licin, apalagi jika menanjak. Tanganku ikut terlepas. Kaki kiriku tidak bisa menahan beban tubuh. Aku terperosot kebawah. Disaat yang bersamaan, tali tas carrierku putus. Terlepas dari gemblokanku. Jatuh kedalam jurang. Arraggghh.. aku meringis kesakitan. Kaki kiriku berbenturan dengan akar pohon yang menjalar dijalan. Sialnya akar itu berbentuk lancip. Betisku tepat mengenai akar yang lancip. Sobek cukup dalam. Celana panjangku juga sobek. Ketika menapak pergelangan kakiku terkilir. Aku terjatuh. Meringis kesakitan. Rasa perih menghujam bagai luka yang disiram alkohol. Kulihat darah merembes dicelanaku. Tidak sedikit darah yang menetes ke tanah.

Guntur berteriak histeris melihat aku terkapar dibawah. “Astaga.. Bung!” seraya turun kebawah dengan terburu-buru. Kepanikan semakin menjadi ketika Guntur melihat betisku yang sobek. Tanpa pikir panjang ia langsung mengikat betisku yang sobek dengan syalnya untuk menghentikan darah yang keluar. Memindahkanku agak kepinggir jalan. Aku mencoba menenangkan. Berusaha untuk kuat.

“Tenang gimana? Lo lihat betis lo sobek gini? Darah yang keluar sebanyak ini? Lo suruh gue tenang? Astaga..!” seru Guntur dengan napas yang tersengal. Aku hanya tersenyum sambil menahan rasa sakit. Guntur memberikan air minum kepadaku.

“Seharusnya gue enggak meninggalkan lo dibelakang, Bung.” Katanya merasa bersalah.

“Lo gak salah Gun, emang guenya aja yang kurang hati-hati.” Balasku sambil tersenyum.

“Lo emang sohib gue yang paling-paling dah.” Ucap Guntur seraya meninju pelan ke pundakku.

“Yuk lanjut naik, tanggung sedikit lagi sampai, kan?” aku mencoba bangkit. Agak patah-patah.

“Eh, lo mau kemana? Lanjut keatas?” Guntur mencoba menahan aku untuk bangun. Tapi tanganku mencoba menepis.

“Demi Bunga Edelweis! tinggal beberapa langkah lagi terus gue nyerah gitu aja? Gak akan! Gue gak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin akan menjadi seumur sekali dalam hidup gue lihat Bunga Edelweis secara langsung. Lo tahu kenapa gue ngotot mau lihat tuh bunga? Karena nama gue BUNGAWAN. Lo tahu sendiri dari dulu gue suka bunga. Tidak peduli semua orang bilang gue aneh anak cowok tapi suka bunga. Bunga sudah menjadi bagian dari hidup gue. Bunga Edelweis menjadi tujuan gue ada disini.” Jelasku dengan penuh keyakinan. Guntur hanya diam mencoba mencerna kalimat demi kalimat.

“Jadi kalau lo memang sohib terbaik gue, bawa gue sampe keatas!” tegasku.

**

Selang beberapa menit yang ditunggu tiba. Beberapa orang dari komunitas pendaki gunung yang juga hendak keatas berpapasan dengan kami. Guntur menjelaskan peristiwa yang menimpa diriku sekaligus meminta tolong membantuku untuk sampai keatas, Tegal Alun. Dengan senang hati para pendaki tersebut membantuku untuk bisa sampai ke Tegal Alun. Dengan segudang pengalaman dalam mendaki gunung akhirnya aku sampai di Tegal Alun, tempat dimana Bunga Edelweis tumbuh.

Aku hanya bisa mematung ketika melihat sejauh mata memandang Bunga Edelweis tumbuh dengan sangat indah. Takjub. Kalau saja tidak ingat bahwa kakiku sedang sakit, pastilah ekspresiku akan lebih gila ketika di Hutan Mati. Aku berjalan dengan susah payah menuju ke tangkai Bunga Edelweis yang paling lebat. Warnanya yang putih membuat Bunga Edelweis semakin cantik. Kepala aku tundukan ke Bunga Edelweis. Kucium, meresapinya. Harum bunganya sangat khas. Aku jatuh cinta.

Guntur menepuk-nepuk pundakku seraya mengumbar senyum. Aku berterima kasih sebanyak-banyaknya. Entah bagaimana aku harus membalas budinya. Aku melihat sekitar. Warna bintik-bintik putih sejauh mata memandang. Langit sudah cerah. Sinar mentari pagi menghangatkan tubuh. Mengusap peluh. Aku luluh.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s