Ayat-Ayat Cinta 2: Sebuah Penantian Panjang

1455835953745

Judul                        : Ayat-Ayat CInta 2

Penulis                      : Habiburrahman El Shirazy

Tahun Terbit             : November 2015

Penerbit                   : Republika Penerbit

Tebal Halaman           : 690 halaman

 

Kisah ini diawali ketika Fahri Abdullah merantau ke sebuah kota di salah satu negara Eropa, Edinburgh. Fahri yang telah menyelesaikan Ph.D di bidang Filologi di Albert-Ludwigs-Universitat Freiburg, Jerman ini tengah menyelesaikan riset postdoc-nya di The University of Edinburgh.

Kawasan Stoneyhill Grove menjadi pilihan Fahri sebagai tempat tinggal. Hanya ada 11 rumah yang berada di kawasan Stoneyhill Grove. Dengan kekayaan harta yang dimiliki oleh Fahri, tidak heran bahwa rumah yang paling besar di kawasan tersebut adalah milik Fahri. Negara-negara Eropa mayoritas penduduknya beragama Katolik, termasuk di Skotlandia ini. Pun dengan tetangga Fahri di Stoneyhill Grove. Namun ada satu tetangga terdekat Fahri yang beragama Yahudi, yaitu Nenek Catarina.

Di Stoneyhill Grove, Fahri tinggal bersama Paman Hulusi, seorang supir yang sekaligus sebagai khodim atas segala kebutuhan Fahri. Dalam perjalanannya, secara mengejutkan Fahri bertemu dengan Misbah, sahabat lamanya di Hadayek Helwan yang menetap di rumah Fahri selama merampungkan gelar Ph.D. Selain itu, Sabina, seorang pengemis dengan wajah yang buruk rupa di lingkungan masjid Edinburgh nantinya juga akan tinggal di rumah Fahri dan menjadi pembantu atas segala keperluan rumah tersebut.

Mencari keberadaan Aisha. Itulah misi utama Fahri, mencari Aisha, istrinya yang hilang tanpa jejak bersama Alicia ketika berkunjung ke Palestina. Hidup Fahri begitu hampa tanpa kehadiran istri tercintanya itu. Jiwa dan mata Fahri menangis setiap kali teringat Aisha. Aisha sudah lama hilang dan orang-orang sudah menganggap Aisha telah meninggal dunia, seperti nasib temannya Alicia yang tewas mengenaskan. Ketidakhadiran Aisha di sisi Fahri membuat orang-orang disekelilingnya mendesak untuk menikah lagi. Tak tanggung-tanggung, tawaran tersebut datang dari keluarga besarnya di Turki, bahkan dari guru yang sangat disegani ketika di Mesir lalu, Syaikh Utsman. Untuk menghilangkan rasa sedihnya yang berlarut-larut, Fahri menyibukkan dirinya dengan kegiatan akademik dan beberapa bisnis yang dikembangkannya.

Tidak hanya masalah Aisha yang hilang tanpa jejak, Fahri juga mengalami banyak masalah selama menetap di Edinburgh. Demam Islamofobia yang melanda kawasan Eropa membuat komunitas muslim di Eropa yang minoritas merasa tidak aman atas tindakan tidak bertanggung jawab yang menghina Islam. Tak terkecuali Fahri yang terkena imbas Islamofobia, bahkan pelakunya adalah tetangga terdekatnya sendiri. Sudah beberapa kali Fahri mendapatkan penghinaan terhadap Islam yang dilakukan dengan mencorat-coret kaca depan mobilnya dengan menggunakan spidol. Adalah Keira dan Jason, anak dari Nyonya Janet yang merupakan tetangga samping rumah Fahri yang terkena virus Islamofobia. Terlihat dari sikap keduanya yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Fahri, baik dengan sikap maupun perkataan.

Sikap buruk yang dilakukan oleh Keira dan Jason terhadap Fahri tidak membuat dirinya berbuat buruk pula terhadap keduanya. Fahri meyakini sikap buruknya terhadap orang Islam khususnya dirinya adalah karena ketidaktahuan mereka akan Islam yang sesungguhnya dan stigma buruk yang selalu dikaitkan kepada agama Islam. Fahri bertekad untuk merubah sikap buruk tetanggannya tersebut agar sadar bahwa agama Islam adalah agama yang damai,bukan agama yang mengajarkan kekerasan bahkan pembunuhan.

Keramahan Fahri dalam bertetangga membuat Fahri dekat dengan Brenda dan Nenek Catarina, seorag nenek Yahudi yang taat. Kebaikan Fahri terhadap Nenek Catarina bak hubungan nenek dengan cucunya. Bahkan ketika Nenek Catarina sakit, Fahri dan Brenda menaruh simpati yang lebih kepada Nenek Catarina, dibantu oleh Paman Hulusi, Misbah dan Sabina dalam merawat Nenek Catarina. Penindasan yang dilakukan oleh Baruch terhadap Nenek Catarina membuat Fahri tergerak untuk menolongnya. Baruch anak tiri dari Nenek Catarina merasa terganggu akan kehadiran Fahri yang mencampuri masalahnya. Fahri bahkan disebut Amalek oleh Baruch. Amalek yang menurut pemahaman Baruch adalah orang yang harus ditumpas dari muka bumi ini.

Permusushan Fahri dengan Baruch berlanjut sampai kepada forum ilmiah debat di The University of Edinburgh tentang konsep Amalek yang menurut Fahri pemahaman Baruch tentang Amalek sangat berbahaya. Baruch yang dipermarlukan di forum ilmiah tersebut menyimpan dendam kepada Fahri. Pada suatu kesempatan, Baruch yang juga sebagai perwira aktif tentara Zionis Israel hampir mencabut nyawa Fahri dengan keji, namun Sabina dapat menolongnya walau harus dibayar dengan beberapa tusukan yang menancap ditubuh Sabina.

Di lain sisi, karir akademik Fahri semakin cemerlang dan disegani. Sampai pada akhirnya ia ditawari untuk mewakili The University of Edinburgh dalam salah satu forum debat yang paling prestisius di Britania Raya, Oxford Debating Union. Sebuah pencapaian luar biasa. Dalam sejarah Indonesia, Fahri adalah satu-satunya orang yang dapat kesempatan bicara di forum debat tersebut, ditambah kesuksesannya menguasai forum debat tersebut.

Desakan untuk menikah lagi semakin kuat dan sering dialamatkan kepada Fahri. Bersamaan dengan itu, memang ada satu nama yang membuat Fahri berdesir dan teringat akan istrinya Aisha, Hulya. Hulya adalah adik dari mitra bisnisnya Ozan, yang juga masih ada ikatan darah dengan Aisha dari keluarga besar di Turki. Hulya hadir ketika Fahri sedang melakukan pertunjukan biola yang keuntungannya didonasikan untuk anak-anak Palestina di jantung Royal Mile. Konser tersebut juga sebagai ajang latihan Keira yang akan mengikuti kejuraan dunia di Italia. Keira mendapatkan beasiswa untuk mengejar cita-citanya menjadi pemain biola professional dan dilatih oleh Madam Varenka.

Pernikahan Fahri dan Hulya tidak berjalan mulus seperti yang didambakan oleh Hulya. Fahri masih teringat akan istrinya Aisha. Hulya yang hampir putus asa mendapatkan nasihat yang sangat manjur dari Sabina. Nasihat yang dianjurkan oleh Sabina membuahkan hasil, Fahri dan Hulya dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Umar Al Faruq.

Namun lagi dan lagi, nasib kurang baik menimpa Fahri. Setelah kehilangan Maria pada Ayat-ayat Cinta 1 dan Aisha yang tidak jelas kemana perginya, Fahri kembali menelan pil pahit, Hulya meninggal akibat diserang oleh orang jahat yang membuat Hulya sempat koma beberapa hari di rumah sakit. Sebelum ajal menjemput, Hulya berwasiat kepada Fahri. Wasiat yang menurut Fahri sangat berat untuk dijalankan.

Tanpa Fahri sadari, kematian Hulya dan wasiat yang ditinggalkan Hulya ternyata membuka jalannya untuk menemukan Aisha. Istri yang paling dicintainya itu. Aisha yang ternyata sangat dengan dengan dirinya selama ia tinggal di Edinburgh, kota yang paling diimpikan oleh Aisha.

Bagaimana Fahri menemukan Aisha? Kemana Aisha selama ini? Apakah Fahri berhasil merubah mindset Islamofobia Keira dan Jason? Bagaimana Fahri merubah adab bertetangga di Stoneyhill Grove yang terkesan individualis? Wasiat apa yang dipinta oleh Hulya sehingga Fahri merasa keberatan? Bagaimana Fahri menyihir orang-orang pada forum Oxford Debating Union?

Semua pertanyaan yang mengganjal dikepala akan terjawab di novel ini.

**

Kurang lebih sepuluh tahun lamanya penggemar Ayat-Ayat Cinta harus menunggu terbitnya lanjutan novel tersebut. Sebuah penantian panjang. Ya, Ayat-Ayat Cinta 2, novel yang paling ditunggu-tunggu untuk menggenapi rasa penasaran selama ini, bagaiamana kehidupan Fahri setelah menikah dengan Aisha? Dan semua tanya terjawab sudah. Novel setebal 690 halaman ini sukses melepas dahaga para penggemar Ayat-Ayat Cinta yang fenomenal tersebut.

Kehadiran novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini sudah dihembuskan beberapa tahun lalu. Seperti novel pendahulunya, novel ini tidak langsung terbit menjadi sebuah buku, namun terbit dalam bentuk cerbung di Koran Harian Republika pada 5 Januari 2015 tahun lalu. Dikabarkan akan rilis dalam bentuk buku setelah Idul Fitri tetapi ternyata mundur dari rencana. Novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini akhirnya terbit pada bulan November 2015. Antusiasme lahirnya AAC2 ini sangat terasa, dikabarkan, baru beberapa hari terbit novel AAC2 sudah cetak ulang. Sebuah pencapaian yang luar biasa.

Novel serial seperti Ayat-Ayat Cinta 2 ini tidak akan luput dari perbandingan dengan novel pendahulunya Ayat-Ayat Cinta. Berikut adalah beberapa poin yang menjadi perbandingan dengan novel sebelumnya sekaligus sebagai kekuatan dalam novel AAC2 ini:

  1. Karakter Tokoh

Karakter Fahri yang santun, cerdas, penyabar, gigih, dan tentunya romantis tidak hilang sama sekali, padahal sudah berjalan kurang lebih 10 tahun lamanya. Kang Abik menunjukkan konsistensinya dalam menggambarkan tokoh yang sangat detail dan kuat sehingga melekat di otak para pembacanya. Hampir semua tokoh di novel AAC2 ini merupakan tokoh baru, seperti Paman Hulusi, Keira, Jason, Brenda, Nenek Catarina, Sabina, Hulya, Profesor Charlotte, Nyonya Suzan, Madam Varenka dan beberapa tokoh lainnya. Sedangkan tokoh lama yang muncul kembali adalah Misbah, Syaikh Utsman. Beberapa hanya bertemu sesekali seperti Ustadz Jalal, Nurul, Paman Eqbal dan beberapa tokoh lainnya. Karakter tokoh baru pun sangat kuat sehingga pembaca bisa menilai posisinya sebagai apa dalam novel ini.

  1. Setting Tempat

Setting tempat novel AAC2 ini sangat bertolak belakang dengan novel sebelumnya. Jika pada novel AAC setting tempat di Kairo, Mesir, yang kental akan budaya timur dan Islam, maka di novel AAC2 ini setting tempat yang diambil adalah di Eropa, tepatnya Edinburgh. Keindahan dan kerapihan kota di Eropa khususnya Edinburgh sangat tegambar jelas disini. Selain itu, setting tempat mempengaruhi tantangan dakwah yang diemban Fahri. Di Mesir dahulu, Fahri tidak perlu capek-capek menjelaskan apa itu Islam dan ajarannya, hanya memoles beberapa kekeliruan yang terjadi, karena memang mayoritas beragama Islam. Namun di Eropa ini, medan dakwah yang diemban Fahri sangat menantang dan terbilang sulit. Pasalanya Fahri harus berhadapan dengan orang-orang yang salah memandang Islam, bahkan buta sama sekali. Selain itu, tidak hanya berhadapan dengan umat Kristiani yang mayoritas, Fahri juga harus berhadapan dengan orang Yahudi ekstrim yang tinggal di daerahnya. Hal tersebut yang menjadi menarik selain penggambaran keindahan dan kenyamanan kota Edinburgh dan beberapa kota Eropa lainnya.

  1. Konflik

Di atas kertas, novel AAC2 lebih tebal dari pada novel AAC, namun secara konflik yang dialami oleh Fahri, novel Ayat-Ayat Cinta pertama lebih menegangkan dari pada AAC2. Konflik di AAC2 menjadi rumit karena Fahri berurusan dengan berbagai macam tokoh dengan kondisi yang berbeda-beda, hal tersebutlah yang membuat novel ini begitu tebal. Konflik yang paling membekas dan seru adalah ketika Fahri menjadi korban serangan Islamofobia yang dilakukan oleh tetangganya sendiri. Namun konflik yang begitu banyak di novel AAC2 ini pula yang membuat novel ini tidak terasa tebalnya, tiba-tiba udah selesai aja.

  1. Riset

Bagian ini yang paling juara, yak, RISET. Entah bagaimana caranya Kang Abik bisa bikin novel begitu hidup dan seperti nyata, bahkan saya sendiri sampai sekarang menampik bahwa Ayat-Ayat Cinta 1&2 itu adalah fiktif belaka. Riset dalam novel ini sangat terasa dan begitu kuat, seakan-akan Kang Abik adalah warga Edinburgh yang tinggal puluhan tahun. Apa yang digambarkan sangat nyata dan ada seperti aslinya. Beberapa bagian saya browsing untuk membuktikan apa yang digambarkan, benar atau tidak. Salah satunya adalah kawasan Stoneyhill Grove yang digambarkan berbentuk huruf L dan hanya ada 11 rumah. Saya lihat menggunakan Google Earth dan TERNYATA BENERAN ADA. Persis seperti yang digambarkan. Saya juga cari tahu The Kitchin, The Unversity of Edinburgh, Keble College dan lain sebagainya. Semuanya persis apa yang digambarkan Kang Abik. Jangan tanya lagi bagaimana dengan riset materi yang lebih serius dan ‘berat’ seperti konsep Amalek dan perbandingan agama lainnya. Keren parah!

  1. Hikmah

Ini yang paling penting. Hikmah yang didapat dari novel ini buanyak banget. Novel ini kaya banget sih. Beberapa pertanyaan yang mengendap di otak tentang Islam dan materi lainnya terjawab sudah di novel ini. Hikmah atau pelajaran yang didapat dari novel AAC2 ini lebih banyak dari pada di novel AAC. Pengetahuan baru yang saya dapat paling terasa pada saat Fahri berdebat tentang konsep Amalek di The University of Edinburgh dan di Oxford Debating Union tentang cendikiawan yang menganggap bahwa semua agama adalah sama. Selain itu, secara perbuatan, Fahri secara tidak langsung menampar diri saya, Fahri berusaha untuk selalu sholat lima waktu berjamaah di masjid walau rumahnya dengan masjid cukup jauh, sehingga harus ditempuh dengan mengendarai mobil. Sedangkan tidak sedikit umat muslim khususnya saya yang jarak rumahnya dekat dengan masjid enggan untuk sholat berjamaah. Sebuah kebiasaan yang terlihat mudah dan sederhana namun ternyata sulit untuk dijalankan. Masih banyak lagi hikmah yang bisa kita ambil dari novel AAC2 ini.

Novel AAC2 ini sangat relevan dengan kodisi yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Teror di Paris dan di Jakarta membuat umat muslim mendapat sorotan tajam bagi dunia. Seolah-olah, Islam menghalalkan aksi terorisme yang terjadi di seluruh belahan dunia. Imbasnya adalah umat muslim yang tidak bersalah menjadi korban bullying dan kekerasan atas nama agama. Virus Islamofobia semakin luas dan mengakar di beberapa daerah di bumi ini, khususnya di daerah yang minoritas umat muslimnya. Sungguh sangat disayangkan hal tersebut terjadi. Umat muslim dituntut untuk lebih dewasa menyikapi aksi Islamofobia yang marak terjadi, bagaimana kita menyikapi aksi Islamofobia yang menimpa diri kita. Novel AAC2 ini menggambarkan bagaimana sikap kita sebagai muslim menghadapi aksi Islamofobia yang terjadi.

Berbicara kelemahan novel AAC2 ini hanya sedikit yang menjadi catatan saya, ditemukannya beberapa kata yang typo dalam penulisan, yang seharusnya tidak terjadi pada sebuah novel sekelas AAC2 ini. Ceritanya memang agak bertele-tele, walau masih ditolong oleh sturktur cerita yang rapih. Salah satunya adalah Aisha yang seharusnya mudah ditemukan namun dibuat sulit. Sebagian orang sudah dapat menebak jalan cerita. Namun hal tersebut tidak mengurangi ke-apik-an novel ini.

Tidak sedikit orang yang berkomentar sosok Fahri seperti malaikat, baik dari segi sifat, sikap, ucapan maupun perbuatan. Apapun yang dilakukan oleh Fahri pasti berhasil dan sukses. Kedermawanan dan kesabaran Fahri dalam menghadapi masalah yang menimpanya. Tetapi, sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita berperilaku seperti itu. Fahri adalah cerminan seorang muslim sejati. Apa yang dilakukan oleh Fahri nyatanya masih jauh dari apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Saya juga yang termasuk tidak percaya bahwa sosok Fahri ada di dunia nyata, namun Kang Abik dalam tweetnya menyatakan bahwa beliau pernah bertemu orang yang lebih dari Fahri. Saya cukup terkejut dan kagum. Ternyata beneran ada, bahkan melebihi.

Bagi saya novel AAC2 ini bukan hanya sekedar novel, namun berbagai macam buku dengan tema berbeda dijadikan satu. Sederhananya, baca satu buku novel AAC2 kaya baca puluhan buku. Sebuah Novel Pembangun Jiwa. Tagline tersebut menurut saya bukan pajangan belaka, karena setelah membaca novel ini, ada kesadaran dalam diri saya, jiwa saya untuk terus belajar dan berbuat kebaikan. Ada gejolak dalam jiwa. Ini beneran. Saya mencoba untuk tidak berlebihan memuji buku AAC2 ini, tetapi nyatanya memang buku AAC2 sebegitu bagus untuk dibaca. Tidak percaya? Silakan baca bukunya. 🙂

“Hikmah adalah barang yang hilang dari orang beriman, dimana pun orang beriman menemukannya, maka ia paling berhak mengambilnya.” –Ayat-Ayat Cinta 2, hal 392.

Advertisements