Hormat Kami Padamu

Lampu pijar itu ibarat dirimu
Tak pernah berhenti menyala
Menerangi setiap sudut ruang
Tak peduli gelap pekat mengahalangi pandangan

Kau pelopor perubahan paradigma pendidikan
Sadar akan kemajuan bangsa ini
Tak peduli halang rintang mengahdang
Kau sebar ilmu yang kau dapat dari negeri orang
Tanpa pernah mengeluh
Walau peluh menetes di pijakan bumi

Bapak teknologi pendidikan
Begitu orang diluar sana memanggilmu
Terbukti dengan dedikasi tinggi tanpa henti
Membuat perubahan di dalam negeri

Usia senja tak menjadi soal untuk berjuang
Kau terbang dari satu tempat ke tempat lain
Menebar ilmu pada khayalak ramai
Menyuntikkan energi positif pendidkian
Kepada pemimpin masa depan

Kau selalu datang tepat waktu
Bahkan sebelum mentari memancarkan sinar pagi dengan sempurna
Kau duduk di kursi panjang
Menunggu daun pintu kantor yang masih terkunci
Menunggu Kami

Tegas
Itulah kata yang menggambarkan dirimu
Ketika Kami menyerap ilmu darimu
Kau meruntuhkan paradigma kolot yang tertanam dalam pikiran Kami
Namun Kau dapat mencairkan suasana
Gelak tawa yang terngiang di dalam kelas
Bahkan kau membawa buah tangan khas daerah yang Kau singgahi
Untuk dinikmati oleh Kami
‘Berikan kepada teman-teman sekelas’,
Katamu

Tak cukup sampai disitu,
Kau tulis ilmu dengan pena
Yang menjadi saksi sejarah bisu

Terima kasih atas jasamu
Yang hanya terbalas diatas kertas
Bertekad melanjutkan perjuanganmu

Hormat Kami,
Padamu

Puisi ini di dedikasikan untuk Dosen Kami tercinta, Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc. pada ulang tahunnya yang ke-80

Wahab Kamal
Jakarta, 23 Maret 2014

Laki-laki Pemanggul Goni

Image

 

ketika fajar datang

dia sudah berdiri di daun pintu

bersiap menjemput takdir

setelah memuji-Nya

sujud bersimpuh

 

dia berjalan dengan tegak

membuang rasa rendah diri

menyusuri jalan

mengais apa saja yang bernilai

sambil memanggul kantung rezeki:

berwarna coklat, lusuh, berserat

karung goni

 

laki-laki pemanggul goni

begitu orang-orang memanggilnya

memanggul tanpa pernah kenal lelah

demi menyumpal perut yang teriak kelaparan

 

sesekali berteduh

sekedar menyeka peluh

menenggak seteguk air

penghilang dahaga

 

laki-laki pemanggul goni

 

rasa syukur dia ucapkan

atas apa yang diberikan

Raja Semesta kepadanya

semburat cakrawala

bertengger di kaki langit

sebuah pertanda

dia harus pulang

 

* Judul diambil dari sebuah cerpen karya Budi Darma

** Gambar diambil disini

 

Jakarta, 21-08-2013

 

 

Rasa Rindu

Pernahkah Anda sekalian memendam rasa? Hmm… rasa kagum, suka, bahkan cinta? Kita terkadang suka mengelak mengenai perasaan, namun hati kecil sulit sekali dibohongi. Ini merupakan sebuah puisi yang saya buat pada hari sabtu tanggal 30 Oktober 2010. Let’s cekidot…

Rasa Rindu

Aku tak tahu rasa apa ini
tiba-tiba datang
mengisi hatiku
memandangnya
menyejukkan hati
selalu mengalir dihati
terekam tak pernah mati

aku tak tahu rasa apa ini
namanya hadir dalam pikiran
terbesit hanya satu nama

aku mengelak
tetapi hati kecilku
berkata bohong tidak

aku tak tahu siapa dia
orang yang menarik hatiku
rasa rindu,
mengalir tiada henti
mengisi energi di dalam hati