Pulang

pulang

Pulang-Tere Liye

Judul Buku   : Pulang

Penulis          : Tere Liye

Tahun Terbit : September 2015

Penerbit         : Republika Penerbit

Tebal Buku   : 400 hlm

Pulang mengisahkan seorang laki-laki bernama Bujang yang tinggal di sebuah kampung pelosok Sumatera. Penduduk kampung tersebut menyebutnya talang. Sejak pertemuan dengan Tauke Muda, teman lama dari bapaknya membuat Bujang tidak kenal definisi takut di dalam hidupnya. Pertemuan itu pula lah yang membuat Bujang hijrah dari kampungnya untuk mengubah hidupnya. Kecerdasannya membuat ia menjadi orang kepercayaan Tauke Muda—mafia shadow economy kelas kakap. Shadow economy sudah menjadi bagian hidupnya. Namun hidup Bujang tidak semulus dengan karirnya. Berbagai peristiwa yang tidak pernah terpikirkan olehnya hadir bertubi-tubi. Kehilangan orang-orang tercinta, permusuhan, terlebih pengkhianatan. Semu itu Bujang lalui dengan darah dan peluh. Satu hal yang dapat mengobati semua perjuangan itu adalah pulang.

Tere Liye kembali hadir dengan novel terbarunya berjudul Pulang Kisah Bujag ditulis dengan apik oleh Tere Liye. Terbukti, baru dua bulan terbit sudah tiga kali cetak ulang. Kredibilitas seorang Tere Liye dalam meramu sebuah novel jangan ditanya lagi. Kelihaian jari-jari Tere Liye membuat novel ini menjadi sangat menarik untuk dibaca. Pemilihan diksi yang tepat membuat novel ini asyik untuk dibaca dan mudah dipahami. Karakter tokohnya sangat kuat sesuai dengan perannya masing-masing.

Dari sisi jalan cerita, sesungguhnya Pulang tidak serumit dan sekompleks novel-novel Tere Liye sebelumnya. Tema dari novel ini menjadi daya tarik, shadow economy. Tidak banyak yang mengangkat tema tentang dunia hitam ini. Tema yang sesungguhnya tidak asing bagi kita, namun tidak banyak yang tahu bagaimana dunia hitam tersebut bekerja secara sistematis dan rapih. Tere Liye berhasil mengajak pembacanya seolah-olah berada di dunia tersebut. Dan yang tak menarik adalah makna yang tersirat di dalam novel ini yang coba Tere Liye sampaikan lewat kisah Bujang.

Ada dua makna tersirat yang saya coba tangkap dari apa yang Tere Liye sampaikan di dalam novel Pulang ini. Pertama adalah takut. Takut merupakan sifat dasar manusia yang tidak dapat dipisahkan. Takut akan kegagalan hidup, takut tidak bisa makan, takut tidak lulus, takut miskin, takut ditolak ketika melamar, takut dirampok, takut dikhianati, takut dalam mempertahankan jiwa raga dan lain sebagainya. Ada saja rasa takut yang menyusup ke dalam diri ketika hendak melakukan sesuatu. Takut terjadi hal-hal buruk ketika menjalani hidup di dunia ini. Pada hakikatnya definisi takut yang sesungguhnya adalah takut terhadap Tuhan. Sayangnya inilah yang terjadi, takut terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan duniawi namun tidak takut terhadap Dzat Sang Pencipta. Kepada Dzat yang telah menciptakannya. Itulah yang terjadi pada Bujang.

Inti kedua dari novel ini terletak pada judulnya, yaitu Pulang. Ya, pulang. Setiap orang mempunya definisi masing-masing pada kata pulang. Sejauh apapun kita pergi, sejauh apa pun kita melangkah maju, sekeras apa pun kita berusaha untuk pergi menjauh, sekuat apa pun kita menahan ego, pada akhirnya kita harus pulang. Secara harfiah, pulang berarti kembali ke tempat dimana kita tinggal, tempat dimana kita tumbuh besar. Secara hakikat, pulang memiliki makna yang sangat dalam, pulang ke arah siapa diri kita yang sesungguhnya. Terlebih, pulang kepada pangkuan Tuhan.

“… Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang…” –Mamak