Air Mata Yang Bersisian

teard

Aku merangkul tas gemblok dan salah satu tanganku menjinjing tas besar. Melangkah keluar rumah yang sudah disambut oleh beberapa tetangga yang masih ada tali saudara, menyalami satu per satu, yang disalami merapal doa untukku sembari menyelipkan amplop ditanganku. Tidak, aku tidak merasa bahagia terselipnya amplop ditangan, air mata sudah mengambang yang pada akhirnya jatuh dipipi sebelah kanan, hanya satu tetes. Aku mengusapnya, mencoba untuk kuat. Setelah selesai menyalami satu per satu orang yang melepas kepergianku, aku menuju mobil yang sudah siap membawaku ke tempat yang aku sendiri enggan.
**
Sepanjang perjalanan, tidak banyak yang dapat aku lakukan, hanya menatap jalan dan kemungkinan-kemungkinan yang nanti akan terjadi denganku di depan sana. Satu dua teguran atau pertanyaan dari orang-orang di dalam mobil hanya aku jawab singkat. Namun disatu sisi aku mencoba bersikap tenang akan keadaan ini, sekedar memberi sinyal bahwa aku baik-baik saja, seolah tidak ada yang salah dengan keputusan ini.

Perjalanan sekitar 1,5 jam hanya kuhabiskan dengan duduk tenang tanpa banyak cakap dengan orang-orang di dalam mobil. Tak terasa mobil sudah masuk ke dalam gerbang yang nantinya akan menjadi tempat tinggalku, entah berapa lama. Aku tidak berani untuk membayangkannya.
Tak lain dan tak bukan, tempat yang menjadi tujuan aku ini adalah pondok pesantren. Ya, aku akan tinggal di pondok pesantren untuk menuntut ilmu. Tentunya ilmu agama menjadi tujuan utama mengapa saya berada disini. Orang tuaku mempunyai harapan tinggi terhadapku dikirimnya aku ke tempat ini, menjadi alim ulama, ceramah kesana-kemari, menagajarkan kitab-kitab berbahasa arab yang aku saja melihatnya sudah jeri. Ada rasa takut menyelusup ke dalam diriku. Yang paling besar adalah takut tidak menyanggupi harapan dari orang tuaku yang berekspektasi bahwa setiap orang yang lulus dari pondok pesantren akan menjadi orang yang serba bisa dalam hal agama, tentang apapun itu. Secara tidak langsung itu menjadi beban yang ada di pundakku. Orang tuaku memang tidak secara blak-blakkan aku harus jadi ini itu setelah lulus nanti, mereka tahu betul beban psikologis anak kecil yang baru lulus SD sudah pisah dari orang tuanya dan hidup secara mandiri mengurus segala kebutuhan hidup. Mereka hanya mengucapkan, “belajar yang rajin ya de”, atau “yang betah ya de”. Dan aku hanya bisa mengangguk pelan.

Kendaraan yang parkir sudah cukup ramai diwaktu yang masih terbilang pagi ini. Belakangan aku ketahui yang datang lebih pagi adalah mereka-mereka yang berstatus anak baru, datang lebih pagi agar dapat memilih tempat tidur yang anak mau, karena memang semakin sore semakin penuh, orang-orang sudah memilihkan tempat tidur untuk anaknya, jika dateng telat, maka terimalah sisa temapt tidur yang kosong—yang mungkin dianggap kurang ‘strategis’. Mobil sudah terparkir dengan rapih, aku turun membawa tas gemblok ku, dan barang-barang lainnya dibawa oleh kakak-kakakku yang lain. Aku dan keluargaku tidak langsung ke kamar untuk memilih tempat tidur, aku dibawa ke sebuah rumah yang dimana aku memilih perangkat mandi, buku paket, kitab-kitab dan lain sebagainya. Setelah selesai memilih, aku dan keluarga langsung menuju ke kamar yang gedungnya tidak jauh dari rumah tempat aku mengambil peralatan.

Kamar yang aku dan keluarga tuju berada di lantai dua, tangganya cukup sederhana, hanya terbuat dari besi yang anak tangganya berlapis kayu, sehingga jika menaiki anak tangga akan terdengar cukup berisik—bahkan sesekali ada yang iseng menghentakkan kaki dengan keras ketika menaiki anak tangga. Kamar yang menjadi tempat aku tidur kamar nomor satu, persis di sebelah anak tangga, jadi ketika sudah sampai atas dan berjalan lurus di dalam koridor, kamar pertama di sebelah kiri merupakan kamar yang aku tempati, cukup banyak ranjang yang berjajar rapi. Ranjang tempat tidurnya pun atas-bawah, ada yang terbuat dari besi maupun kayu. Aku memilih tempat tidur yang berada di bawah, posisi lemari persis didepan dimana ranjangku berada.

Kakakku yang sudah berpengalaman tinggal di pondok pesantren selama 6 tahun membantu aku merapihkan lemari dan menatanya. Lemari kayu yang terdiri dari 3 lantai dilapisi kertas koran, baru setelah itu diletakan beberapa barang sesuai dengan jenisnya. Aku tidak banyak melakukan apapun, membantu sesekalinya saja. Sisanya aku memperhatikan sekeliling kamar yang sama sekali asing bagiku. Terlihat beberapa orang juga sedang rapih-rapih seperti apa yang aku lakukan, bahkan ada yang sudah selesai merapihkan tempat tidur dan lemarinya. Orang tuaku sibuk berbincang dengan orang tua lainnya yang ada di kamar itu, memperkenalkan aku dengan anak-anak lainnya.

Cukup lama untuk merapihkan sebuah lemari beserta barang-barangnya dan tempat tidur. Sampai matahari sudah agak condong kearah barat, rapih-rapih bisa dikatakan selesai, tinggal beberapa barang yang bisa kurapihkan sendiri nanti. Selebihnya waktu digunakan untuk istirahat dan menikmati lingkungan pondok sampai selepas ashar.
Dan inilah saat dimana aku berpisah.
**
Aku dan keluarga keluar dari kamar setelah pamitan kepada orang-orang yang berada di dalam kamar—kakak kelas yang kebetulan satu kamar dengaku. Orang tuaku ‘menitip’ kepada salah satu senior di pondok yang ternyata rumahnya tidak jauh dari rumahku, namun aku tidak mengenalnya.

Persis di depan kamar, seluruh keluargaku yang mengantarku berpamitan denganku. Satu persatu dari mereka menyalamiku diiringi dengan ucapan doa, “semoga betah ya de”, atau belajar yang rajin ya de, jangan nangis ya..” Ada yang mengacak-acak rambut bahkan menciumiku. Terlebih orang tuaku, ibu. Hanturan doa dan semangat beliau ucapkan dengan sangat lembut, bola matanya memancarkan kebahagiaan, ketegaran, namun aku tidak melihat tatapan kesedihan di dalamnya. Pelukkannya mengalirkan kehangatan, ketenangan. Aku memeluk erat, seakan berkata,”aku tidak mau tinggal disini”. Setelah semua selesai berpamitan, mereka menuruni anak tangga, aku tidak ikut turun kebawah, hanya melihat kepergian mereka dari atas, dari mereka menuruni anak tangga sampai masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil bergerak maju. Dari dalam mobil, kaca mobil dibuka, mereka melambaikan tangan kearahku. Perlahan tapi pasti mobil melaju meninggalkan pondok, dan hilang di kelokan jalan.
Aku merasa aneh, tidak sekalipun air mata menetes jatuh, apalagi menangis sampai merengek. Seperti halnya teman-temanku yang lain ketika keluarganya pulang, mereka nangis sejadi-jadinya, bahkan ada yang berontak meminta pulang. Aku mau nangis tapi tidak bisa. Mungkin aku belum merasakan hidup sendiri, tanpa keluarga disamping.

Betul saja, kala malam datang aku hanya bisa termenung diatas kasur, berpikir tidak menentu. Tak terasa, semakin lama air mati mengalir dari ujung mata, dan semakin lama pula air mata yang mengalir semakin deras. Aku menangis sejadi-jadinya dengan suara lirih.
**
Belakangan aku tahu, pada malam yang sama, ibuku juga menangis.

Gambar diambil disini

Magis Kebo

 

Pengelaman ini terjadi ketika saya masih duduk di tahun pertama di pondok pesantren. Saya masih merasa asing dengan keadaan lingkungan, khususnya lingkungan masyarakat sekitar yang terasa kampungnya, terlihat dari masih banyaknya pohon-pohon besar, rawa-rawa, sawah dan sebagainya.

Hari minggu. Biasanya di hari ini para santri bebas melakukan kegiatan apapun, seperti mencuci pakaian, menjemur kasur, olahraga dan berbagai macam kegiatan lainnya. Hari itu saya bersama teman saya pergi untuk memancing tidak jauh dari pondok saya. Sekitar pukul 9, saya dan keempat teman saya berangkat. Pertama-tama kami pergi ke warung yang merupakan salah satu milik teman saya untuk membeli peralatan pancing sederhana. Iya, teman saya itu mondok walaupun rumahnya hanya berjarak kurang dari 10 menit jika berjalan kaki dari pondok.

Setelah kami membeli dan memasang alat pancing, kami bergegas ke tempat pancingan. Tempatnya itu berada di antara pohon-pohon bambu yang cukup lebat. Bukan empang, hanya seperti kobangan air biasa namun memiliki ikan yang cukup banyak dengan ukuran sedang. Dari tempat mancing, terlihat pondok saya berdiri.

Sebelumya teman saya mengingatkan untuk selalu berzikir, jangan banyak melamun karena memang katanya tempatnya cukup angker. Sesampai dilokasi, kami langsung memasang umpan cacing yang telah kami persiapkan sebelumnya. Suasana begitu sejuk karena angin yang bertiup cukup kencang ditambah dengan pohon-pohonan yang sangat lebat. Ketika kami memancing, ada sekitar 3-4 kebo datang di jarak sekitar 10 meter dari tempat kami memancing. Kebo-kebo itu milik warga sekitar.

Entah perasaan apa yang datang kedalam diri saya, saya merasa salah satu kebo tersebut melihat ke arah saya dengan pandangan yang tidak biasa, cukup lama saya memandanginya. Bulu kuduk saya merinding. Saya bengong. Tidak lama teman saya menyadarkan saya dan mengajak pulang ke pondok. Karena memang kami telah mendapatkan ikan walau tidak banyak. Kami pulang melewati kebo-kebo itu, dan sampai saya lewat kebo itu masih memandangi saya. Namun saya mencoba untuk tidak melihatnya.

Sesampainya di pondok saya masih merasa sehat-sehat saja, tidak ada yang janggal. Namun keesokan harinya, ketika saya bangun dari tidur untuk sholat subuh berjamaah saya merasa badan saya berat sekali, kepala pusing dan badan terasa tidak enak. Saya memutuskan untuk shalat di kamar dan tidak masuk sekolah. Saya pikir sakit saya hanya sebentar saja, namun makin hari-makin parah walaupun saya sudah minum obat yang diberikan dokter pondok. Kakak kelas saya yang memijit kaki yang rasanya amat sangat sakit jika dirasakan oleh orang yang sadar, saya tidak merasakannya sama sekali, bahkan terasa seperti tidak dipijit.

Akhirnya di hari ketiga saya pulang kerumah untuk berobat dan istirahat. Apakah itu akibat magis dari tatapan kebo yang menatap saya?

Wallahu a’alam.

Kau Tetap Yang Terbaik, Guru!

Hari rabu tanggal 12 November 2008 sekitar pukul 02.30

Bulan di malam hari terlihat begitu riang menampakkan wajahnya. Langit gelap, namun sejatinya ufuk timur sudah memberi tanda-tanda memancarkan sinarnya. Angin malam bertiup pelan, seolah meninabobokan siapa saja hingga tertidur pulas di atas kasur, termasuk saya.

Namun kehidupan malam yang begitu tenang tiba-tiba berubah menjadi kesedihan. Ketika tertidur pulas, saya dibangunkan oleh kakak kelas saya, dan saya beberapa kali hanya meng-‘eh pelan tanda malas beranjak dari kasur. Namun kata-kata kakak kelas saya membuat mata saya terbuka lebar bagai mata yang disiram sambal, melek semelek-meleknya. “Hab bangun hab cepet, Pak Sabar udah ngga ada” itulah kalimat yang diucapkan kakak kelas saya yang membuat mata saya melek semelek-meleknya. Begitu pun dengan kakak kelas saya yang tidur di samping ranjang saya, bahkan dia mendadak sewot “ente ngomong apaan mam? jangan sembarangan ente mam kalo ngomong!” cetus kakak kelas saya, Basri namanya.

“Astagfirullah, wallahi ane bas, liat aja noh ke bawah kalo ente gak percaya, udah pada rame dibawah!” ujar Umam. Saya dan kakak kelas saya buru-buru keluar kamar melihat keadaan. Dan benar saja, dirumah Guru saya itu terlihat ramai oleh anak santri lainnya, bahkan guru-guru saya, sofa-sofa pun sudah berada diluar semuanya. Disitu saya langsung lemes, melihat keadaan dari atas di depan kamar. Saya dan teman-teman lainnya yang juga baru terbangun langsung bergegas berganti pakaian dan turun ke bawah, kerumah tengah, rumah Guru saya. Orang-orang biasa menyebutnya rumah tengah atau rumah dinas. karena memang rumahnya terletak di tengah-tengah komplek pondok saya.

Sesampainya dirumah tengah saya tidak langsung mengaji Al-Quran untuk Guru saya itu, karena anak banat (perempuan2) masih ada di dalam membaca Al-Quran. Saya menunggu di luar rumah, menyalami setiap Guru yang ada. Cukup lama saya menunggu, dan sekitar pukul 06.00 saya baru berkesempatan untuk membaca Al-Quran dan surat-surat pilihan. Satu dua tetes air mata jatuh. Menahan untuk tidak semakin banyak yang keluar. Saya melihat wajah Almrhum Guru saya ketika salah seorang sanak keluarga membuka penutup wajahnya, terlihat seperti tidur biasa, tenang. Sempat setelah saya membaca Al-Quran melihat Ibu Usatzah Maesaroh Madsuni, istri dari Guru saya yang meninggal. Ibu, begitu kami memanggilnya. Wajahnya terlihat sangat teguh hampir tidak ada guratan kesedihan yang mendalam.

Hari semakin pagi, matahari mulai menampakkan wajahnya semakin jelas. Orang-orang semakin berduyun-duyun berdatangan. Komplek pondok penuh dengan kendaraan yang parkir. Karangan bunga juga turut menyambut kabar duka.

Waktu zuhur, Almarhum Guru saya disholatkan. Aula Masjid penuh. Bahkan saya pun dapet di shof belakang. Setelah itu dimakamkan. Almarhum dimakamkan masih di dalam lingkungan pondok, tepatnya di depan pintu gerbang kedua. Kurang lebih satu jam proses pemakaman berlangsung. Setelah proses pemakaman berlangsung, entah apa pasal, Ibu menangis. Tak pelak semua pun ikut menangis. Seakan ikut merasakan kesedihan, langit pun menangis, hujan turun membasahi bumi. Semoga menjadi sebuah rahmat dari Allah ketika hujan turun pada waktu itu.

Semakin sore orang-orang yang melayat mulai pulang meninggalkan pondok. Langit masih mendung, awan gelap masih menggantung di langit sisa hujan tadi. Suasana masih terasa sunyi, suara gurauan santri yang biasanya menghiasi sore hari tidak terdengar lagi.

Malam hari datang. Gelap menyelimuti langit pondok. Semakin larut, membuat para santri menguap dan beranjak tidur ke ranjangnya masing-masing. Angin malam seakan mengeloni para santri sehingga tertidur lelap. Sesekali bunyi denyit ranjang besi memecah sunyi ketika anggota tubuh santri bergerak kesana-kemari. jabrah dalam tidur.

Waktu subuh datang. Matahari menyemburatkan sinar fajar di ufuk timur sana. Seruan adzan mewajibkan siapa saja untuk bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh berjamaah di masjid. Sesekali terdengar sayup-sayup sampai suara adzan dari masjid kampung sebelah. Seruan nan indah di subuh hari.

Setelah menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan wirid, seperti biasa Ibu menyampaikan beberapa hal penting. Lesehan di depan mimbar. Tidak hanya informasi penting yang disampaikan, namun kata-kata yang memotivasi juga turut disampaikan, membuat pagi hari saya khususnya menjadi lebih berenergi.

Seperti dugaan saya sebelumnya, Ibu akan menceritakan kronologis atas meninggalnya suami tercinta, Dr. H. Sabaruddin Tain namanya. Benar saja. Ibu menceritakkan detil peristiwa itu. Awalnya cerita berjalan baik, terlihat Ibu begitu tegar, namun apa daya, ketika sampai pada detik-detik kematian almarhum, Ibu menangis, terisak. Saya pun tak kuasa menahan tangis, juga teman-teman banin dan banat yang ada di dalam masjid terdengar lirih. Tanpa diminta, air mata saya semakin mengalir deras. Suasana masjid lirih suara tangis. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Karena berlarut-larut dalam kesedihan itu tidak dianjurkan.

Sebernarnya pada hari selasa tanggal 11 november 2008, Almarhum masih sempat sholat maghrib berjamaah di masjid, saya pun masih sempat bersalaman dengan beliau. Makanya saya tidak percaya bisa secepat itu takdir menjemputnya.

“awalnya sekitar jam 01.30 sampai jam 02.00 Bapak bangun untuk sholat tahajjud. Setelah Bapak sholat baru Ibu sholat. Bapak tiduran di kasur ketika Ibu selesai sholat dan pas Ibu lagi Baca Al-Quran di meja kerja. Disitu Bapak batuk-batuk, trus Ibu ambilin air putih, minum. Ibu duduk duduk lagi baca Al-Quran. Engga lama, tapi ko kaya ada yang ganjil ya,, Bapak diem aja, Ibu coba deketin dan memanggilnya, tapi ko gak nyaut-nyaut. Disitu langsung kepikiran kemana-mana. Ibu langsung manggil bibi-bibi yang biasa masak di dapur. Dan para bibi gak tau harus gimana. Ibu langsung mengontak Dokter yang biasa stay di klinik pondok setiap hari-hari tertentu untuk ke rumah, memeriksa keadaan Bapak. Engga lama dokter bilang Bapak sudah gak ada”

“Sebelumnya Ibu udah tau kalo Bapak udah gak ada, tapi Ibu masih gak percaya kalo Bapak udah pergi. Engga lama juga Ibu udah telpon bang Arif sama Ka Fitri (anak) yang ada di Jakarta untuk langsung kesini.”

“Yang Ibu syukuri, ketika peristiwa itu Ibu ada disampingnya, dan terlebih lagi Bapak meninggal masih dalam keadaan berwudhu, engga lama setelah selesai sholat tahajjud, itu yang Ibu syukuri sama Allah”

Sebelumnya, 5 bulan yang lalu, almarhum kecelakaan mobil, akibat orang yang tidak bertanggungjawab. Beliau mengalami sedikit pecah pembuluh darah di otak, sehingga menyebabkan sedikit hilang ingatan. Dan anehnya kata Ibu, ayat yang masih diingat Bapak adalah surat Ar-Rahman:26 dan Al-kafirun (kalo engga salah inget). Sehingga Almarhum butuh terapi, dan hasilnya sangat berkembang dengan pesat. Dokter memvonis jika di akhir bulan November Almarhum selesai terapi maka bisa dipastikan almarhum sembuh total. Namun apa daya, garis takdir kekuasaan Allah sudah menjemputnya. Ketika ajal menjemput, tidak akan ada yang bisa memundurkannya atau memajukannya. Allah berfirman dalam surat Al-mu’minun:43, “Tidak (dapat) sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu).” 

Sifat Beliau sesuai dengan namanya, Sangat penyabar. Selama beliau menyampaikan materi dalam sebuah pembelajaran hampir tidak pernah sekalipun saya melihat Beliau marah terhadap muridnya, pernah sekali dan itu tidak berlangsung lama. Itu yang saya kagumi dari beliau, tidak pernah marah. Sangat baik, mengerti akan kebutuhan santrinya. Terbuka terhadap santri, pengalaman dan wawasannya sangat luas. Memang ketika beliau menyampaikan sebuah materi pembelajaran seperti Jurnalistik, Tafsir Al-Maroghi, Syarah Al-Hikam, sedikit materi yang disampaikan, namun sangat jelas dan rinci, mudah dipahami. Saya salah satu dari 4 orang anggota belajar kelompok Al-Quran setiap Ba’da maghrib oleh Beliau, metode yang diterapkan sangat menarik dan selalu ada rewardnya ketika kita bisa menyelesaikan apa yang diperintahkan, walaupun itu hanya sebungkus permen atau sisa air minumnya, itu reward yang sangat ditunggu-tunggu, meminum air sisa Beliau.

Beliau sangat mengidolakan Buya Hamka, yang kebetulan juga Beliau kelahiran Padang. Beliau salah seorang perintis “Majalah Aku Anak Salaeh” yang saat ini bisa dikatakan majalah wajib TKIT, karena hampir seluruh TKIT di Jabodetabek bahkan Indonesia menggunakan majalah tersebut. Beliau juga penulis    buku komik, yang ditulis mengenai Tokoh-tokoh Islam, Indonesia bahkan Tokoh-tokoh dunia yang berpengaruh

Saya mohon kepada para pembaca untuk sejenak meluangkan waktunya, mengirimkan surat Al-Fatihah     kepada beliau Almarhum Dr. H. Sabaruddin bin Datuk Tain, agar diterima disisi-NYA. Amin

Syukron katsiron..