Ayat-Ayat Cinta 2: Sebuah Penantian Panjang

1455835953745

Judul                        : Ayat-Ayat CInta 2

Penulis                      : Habiburrahman El Shirazy

Tahun Terbit             : November 2015

Penerbit                   : Republika Penerbit

Tebal Halaman           : 690 halaman

 

Kisah ini diawali ketika Fahri Abdullah merantau ke sebuah kota di salah satu negara Eropa, Edinburgh. Fahri yang telah menyelesaikan Ph.D di bidang Filologi di Albert-Ludwigs-Universitat Freiburg, Jerman ini tengah menyelesaikan riset postdoc-nya di The University of Edinburgh.

Kawasan Stoneyhill Grove menjadi pilihan Fahri sebagai tempat tinggal. Hanya ada 11 rumah yang berada di kawasan Stoneyhill Grove. Dengan kekayaan harta yang dimiliki oleh Fahri, tidak heran bahwa rumah yang paling besar di kawasan tersebut adalah milik Fahri. Negara-negara Eropa mayoritas penduduknya beragama Katolik, termasuk di Skotlandia ini. Pun dengan tetangga Fahri di Stoneyhill Grove. Namun ada satu tetangga terdekat Fahri yang beragama Yahudi, yaitu Nenek Catarina.

Di Stoneyhill Grove, Fahri tinggal bersama Paman Hulusi, seorang supir yang sekaligus sebagai khodim atas segala kebutuhan Fahri. Dalam perjalanannya, secara mengejutkan Fahri bertemu dengan Misbah, sahabat lamanya di Hadayek Helwan yang menetap di rumah Fahri selama merampungkan gelar Ph.D. Selain itu, Sabina, seorang pengemis dengan wajah yang buruk rupa di lingkungan masjid Edinburgh nantinya juga akan tinggal di rumah Fahri dan menjadi pembantu atas segala keperluan rumah tersebut.

Mencari keberadaan Aisha. Itulah misi utama Fahri, mencari Aisha, istrinya yang hilang tanpa jejak bersama Alicia ketika berkunjung ke Palestina. Hidup Fahri begitu hampa tanpa kehadiran istri tercintanya itu. Jiwa dan mata Fahri menangis setiap kali teringat Aisha. Aisha sudah lama hilang dan orang-orang sudah menganggap Aisha telah meninggal dunia, seperti nasib temannya Alicia yang tewas mengenaskan. Ketidakhadiran Aisha di sisi Fahri membuat orang-orang disekelilingnya mendesak untuk menikah lagi. Tak tanggung-tanggung, tawaran tersebut datang dari keluarga besarnya di Turki, bahkan dari guru yang sangat disegani ketika di Mesir lalu, Syaikh Utsman. Untuk menghilangkan rasa sedihnya yang berlarut-larut, Fahri menyibukkan dirinya dengan kegiatan akademik dan beberapa bisnis yang dikembangkannya.

Tidak hanya masalah Aisha yang hilang tanpa jejak, Fahri juga mengalami banyak masalah selama menetap di Edinburgh. Demam Islamofobia yang melanda kawasan Eropa membuat komunitas muslim di Eropa yang minoritas merasa tidak aman atas tindakan tidak bertanggung jawab yang menghina Islam. Tak terkecuali Fahri yang terkena imbas Islamofobia, bahkan pelakunya adalah tetangga terdekatnya sendiri. Sudah beberapa kali Fahri mendapatkan penghinaan terhadap Islam yang dilakukan dengan mencorat-coret kaca depan mobilnya dengan menggunakan spidol. Adalah Keira dan Jason, anak dari Nyonya Janet yang merupakan tetangga samping rumah Fahri yang terkena virus Islamofobia. Terlihat dari sikap keduanya yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Fahri, baik dengan sikap maupun perkataan.

Sikap buruk yang dilakukan oleh Keira dan Jason terhadap Fahri tidak membuat dirinya berbuat buruk pula terhadap keduanya. Fahri meyakini sikap buruknya terhadap orang Islam khususnya dirinya adalah karena ketidaktahuan mereka akan Islam yang sesungguhnya dan stigma buruk yang selalu dikaitkan kepada agama Islam. Fahri bertekad untuk merubah sikap buruk tetanggannya tersebut agar sadar bahwa agama Islam adalah agama yang damai,bukan agama yang mengajarkan kekerasan bahkan pembunuhan.

Keramahan Fahri dalam bertetangga membuat Fahri dekat dengan Brenda dan Nenek Catarina, seorag nenek Yahudi yang taat. Kebaikan Fahri terhadap Nenek Catarina bak hubungan nenek dengan cucunya. Bahkan ketika Nenek Catarina sakit, Fahri dan Brenda menaruh simpati yang lebih kepada Nenek Catarina, dibantu oleh Paman Hulusi, Misbah dan Sabina dalam merawat Nenek Catarina. Penindasan yang dilakukan oleh Baruch terhadap Nenek Catarina membuat Fahri tergerak untuk menolongnya. Baruch anak tiri dari Nenek Catarina merasa terganggu akan kehadiran Fahri yang mencampuri masalahnya. Fahri bahkan disebut Amalek oleh Baruch. Amalek yang menurut pemahaman Baruch adalah orang yang harus ditumpas dari muka bumi ini.

Permusushan Fahri dengan Baruch berlanjut sampai kepada forum ilmiah debat di The University of Edinburgh tentang konsep Amalek yang menurut Fahri pemahaman Baruch tentang Amalek sangat berbahaya. Baruch yang dipermarlukan di forum ilmiah tersebut menyimpan dendam kepada Fahri. Pada suatu kesempatan, Baruch yang juga sebagai perwira aktif tentara Zionis Israel hampir mencabut nyawa Fahri dengan keji, namun Sabina dapat menolongnya walau harus dibayar dengan beberapa tusukan yang menancap ditubuh Sabina.

Di lain sisi, karir akademik Fahri semakin cemerlang dan disegani. Sampai pada akhirnya ia ditawari untuk mewakili The University of Edinburgh dalam salah satu forum debat yang paling prestisius di Britania Raya, Oxford Debating Union. Sebuah pencapaian luar biasa. Dalam sejarah Indonesia, Fahri adalah satu-satunya orang yang dapat kesempatan bicara di forum debat tersebut, ditambah kesuksesannya menguasai forum debat tersebut.

Desakan untuk menikah lagi semakin kuat dan sering dialamatkan kepada Fahri. Bersamaan dengan itu, memang ada satu nama yang membuat Fahri berdesir dan teringat akan istrinya Aisha, Hulya. Hulya adalah adik dari mitra bisnisnya Ozan, yang juga masih ada ikatan darah dengan Aisha dari keluarga besar di Turki. Hulya hadir ketika Fahri sedang melakukan pertunjukan biola yang keuntungannya didonasikan untuk anak-anak Palestina di jantung Royal Mile. Konser tersebut juga sebagai ajang latihan Keira yang akan mengikuti kejuraan dunia di Italia. Keira mendapatkan beasiswa untuk mengejar cita-citanya menjadi pemain biola professional dan dilatih oleh Madam Varenka.

Pernikahan Fahri dan Hulya tidak berjalan mulus seperti yang didambakan oleh Hulya. Fahri masih teringat akan istrinya Aisha. Hulya yang hampir putus asa mendapatkan nasihat yang sangat manjur dari Sabina. Nasihat yang dianjurkan oleh Sabina membuahkan hasil, Fahri dan Hulya dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Umar Al Faruq.

Namun lagi dan lagi, nasib kurang baik menimpa Fahri. Setelah kehilangan Maria pada Ayat-ayat Cinta 1 dan Aisha yang tidak jelas kemana perginya, Fahri kembali menelan pil pahit, Hulya meninggal akibat diserang oleh orang jahat yang membuat Hulya sempat koma beberapa hari di rumah sakit. Sebelum ajal menjemput, Hulya berwasiat kepada Fahri. Wasiat yang menurut Fahri sangat berat untuk dijalankan.

Tanpa Fahri sadari, kematian Hulya dan wasiat yang ditinggalkan Hulya ternyata membuka jalannya untuk menemukan Aisha. Istri yang paling dicintainya itu. Aisha yang ternyata sangat dengan dengan dirinya selama ia tinggal di Edinburgh, kota yang paling diimpikan oleh Aisha.

Bagaimana Fahri menemukan Aisha? Kemana Aisha selama ini? Apakah Fahri berhasil merubah mindset Islamofobia Keira dan Jason? Bagaimana Fahri merubah adab bertetangga di Stoneyhill Grove yang terkesan individualis? Wasiat apa yang dipinta oleh Hulya sehingga Fahri merasa keberatan? Bagaimana Fahri menyihir orang-orang pada forum Oxford Debating Union?

Semua pertanyaan yang mengganjal dikepala akan terjawab di novel ini.

**

Kurang lebih sepuluh tahun lamanya penggemar Ayat-Ayat Cinta harus menunggu terbitnya lanjutan novel tersebut. Sebuah penantian panjang. Ya, Ayat-Ayat Cinta 2, novel yang paling ditunggu-tunggu untuk menggenapi rasa penasaran selama ini, bagaiamana kehidupan Fahri setelah menikah dengan Aisha? Dan semua tanya terjawab sudah. Novel setebal 690 halaman ini sukses melepas dahaga para penggemar Ayat-Ayat Cinta yang fenomenal tersebut.

Kehadiran novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini sudah dihembuskan beberapa tahun lalu. Seperti novel pendahulunya, novel ini tidak langsung terbit menjadi sebuah buku, namun terbit dalam bentuk cerbung di Koran Harian Republika pada 5 Januari 2015 tahun lalu. Dikabarkan akan rilis dalam bentuk buku setelah Idul Fitri tetapi ternyata mundur dari rencana. Novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini akhirnya terbit pada bulan November 2015. Antusiasme lahirnya AAC2 ini sangat terasa, dikabarkan, baru beberapa hari terbit novel AAC2 sudah cetak ulang. Sebuah pencapaian yang luar biasa.

Novel serial seperti Ayat-Ayat Cinta 2 ini tidak akan luput dari perbandingan dengan novel pendahulunya Ayat-Ayat Cinta. Berikut adalah beberapa poin yang menjadi perbandingan dengan novel sebelumnya sekaligus sebagai kekuatan dalam novel AAC2 ini:

  1. Karakter Tokoh

Karakter Fahri yang santun, cerdas, penyabar, gigih, dan tentunya romantis tidak hilang sama sekali, padahal sudah berjalan kurang lebih 10 tahun lamanya. Kang Abik menunjukkan konsistensinya dalam menggambarkan tokoh yang sangat detail dan kuat sehingga melekat di otak para pembacanya. Hampir semua tokoh di novel AAC2 ini merupakan tokoh baru, seperti Paman Hulusi, Keira, Jason, Brenda, Nenek Catarina, Sabina, Hulya, Profesor Charlotte, Nyonya Suzan, Madam Varenka dan beberapa tokoh lainnya. Sedangkan tokoh lama yang muncul kembali adalah Misbah, Syaikh Utsman. Beberapa hanya bertemu sesekali seperti Ustadz Jalal, Nurul, Paman Eqbal dan beberapa tokoh lainnya. Karakter tokoh baru pun sangat kuat sehingga pembaca bisa menilai posisinya sebagai apa dalam novel ini.

  1. Setting Tempat

Setting tempat novel AAC2 ini sangat bertolak belakang dengan novel sebelumnya. Jika pada novel AAC setting tempat di Kairo, Mesir, yang kental akan budaya timur dan Islam, maka di novel AAC2 ini setting tempat yang diambil adalah di Eropa, tepatnya Edinburgh. Keindahan dan kerapihan kota di Eropa khususnya Edinburgh sangat tegambar jelas disini. Selain itu, setting tempat mempengaruhi tantangan dakwah yang diemban Fahri. Di Mesir dahulu, Fahri tidak perlu capek-capek menjelaskan apa itu Islam dan ajarannya, hanya memoles beberapa kekeliruan yang terjadi, karena memang mayoritas beragama Islam. Namun di Eropa ini, medan dakwah yang diemban Fahri sangat menantang dan terbilang sulit. Pasalanya Fahri harus berhadapan dengan orang-orang yang salah memandang Islam, bahkan buta sama sekali. Selain itu, tidak hanya berhadapan dengan umat Kristiani yang mayoritas, Fahri juga harus berhadapan dengan orang Yahudi ekstrim yang tinggal di daerahnya. Hal tersebut yang menjadi menarik selain penggambaran keindahan dan kenyamanan kota Edinburgh dan beberapa kota Eropa lainnya.

  1. Konflik

Di atas kertas, novel AAC2 lebih tebal dari pada novel AAC, namun secara konflik yang dialami oleh Fahri, novel Ayat-Ayat Cinta pertama lebih menegangkan dari pada AAC2. Konflik di AAC2 menjadi rumit karena Fahri berurusan dengan berbagai macam tokoh dengan kondisi yang berbeda-beda, hal tersebutlah yang membuat novel ini begitu tebal. Konflik yang paling membekas dan seru adalah ketika Fahri menjadi korban serangan Islamofobia yang dilakukan oleh tetangganya sendiri. Namun konflik yang begitu banyak di novel AAC2 ini pula yang membuat novel ini tidak terasa tebalnya, tiba-tiba udah selesai aja.

  1. Riset

Bagian ini yang paling juara, yak, RISET. Entah bagaimana caranya Kang Abik bisa bikin novel begitu hidup dan seperti nyata, bahkan saya sendiri sampai sekarang menampik bahwa Ayat-Ayat Cinta 1&2 itu adalah fiktif belaka. Riset dalam novel ini sangat terasa dan begitu kuat, seakan-akan Kang Abik adalah warga Edinburgh yang tinggal puluhan tahun. Apa yang digambarkan sangat nyata dan ada seperti aslinya. Beberapa bagian saya browsing untuk membuktikan apa yang digambarkan, benar atau tidak. Salah satunya adalah kawasan Stoneyhill Grove yang digambarkan berbentuk huruf L dan hanya ada 11 rumah. Saya lihat menggunakan Google Earth dan TERNYATA BENERAN ADA. Persis seperti yang digambarkan. Saya juga cari tahu The Kitchin, The Unversity of Edinburgh, Keble College dan lain sebagainya. Semuanya persis apa yang digambarkan Kang Abik. Jangan tanya lagi bagaimana dengan riset materi yang lebih serius dan ‘berat’ seperti konsep Amalek dan perbandingan agama lainnya. Keren parah!

  1. Hikmah

Ini yang paling penting. Hikmah yang didapat dari novel ini buanyak banget. Novel ini kaya banget sih. Beberapa pertanyaan yang mengendap di otak tentang Islam dan materi lainnya terjawab sudah di novel ini. Hikmah atau pelajaran yang didapat dari novel AAC2 ini lebih banyak dari pada di novel AAC. Pengetahuan baru yang saya dapat paling terasa pada saat Fahri berdebat tentang konsep Amalek di The University of Edinburgh dan di Oxford Debating Union tentang cendikiawan yang menganggap bahwa semua agama adalah sama. Selain itu, secara perbuatan, Fahri secara tidak langsung menampar diri saya, Fahri berusaha untuk selalu sholat lima waktu berjamaah di masjid walau rumahnya dengan masjid cukup jauh, sehingga harus ditempuh dengan mengendarai mobil. Sedangkan tidak sedikit umat muslim khususnya saya yang jarak rumahnya dekat dengan masjid enggan untuk sholat berjamaah. Sebuah kebiasaan yang terlihat mudah dan sederhana namun ternyata sulit untuk dijalankan. Masih banyak lagi hikmah yang bisa kita ambil dari novel AAC2 ini.

Novel AAC2 ini sangat relevan dengan kodisi yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Teror di Paris dan di Jakarta membuat umat muslim mendapat sorotan tajam bagi dunia. Seolah-olah, Islam menghalalkan aksi terorisme yang terjadi di seluruh belahan dunia. Imbasnya adalah umat muslim yang tidak bersalah menjadi korban bullying dan kekerasan atas nama agama. Virus Islamofobia semakin luas dan mengakar di beberapa daerah di bumi ini, khususnya di daerah yang minoritas umat muslimnya. Sungguh sangat disayangkan hal tersebut terjadi. Umat muslim dituntut untuk lebih dewasa menyikapi aksi Islamofobia yang marak terjadi, bagaimana kita menyikapi aksi Islamofobia yang menimpa diri kita. Novel AAC2 ini menggambarkan bagaimana sikap kita sebagai muslim menghadapi aksi Islamofobia yang terjadi.

Berbicara kelemahan novel AAC2 ini hanya sedikit yang menjadi catatan saya, ditemukannya beberapa kata yang typo dalam penulisan, yang seharusnya tidak terjadi pada sebuah novel sekelas AAC2 ini. Ceritanya memang agak bertele-tele, walau masih ditolong oleh sturktur cerita yang rapih. Salah satunya adalah Aisha yang seharusnya mudah ditemukan namun dibuat sulit. Sebagian orang sudah dapat menebak jalan cerita. Namun hal tersebut tidak mengurangi ke-apik-an novel ini.

Tidak sedikit orang yang berkomentar sosok Fahri seperti malaikat, baik dari segi sifat, sikap, ucapan maupun perbuatan. Apapun yang dilakukan oleh Fahri pasti berhasil dan sukses. Kedermawanan dan kesabaran Fahri dalam menghadapi masalah yang menimpanya. Tetapi, sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita berperilaku seperti itu. Fahri adalah cerminan seorang muslim sejati. Apa yang dilakukan oleh Fahri nyatanya masih jauh dari apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Saya juga yang termasuk tidak percaya bahwa sosok Fahri ada di dunia nyata, namun Kang Abik dalam tweetnya menyatakan bahwa beliau pernah bertemu orang yang lebih dari Fahri. Saya cukup terkejut dan kagum. Ternyata beneran ada, bahkan melebihi.

Bagi saya novel AAC2 ini bukan hanya sekedar novel, namun berbagai macam buku dengan tema berbeda dijadikan satu. Sederhananya, baca satu buku novel AAC2 kaya baca puluhan buku. Sebuah Novel Pembangun Jiwa. Tagline tersebut menurut saya bukan pajangan belaka, karena setelah membaca novel ini, ada kesadaran dalam diri saya, jiwa saya untuk terus belajar dan berbuat kebaikan. Ada gejolak dalam jiwa. Ini beneran. Saya mencoba untuk tidak berlebihan memuji buku AAC2 ini, tetapi nyatanya memang buku AAC2 sebegitu bagus untuk dibaca. Tidak percaya? Silakan baca bukunya. 🙂

“Hikmah adalah barang yang hilang dari orang beriman, dimana pun orang beriman menemukannya, maka ia paling berhak mengambilnya.” –Ayat-Ayat Cinta 2, hal 392.

Pulang

pulang

Pulang-Tere Liye

Judul Buku   : Pulang

Penulis          : Tere Liye

Tahun Terbit : September 2015

Penerbit         : Republika Penerbit

Tebal Buku   : 400 hlm

Pulang mengisahkan seorang laki-laki bernama Bujang yang tinggal di sebuah kampung pelosok Sumatera. Penduduk kampung tersebut menyebutnya talang. Sejak pertemuan dengan Tauke Muda, teman lama dari bapaknya membuat Bujang tidak kenal definisi takut di dalam hidupnya. Pertemuan itu pula lah yang membuat Bujang hijrah dari kampungnya untuk mengubah hidupnya. Kecerdasannya membuat ia menjadi orang kepercayaan Tauke Muda—mafia shadow economy kelas kakap. Shadow economy sudah menjadi bagian hidupnya. Namun hidup Bujang tidak semulus dengan karirnya. Berbagai peristiwa yang tidak pernah terpikirkan olehnya hadir bertubi-tubi. Kehilangan orang-orang tercinta, permusuhan, terlebih pengkhianatan. Semu itu Bujang lalui dengan darah dan peluh. Satu hal yang dapat mengobati semua perjuangan itu adalah pulang.

Tere Liye kembali hadir dengan novel terbarunya berjudul Pulang Kisah Bujag ditulis dengan apik oleh Tere Liye. Terbukti, baru dua bulan terbit sudah tiga kali cetak ulang. Kredibilitas seorang Tere Liye dalam meramu sebuah novel jangan ditanya lagi. Kelihaian jari-jari Tere Liye membuat novel ini menjadi sangat menarik untuk dibaca. Pemilihan diksi yang tepat membuat novel ini asyik untuk dibaca dan mudah dipahami. Karakter tokohnya sangat kuat sesuai dengan perannya masing-masing.

Dari sisi jalan cerita, sesungguhnya Pulang tidak serumit dan sekompleks novel-novel Tere Liye sebelumnya. Tema dari novel ini menjadi daya tarik, shadow economy. Tidak banyak yang mengangkat tema tentang dunia hitam ini. Tema yang sesungguhnya tidak asing bagi kita, namun tidak banyak yang tahu bagaimana dunia hitam tersebut bekerja secara sistematis dan rapih. Tere Liye berhasil mengajak pembacanya seolah-olah berada di dunia tersebut. Dan yang tak menarik adalah makna yang tersirat di dalam novel ini yang coba Tere Liye sampaikan lewat kisah Bujang.

Ada dua makna tersirat yang saya coba tangkap dari apa yang Tere Liye sampaikan di dalam novel Pulang ini. Pertama adalah takut. Takut merupakan sifat dasar manusia yang tidak dapat dipisahkan. Takut akan kegagalan hidup, takut tidak bisa makan, takut tidak lulus, takut miskin, takut ditolak ketika melamar, takut dirampok, takut dikhianati, takut dalam mempertahankan jiwa raga dan lain sebagainya. Ada saja rasa takut yang menyusup ke dalam diri ketika hendak melakukan sesuatu. Takut terjadi hal-hal buruk ketika menjalani hidup di dunia ini. Pada hakikatnya definisi takut yang sesungguhnya adalah takut terhadap Tuhan. Sayangnya inilah yang terjadi, takut terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan duniawi namun tidak takut terhadap Dzat Sang Pencipta. Kepada Dzat yang telah menciptakannya. Itulah yang terjadi pada Bujang.

Inti kedua dari novel ini terletak pada judulnya, yaitu Pulang. Ya, pulang. Setiap orang mempunya definisi masing-masing pada kata pulang. Sejauh apapun kita pergi, sejauh apa pun kita melangkah maju, sekeras apa pun kita berusaha untuk pergi menjauh, sekuat apa pun kita menahan ego, pada akhirnya kita harus pulang. Secara harfiah, pulang berarti kembali ke tempat dimana kita tinggal, tempat dimana kita tumbuh besar. Secara hakikat, pulang memiliki makna yang sangat dalam, pulang ke arah siapa diri kita yang sesungguhnya. Terlebih, pulang kepada pangkuan Tuhan.

“… Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang…” –Mamak

Bungawan

Edelweis

Colekan kernet di pundakku membuyarkan lamunanku. Aku spontan menengok. Kernet mengulurkan tangannya. Aku langsung mengerti. Kukeluarkan uang 50 ribu rupiah. Dikembalikan 8 ribu rupiah sambil berlalu ke penumpang yang lain. Sekilas aku melihat sekitar. Hampir semua penumpang tertidur dibangkunya masing-masing. Ada raut lelah dibeberapa wajah penumpang. Penumpang laki-laki setengah baya disampingku pun tertidur pulas. Kepalanya turun-naik dibahuku. Bus melaju diatas jalan tol yang ramai lancar. Malam semakin larut. Kulihat arloji yang melingkar ditangan sebelah kiri. Jarum pendek berhenti tepat diangka 12. Rasa kantuk rupanya menghinggapi diriku. Mulutku mulai menguap yang menyebabkan mataku berair. Kepala aku sanderkan dibadan bangku. Mulai mencoba memejamkan mata.

Suara ping berkali-kali membangunkanku dari tidur. Spontan aku membuka layar ponsel. Ada beberapa pesan yang masuk. Aku buka pesan dari Guntur. Menanyakan posisi bus yang aku tumpangi. Aku tidak tahu ini sudah sampai dimana. Aku melihat kearah samping ternyata bapak separuh baya sudah bangun dari tidurnya.

“Permisi pak, mau tanya, terminal Garut berapa lama lagi ya?” tanyaku kepada bapak separuh baya disebelahku.

“Sebentar lagi sampai dek.” Jawabnya singkat. Aku ucapkan terima kasih. Ada rasa ragu dalam hatiku akan jawaban bapak ini. Tapi yasudahlah.

Belum sampai 20 menit, bus sudah memasuki terminal. Jarum jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku melihat sekeliling terminal dari kaca. Ada banyak bus terparkir didalam terminal dengan berbagai macam jenis merek. Aku jadi malu sendiri karena berburuk sangka terhadap bapak separuh baya itu. “Maafkan aku, pak.” Gumamku dalam hati. Penumpang bus mulai turun secara tertib. Sampai diluar bus aku langsung mengambil tas carrierku didalam bagasi. Tentunya atas bantuan kernet bus.

Diluar dugaanku, ternyata terminal ini ramai sekali. Begitu banyak orang-orang yang mau mendaki gunung. Kebanyakan dari mereka berkelompok. Sedangkan aku hanya berdua. Aku berjalan menuju warung makan yang ramai dihinggapi para pendaki. Dibelakang warung ada beberapa pintu kamar mandi—digunakan oleh para pendaki untuk membersihakan diri. Tentunya ada tarifnya untuk menggunakan kamar mandi itu. Buang air kecil atau besar 2 ribu rupiah. Sedangkan mandi 5 ribu rupiah. Persis disamping warung makan ada sebuah musholla. Aku berdiri membelakangi warung. Membuka layar ponsel dan berkirim pesan kepada Guntur perihal keberadaannya.

“Woy anak hilang!” kepalaku dikeplak dari belakang. Aku spontan menengok. Eh, kutukan akan dikeplaknya kepalaku langsung luluh demi melihat Guntur dihadapanku. Entah seperti apa wajah bahagiaku melihat teman lama yang tidak bertemu lebih dari 8 tahun. Pelukan singkat disertai dengan jabat tangan erat membuka pertemuan kami.

“Gila lo, udah berapa abad kita gak ketemu?” kataku mencoba berkelakar. Tawa kami langsung pecah. Aku tidak peduli akan reaksi orang-orang melihat kelakuan kami. Aku terkejut melihat perubahan yang terjadi dengan Guntur. Tubuhnya yang tinggi dan berisi. Rambutnya yang panjang diikat seperti buntut kuda. Warna tubuhnya agak coklat, tidak seputih dulu.

“Gaya lo makin kekinian aja Bung.”

“Yoilah, AGATA gitu loh!” cengirku.

“Apaan tuh?” raut muka Guntur berubah bingung.

“AGATA itu Anak Gaul Jakarta!” tawa kami kembali pecah.

**

Segelas cangkir kopi dan beberapa pisang goreng telah kami lahap. Guntur sudah minum kopi bercangkir-cangkir sebelum aku datang. Hanya sesekali mencomot pisang goreng yang masih hangat. “Jadi kita langsung berangkat sekarang nih?”

“Lah gue mah ikut lo aja. Kan lo yang punya rencana.” Jawabku sambil merogoh kantong celana belakang sebelah kanan untuk mengambil dompet. Tidak ada. Pindah ke kantong sebelah kiri. Aku meraba-raba kanntong kanan dan kiri berulang kali. Tetap tidak ada. Aku mulai panik.

“Eh, dompet gue mana ya?” seruku panik.

“Lah lo tadi taro mana dompetnya?” Guntur ikut panik.

“Gue taruh kantong celana belakang, tapi kok gak ada ya?” aku mendengus. Berusaha mengingat-ingat terakhir menaruh dompet.

“Oh, shit!! Sialan gue kecopetan!” seruku.

“Yang bener lo? Kok bisa? Dimana?” tanya Guntur tak sabaran.

“Gue baru ingat, tadi di bus samping gue bapak separuh baya. Kedalam bus gue cuma bawa ponsel, power bank, headset sama dompet. Carrier taruh dibagasi. Di perjalanan gue lihat si bapak itu tidur pulas. Pas gue tidur, terus bangun, si bapak udah melek. Gue yakin pas gue tidur itu si bapak ambil tuh dompet.” Ceritaku pada Guntur dengan degup jantung yang naik-turun.

“Yakin lo si bapak itu yang ngambil?”

“Yakin gue, orang sebelumnya gue bayar ongkos bus ke kernet dompetnya masih gue pegang kok!” kataku lemes.

“Terus lo masih megang uang?”

Aku mencoba merogoh kantong celan bagian depan. Ada uang 8 ribuan—kembalian ongkos bus dan 2 ribu rupiah—kembalian beli botol air minum. Aku menunjukkan semuanya dihadapan mata Guntur. “Tinggal segini, Gun.” Kataku memelas.

“10 ribu rupiah?” Guntur tidak percaya. Aku hanya mengangguk pelan dengan raut wajah seperti orang kelaparan.

“Ah gila lo, terus lo nanti ongkos pulang pake uang apa? Belum kita ongkos ke pos awal, 2 kali nyewa mobil woy!” Guntur terlihat bingung.

“Ya pake uang lo lah.” Kataku sambil tersenyum. Menepuk pundaknya lalu berlalu pergi. Guntur hanya mematung.

**

Kami sepakat bergegas berangkat menuju pos awal pendakian. Untuk mencapainya, kami harus naik dua kali angkutan. Pertama kami naik mobil angkot yang berukuran tanggung. Cukup untuk mengangkut 15 orang. Karena kami hanya berdua dan untuk menaikinya harus rombongan, maka kami bergabung dengan rombongan lain. Setelah itu kami harus naik mobil lagi. Kali ini mobil jenis losbak. Sesampainya di pos, kami langsung mendaftarkan diri kepada petugas dan membayar uang masuk. Kami harus menyerahkan fotokopi KTP. Untungnya fotokopi KTP tidak aku taruh dalam dompet. Kalau iya, sia-sia perjalananku ini. Setiap rombongan harus ada ketua yang bertanggung jawab. Karena kami hanya berdua, tentulah Guntur yang menjadi ketua.

Sebelum memulai pendakian, Guntur memimpin doa. Tentunya demi kelancaran pendakian kami selamat sampai tujuan, tidak ada hal-hal buruk terjadi menimpa kami. Berdoa membuat kami semangat. Kami langsung bergegas memulai pendakian. Waktu masih menunjukkan jam 4 pagi. masih cukup gelap. Kami mengeluarkan senter sebagai penerang jalan. Jalan yang kami lalui masih berbatuan. Kanan-kiri kami terdapat semak-semak. Sesekali kami berhenti untuk istirahat sejenak. Jalanan yang kami lalui masih berbatuan. Bahkan semakin banyak bongkahan batu yang berukuran besar di pinggir jalan. Tebing terlihat tinggi menjulang. Batu-batu ini ternyata hasil dari meletusnya Gunung Papandayan. Guunung Papandayan memang masih terbilang gunung merapi aktif. Terakhir meletus november tahun 2002 lalu.

Setelah istirahat beberapa menit kami melanjutkan perjalanan. Dan istirahat lagi jika tubuh mulai lelah. Minum beberapa tenggak air. Sesekali berfoto jika menemukan pemandangan yang bagus. Kakiku mulai terasa pegal. Padahal baru jalan sekitar setengah jam. Beban berat yang aku bawa membuat aku cepat lelah. Carrier yang aku gemblok berukuran 70 liter. Cukup berat bagiku sebagai pemula. Guntur terlihat santai tidak ada rasa lelah terlihat di raut wajahnya. Malah ia meledek aku yang terlihat kelelahan.

“Yaelah Bung, baru juga jalan sebentar udah lelah aja.” Ledeknya diikuti gelak tawa. Aku ambil batu semabarangan dijalan dan menimpuknya. Namun ia menghindar dengan cekatan. Aku bernafas secara perlahan. Aku baru tersadar bahwa udara disini cukup dingin. Padahal aku sudah memakai jaket tebal dan beberapa kaos didalamnya, celana gunung panjang , sarung tangan dan sepatu gunung. Tetapi udara dingin masih bisa menyelusup masuk kedalam tubuh.

Diujung, kami melihat sebuah warung gubuk. Aku agak heran kenapa ada warung diketinggian ini. Guntur hanya menyengir. Nanti diatas juga ada lagi, Bung!” seakan Guntur bisa menangkap raut keherananku. Kami mampir di gubuk warung untuk istirahat. Aku sedikit terkejut yang menjual sudah berusia lanjut. Seorang nenek tua. Aku salut, dengan umurnya yang sudah lanjut usia tetapi masih kuat dan semangat dalam mencari nafkah. Guntur memesan teh tawar panas sedangkan aku kopi hitam.

“Sudah berapa lama bu berdagang disini?” sapaku basa-basi.

“Lumayan nak, kurang lebih 40 tahun.” Katanya dengan bahasa Indonesia yang jelas.

“Wow, lama juga ya.” Gumamku.

“Ade baru pertama kali naik gunung?” tanyanya.

“Iya bu, saya baru pertama kali naik gunung, kalo teman saya ini sudah sering.” Jawabku jujur.

“Nak, dalam sebuah perjalanan, buang jauh-jauh rasa angkuh dalam hati. Didepan sana, akan ada banyak tantangan. Hanya orang-orang bermental bajalah yang sanggup melewatinya. Rasa manis akan terasa jika kita mencapai apa yang menjadi tujuan.” Seketika ada keheningan. Entah mengapa si nenek tiba-tiba berbicara seperti itu. Guntur yang mengetahui keadaan yang mulai ganjil langsung mengambil tindakan.

“Jadi semuanya berapa, bu?” katanya cepat sambil berdiri bersiap-siap. Aku mengikutinya patah-patah. Kami bergegas kembali berjalan setelah membayar. Bahkan uang kembalian tidak diambil oleh Guntur.

“Tadi kok si nenek tiba-tiba ngomong begitu ya?” tanyaku penasaran.

“Udah gak usah dipikirin, namanya juga nenek-nenek.” Jawabnya santai. Kata-kata nenek tadi masih terngiang ditelingaku. Aku mencoba melupakan apa yang si nenek katakan tadi. Tidak terasa kami sudah setengah perjalanan. Sudah lebih dari dua jam kami berjalan. Jalanan yang kami lalui tidak lagi berbatuan. Kali ini sudah memasuki pepohonan yang cukup lebat. Jalan setapak menjadi jalur yang kami lalui. Sesekali berpapasan dengan rombongan pendaki lainnya. Saling sapa satu sama lain.

Kabut tebal menyelimuti jalanan yang kami lalui. Jarak pandang kami terbatas. Sekilas awan terlihat mendung. Jalanan yang kami lalui pun sudah mulai cukup sulit. Beberapa kali jalanan naik cukup terjal. Harus berhati-hati sekali aku berjalan. Bahkan sampai agak merangkak untuk menjaga keseimbangan. Benar saja, hujan turun sangat deras. Kami langsung bersiap mengenakan jas hujan yang kami bawa. Jas hujan adalah salah satu barang yang wajib dibawa ketika mendaki gunung. Kami tetap melanjutkan perjalanan. Kami melewati Pondok Saladah. Tempat dimana para pendaki mendirikan tenda untuk bermalam. Banyak sekali tenda yang sudah berdiri tegak. Namun kami tidak mendirikan tenda, perjalanan terus dilanjutkan.

“Didepan sana, kita akan sampai di Hutan Mati, Bung. Lihatlah nanti betapa kerennya Hutan Mati!” mata Guntur berbinar. Aku semakin tidak sabar. Hujan sudah berhenti. Cukup lama hujan turun. Jalanan semakin licin. Kami harus lebih berhati-hati. Tidak lama kami sampai di Hutan Mati. Aku langsung terperangah melihat keindahannya.

“Woohhooo…! Gila keren banget!” aku langsung berseru demi melihat keindahan Hutan Mati. Saking senangnya kau loncat sembarang arah. Guntur hanya tersenyum melihat tingkah lakuku.

Batang pohon tanpa daun bagai kayu yang ditancapi. Berwarna hitam pekat. Tanahnya berkontur agak lembek. Seperti lumpur namun agak berbatuan kecil-kecil. Tercium bau belerang walau tidak begitu pekat. Udara sangat dingin dan sejuk. Walaupun sudah jam setengah 7 pagi, namun langit masih agak buram, tertutup kabut tebal. Kami melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Sekelilingnya bukit-bukit yang diliputi hutan lebat. Kami dapat melihat kawah-kawah dibawah sana. Tempat kami memulai pendakian. Orang dibawah sana begitu kecil. Aku mulai menyadari makna dari naik gunung. Melihat kebesaran Tuhan dan kita bukanlah apa-apa. Begitu kerdilnya manusia dimata alam, apalagi bagi Tuhan. Namun masih banyak manusia yang menyombongkan dirinya. Aku merenung, semakin dalam.

Momen foto-foto pastinya tidak kami lewatkan. Berbagai pose kami lakukan demi mendapatkan foto terbaik. Kami meminta tolong orang lain untuk difoto berdua. Tidak banyak orang-orang berada di Hutan Mati pada saat itu. Puas melihat keindahan Hutan Mati dan pemandangan disekelilingnya, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan yang aku tunggu-tumggu, melihat langsung bunga yang disebut-sebut sebagai bunga abadi, Bunga Edelweis.

**

Jalan menuju Tegal Alum cukup sulit. Beberapa kali harus naik dengan ketinggian curam. Pohon-pohon lebat dengan akar yang menjalar ke jalan menjadi rintangan yang harus kami lewati. Aku sudah mulai kelelahan. Benar-benar kelelahan. Walau sudah istirahat beberapa kali. Kaki mulai terasa sangat pegal. Guntur berjalan di depan dengan cekatan. Tidak ada kulihat rasa lelah di wajahnya. Bahkan udara dingin bukan hambatan baginya. Padahal ia hanya mengenakan kaos tipis, syal melingkar di leher, celana pendek dan sandal gunung. Beberapa kali aku tertinggal cukup jauh. Namun Guntur akan berhenti bila ternyata aku tertinggal. Didepan aku lihat Guntur sedang duduk di akar pohon yang cukup besar.

“Lo gak apa-apa? Masih kuat?” tanyanya kahwatir melihat raut kelelahan diwajahku.

“Tenang, gue masih kuat kok, ayo jalan lagi.” Jawabku menenangkan.

Kami melewati jalan menanjak yang cukup curam. Disampingnya jurang yang diisi pepohonan lebat. Untuk menanjaknya aku harus menggunakan kedua tanganku untuk memanjatnya. Berpegangan kepada akar yang menjalar dijalan. Kaki kanan aku angkat menginjak akar yang berfungsi sebagai pijakan. Mencoba mengangkat beban tubuh. Tapi sial, kakiku terpeleset. Hujan membuat jalanan begitu licin, apalagi jika menanjak. Tanganku ikut terlepas. Kaki kiriku tidak bisa menahan beban tubuh. Aku terperosot kebawah. Disaat yang bersamaan, tali tas carrierku putus. Terlepas dari gemblokanku. Jatuh kedalam jurang. Arraggghh.. aku meringis kesakitan. Kaki kiriku berbenturan dengan akar pohon yang menjalar dijalan. Sialnya akar itu berbentuk lancip. Betisku tepat mengenai akar yang lancip. Sobek cukup dalam. Celana panjangku juga sobek. Ketika menapak pergelangan kakiku terkilir. Aku terjatuh. Meringis kesakitan. Rasa perih menghujam bagai luka yang disiram alkohol. Kulihat darah merembes dicelanaku. Tidak sedikit darah yang menetes ke tanah.

Guntur berteriak histeris melihat aku terkapar dibawah. “Astaga.. Bung!” seraya turun kebawah dengan terburu-buru. Kepanikan semakin menjadi ketika Guntur melihat betisku yang sobek. Tanpa pikir panjang ia langsung mengikat betisku yang sobek dengan syalnya untuk menghentikan darah yang keluar. Memindahkanku agak kepinggir jalan. Aku mencoba menenangkan. Berusaha untuk kuat.

“Tenang gimana? Lo lihat betis lo sobek gini? Darah yang keluar sebanyak ini? Lo suruh gue tenang? Astaga..!” seru Guntur dengan napas yang tersengal. Aku hanya tersenyum sambil menahan rasa sakit. Guntur memberikan air minum kepadaku.

“Seharusnya gue enggak meninggalkan lo dibelakang, Bung.” Katanya merasa bersalah.

“Lo gak salah Gun, emang guenya aja yang kurang hati-hati.” Balasku sambil tersenyum.

“Lo emang sohib gue yang paling-paling dah.” Ucap Guntur seraya meninju pelan ke pundakku.

“Yuk lanjut naik, tanggung sedikit lagi sampai, kan?” aku mencoba bangkit. Agak patah-patah.

“Eh, lo mau kemana? Lanjut keatas?” Guntur mencoba menahan aku untuk bangun. Tapi tanganku mencoba menepis.

“Demi Bunga Edelweis! tinggal beberapa langkah lagi terus gue nyerah gitu aja? Gak akan! Gue gak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Mungkin akan menjadi seumur sekali dalam hidup gue lihat Bunga Edelweis secara langsung. Lo tahu kenapa gue ngotot mau lihat tuh bunga? Karena nama gue BUNGAWAN. Lo tahu sendiri dari dulu gue suka bunga. Tidak peduli semua orang bilang gue aneh anak cowok tapi suka bunga. Bunga sudah menjadi bagian dari hidup gue. Bunga Edelweis menjadi tujuan gue ada disini.” Jelasku dengan penuh keyakinan. Guntur hanya diam mencoba mencerna kalimat demi kalimat.

“Jadi kalau lo memang sohib terbaik gue, bawa gue sampe keatas!” tegasku.

**

Selang beberapa menit yang ditunggu tiba. Beberapa orang dari komunitas pendaki gunung yang juga hendak keatas berpapasan dengan kami. Guntur menjelaskan peristiwa yang menimpa diriku sekaligus meminta tolong membantuku untuk sampai keatas, Tegal Alun. Dengan senang hati para pendaki tersebut membantuku untuk bisa sampai ke Tegal Alun. Dengan segudang pengalaman dalam mendaki gunung akhirnya aku sampai di Tegal Alun, tempat dimana Bunga Edelweis tumbuh.

Aku hanya bisa mematung ketika melihat sejauh mata memandang Bunga Edelweis tumbuh dengan sangat indah. Takjub. Kalau saja tidak ingat bahwa kakiku sedang sakit, pastilah ekspresiku akan lebih gila ketika di Hutan Mati. Aku berjalan dengan susah payah menuju ke tangkai Bunga Edelweis yang paling lebat. Warnanya yang putih membuat Bunga Edelweis semakin cantik. Kepala aku tundukan ke Bunga Edelweis. Kucium, meresapinya. Harum bunganya sangat khas. Aku jatuh cinta.

Guntur menepuk-nepuk pundakku seraya mengumbar senyum. Aku berterima kasih sebanyak-banyaknya. Entah bagaimana aku harus membalas budinya. Aku melihat sekitar. Warna bintik-bintik putih sejauh mata memandang. Langit sudah cerah. Sinar mentari pagi menghangatkan tubuh. Mengusap peluh. Aku luluh.

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Buah Tangan Dee’s Coaching Clinic

IMG-20150405-WA0001

Hari minggu, 5 April 2015 saya berkesempatan menjadi peserta Dee’s Coaching Clinic yang diselenggarakan oleh penerbit Bentang Pustaka. Dee’s Coaching Clinic ini tentunya mengundang narasumber yang jika disebut namanya para penggemar garis kerasnya akan teriak histeris karena karyanya yang fenomenal atau karena tidak sabar menunggu buku pamungkas Supernova IEP (Intelegensi Embun Pagi) yang masih dalam proses penulisan, yak, DEE LESTARI!!

Diawal, Dee menjelaskan tujuan atau latar belakang diselenggarakannya acara ini, Dee banyak sekali mendapatkan banyak pertanyaan dari orang lain khususnya pembaca karyanya mengenai cara atau teknik menulis yang baik agar dapat menghasilkan sebuah buku yang layak dan enak untuk dibaca, pertanyaan masuk dari mana saja, seperti email dan twitter yang tidak akan menjawab banyak pertanyaan sementara pertanyaan tentang kepenulisan semakin bertambah. Dee juga merasa sampai saat ini belum menemukan sebuah buku atau sumber yang dapat menjelaskan dengan sangat detail bagaimana cara menulis yang baik. Saya sendiri pun sangat kesulitan mencari sebuah sumber yang berkaitan dengan teknik kepenulisan baik itu dari cetak maupun acara kepelatihan –yang biasanya harganya cukup mahal, sehingga membuat saya ragu dan tidak tau harus dari mana untuk menulis sebuah buku. Berangkat dari masalah tersebut Dee berinisiasi untuk menyediakan sebuah forum dimana dalam forum tersebut berisikan pertanyaan-pertanyaan yang paling ingin ditanyakan tentang kepenulisan yang menjadi permasalahan orang pada umumnya. Tentunya dengan jumlah orang yang terbatas dan dengan waktu yang lebih panjang agar lebih intensif, tuntas, dan jelas dalam membahas sebuah topik kepenulisan. Untuk itu Dee dan Bentang Pustaka melaksanakan acara Dee’s Coaching Clinic ini di 5 kota.

Banyak sekali pertanyaan yang muncul dari para peserta yang hadir tentang kepenulisan yang memang menjadi masalah saya pribadi dalam menulis. Dalam menulis, tentunya kita harus memiliki persiapan yang matang agar tulisan kita dapat terarah dan mencapai tujuan apa yang mau kita sampaikan. Secara garis besar Dee membagi persiapan dalam menulis menjadi dua;

  1. Konkritkan yang abstrak. Maksudnya adalah kita harus tau apa yang akan kita tulis, karena kebanyakan dari kita apa yang akan kita tulis seringkali hanya numpuk di otak kita sehingga kita tidak tau apa yang mau kita tulis. Kita mau nulis apa? Itu yang pertama kali harus kita ketahui. Dee tidak pernah punya cita-cita menjadi seorang penulis. Tujuan Dee menulis adalah karena pengen bukunya ada di toko buku, selain itu Dee menulis karena pengen baca cerita yang paling pengen dia baca, karena dia cari-cari cerita itu gak ada dibuku mana-mana, kata Dee, daripada bingung harus nyari cerita yang pengen dia baca kesana-kemari yaudah mendiangan gue tulis aja sendiri ceritanya J
  1. Kuantifikasikan yang kualitatif. Apa yang masih menjadi kualitatif (khayalan atau deskripsi panjang lebar) lebih baik di kuantitatifkan menjadi angka yang lebih pasti. Contoh;
  • Menentukan Premis itu adalah DNA-nya sebuah buku atau lebih sederhanya tujuan buku/inti cerita buku yang akan kita tulis apa?
  • Jenisnya apa? Fiksi kah? Nonfiksi kah? Dll
  • Berapa halaman yang mau ditulis? 150 halaman? 200 halaman? 300 halaman? Dst
  • Tahun terbit. Kapan terbitnya? Misalnya kita mau nerbitin buku pas bulan ulang tahun kita januari 2017
  • Bagi yang sudah punya penerbit akan lebih mudah—karena dikejar deadline juga hehe, bagi yang belum sambil nulis sambil nyari penerbit yang cocok dengan isi tulisan kita
  • Lama menulis dalam sehari? 1 jam kah? 2 jam kah? 3 jam kah? Misalnya dalam sehari nulis 2 jam dari jam 04.00-06.00, tentunya harus disiplin waktu
  • Banyak kata dalam sekali menulis. Misalnya tadi kita punya waktu nulis 2 jam/hari, maka berapa kata yang kita tulis dalam 2 jam itu? Kalo dalam hitungan pada saat Dee menjelaskan, kurang lebih 250 kata sehari kita menulis dalam waktu 2 jam. Hanya setengah halaman/hari! Namun jangan setiap hari kita menulis, harus memiliki waktu jeda untuk libur agar otak kita lebih fresh dan gak ngebul 🙂

Itulah beberapa contoh dari mengkuantifikasikan yang kualitatif.

Selanjutnya IDE. Personifikasikan Ide. Saya cukup terkejut ketika Dee mengatakan bahwa ide lah yang mencari kita, bukan kita yang mencari ide. Dee menjelaskan bahwa ide memiliki alamnya sendiri, dan jumlahnya lebih banyak jumlah manusia di alam bumi. Namun sayangnya kita kurang peka terhadap kehadiran ide disekeliling kita. Untuk itu, kita harus menjadikan ide sebagai partner kita, buatlah relationship yang klop! Ide kalo udah klop dengan kita, akan dengan sendirinya datang dan pergi disaat yang tepat. Jadikanlah ide seperti teman kita pada umumnya, misalnya diajak ‘bicara’ dan ‘muasyawarah’ pada saat-saaat tertentu. Itulah ide.

Selanjutnya adalah bagian yang cukup penting dalam menulis, yaitu kerangka cerita. Dee lebih suka menyebutnya Pemetaan Cerita. Sebelumnya sudah disinggung bahwa dalam menulis kita harus mempunyai premis, yaitu tujuan dari cerita itu apa. Dee memberikan gambaran premis itu seperti pulau A dan pulau B. Pulau A sebagai awal dan pulau B sebagai akhir. Nah untuk menuju pulau A ke B tentunya sangat jauh—terutama dalam menulis novel yang tebalnya lebih dari seratus halaman, untuk itu perlu penghubung antara pulau A dan pulau B, yaitu pulau-pulau kecil sebagai jembatan agar cerita sesuai dengan premis dan tidak merambat jauh keluar dari tujuan atau tema.

Dee juga memberikan gambaran dalam membuat pemetaan cerita, yaitu struktur 3 babak. Apa itu struktur 3 babak? Cerita yang kita tulis dibagi menjadi 3 babak;

  • Babak 1 disebut sebagai tesis. Isinya adalah mengenai apa yang terjadi pada dunia karakter/tokoh dalam hidupnya. Jadi dibabak 1 ini, menjelaskan awal mula kehidupan tokoh itu seperti apa. Dibabak 1 ini pula sudah mulai ditumbuhkan konflik yang akan dihadapi oleh si tokoh.
  • Babak 2 disebut sebagai antitesis. Pada babak 2 ini dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu 2A dan 2B. Bagian 2A ke 2B adalah perubahan yang terjadi pada si tokoh/konflik. Pada 2A, si tokoh sudah mengalami konflik dalam hidupnya. 2B, juga berisikan konflik yang terjadi pada si tokoh namun kalo bisa lebih sulit lagi konflik yang dihadapi. Singkatnya pada babak 2 ini adalah perubahan yang seharusnya tidak terjadi pada si tokoh.
  • Babak 3 disebut sebagai sintesis atau solusi. Tentunya berisi mengenai solusi yang dilakukan si tokoh dalam menyelesaikan konflik yang dihadapinya.

Dalam pemetaan cerita, tidak ada patokan struktur yang ‘tok’ harus digunakan dalam menulis, terserah penulis itu sendiri dalam memetakan jalan cerita dalam bentuk seperti apapun, yang jelas cerita dapat terarah dengan baik, karena memang itu tujuan dalam memetakan cerita. Mind mapping bisa juga menjadi pilihan dalam memetakan cerita karena memang mind mapping cukup umum digunakan oleh siapapun dalam memetakan sesuatu. Atau dikombinasikan antara struktur satu dengan lainnya, itu akan lebih bagus lagi.

Pertanyaan tentang riset juga banyak sekali ditanyakan oleh peserta, bukan hanya peserta di kota Jakarta namun juga di kota-kota sebelumnya. Singkatnya, yang dilakukan dalam riset sama seperti yang dilakukan pada umumnya, observasi, wawancara, studi pustaka, gambar, film, dan lain-lain. Namun sebagai catatan, coba cari atau riset sesuatu yang mempunyai cerita unik didalamnya, sesuatu yang mempunyai kisah dibaliknya. Hal itu yang kemudian akan menarik perhatian pembaca.

Dalam membuat karakter atau tokoh, kita harus mengenal karakter apa yang akan kita ciptakan. Karakter yang kita ciptakan tentunya mempunyai keistimewaan dan tentunya mempunyai kelemahan yang membuat orang ingin menjadi seperti si tokoh atau empati terhadap si tokoh. Dan yang paling penting adalah kita harus mempunyai keyakinan dalam menuliskannya.

Itulah beberapa pertanyaan dan penjelasan yang dibahas dalam Dee’s Coaching Clinic Jakarta yang menurut saya cukup penting dalam proses menulis, khususnya penulis pemula seperti saya. Acara ini tambah seru lagi karena kehadiran bintang tamu atau undangan yang juga bertitel sebagai penulis yang sudah tidak asing seperti Trinity, jenny Jusuf, amrazing, Junanto dan lain sebagainya.

Saya mau mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada Bentang Pustaka yang telah memberikan saya kesempatan dalam acara ini dan memang itulah yang saya inginkan J. Tentunya juga kepada narasumber sekaligus penulis favorit saya mbak Dee Lestari atas ilmu menulisnya yang keren banget, untuk motivasi yang saya dan peserta lainnya butuhkan untuk memulai menulis, melahirkan ‘anak jiwa’. Terima kasih, semoga bisa berjumpa lagi di lain kesempatan :).

Bisu

“Tolong, katakan yang sejujurnya, apa yang kamu mau dari aku?” raut mukaku entah harus memelas seperti apa lagi, dan pertanyaan apa lagi yang harus aku lontarkan kepada seseorang yang diam membisu sejak dua jam yang lalu, hanya ada suara detak jantungku yang semakin memburu dan riuh rendah tempat ini.

“Tolong kamu jawab pertanyaan terakahir dari aku ini, apa yang kamu mau dari akau?” tanyaku lembut sedikit gemas.

“Aku hanya mau kamu menikahi aku dalam dua hari kedepan. titik.” Akhirnya yang diajak bicara bersua juga, dengan nada yang penuh penekanan.

“Hanya untuk itu kamu diam selama dua jam ini? Tidak menjawab sepatah kata pun apa yang aku tanyakan kepadamu selama dua jam ini? Bahkan meminum setengguk air pun tidak?” aku mendengus kesal.

“Iya!” bentaknya lebih keras.

Orang-orang sekitar sesekali melirik dari bangku dimana mereka duduk. Mau tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Baik jika itu yang kamu mau, tetapi sayang sekali, aku tidak mau menikahimu!” kataku tegas sambil dan membanting uang diatas piring yang hanya tinggal noda makanan, berlalu pergi.

Dari jauh kudengar, ada suara isak tangis dari tempat aku pergi.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Anak Meniru Apa Yang Ia Lihat

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang anak kecil usia balita memiliki memori otak yang masih sangat amat bagus. Otak anak balita merekam apapun yang ia lihat, ia dengar, ia rasakan melalui sentuhan maupun penciuman. Semua indera yang dimiliki anak balita bekerja mengikuti alur yang ada disekelilingnya. Saya mencoba mengkritik kebiasan anak menonton televisi, film dan sebaginya yang berkaitan dengan indera penglihatan anak. Dan saya menulis dari susut pandang dari apa yang saya lihat dan saya alami baik di lingkungan saya tinggal maupun media sosial.

Sangat disayangkan, anak balita (saya mendefinisakan anak balita usia 2-12 tahun/kelas 6 SD) jaman sekarang dibiarkan begitu saja menyaksikan tayangan sinetron atau film yang menurut saya tidak mendidik anak untuk menjadi pribadi yang baik kedepannya. Bahkan orang tuanya ikut menyaksikan tayangan sinetron atau film disisi anaknya, seakan tayangan sinetron atau film tersebut boleh di konsumsi oleh anak tersebut,tanpa ada upaya untuk mencegahnya. Mungkin ada usaha mencegah tapi ya anaknya nonton lagi dibiarin lagi aja.

Apa yang anak lihat itu yang akan ia tiru. Jika anak melihat tayangan sinetron atau film yang sudah berbau cinta-cintaan atau pacaran dari ia kecil, maka apa yang ada di mindset anak kecil tersebut adalah bahwa nanti kalo sudah besar kita harus kaya gitu atau boleh kaya gitu (re: pacaran atau jatuh cinta). Dan ‘besar’ disini bukan lagi pada usia ketika sesorang beranjak dewasa, 22 tahun keatas. Tapi ‘besar’ yang disiarkan oleh sinetron dan film yang disaksikan adalah ‘besar’ usia sekolah menengah pertama, bahkan pada saat sekolah dasar. Jika ada orang yang berpikiran ini adalah masalah sepele, hanya untuk hiburan anak, atau hiburan anak biar ia tenang, gak rewel, itu saya rasa salah besar. Cara yang dianggap tepat agar anak tenang dan gak rewel dengan memeberikan atau membiarkan anak melihat tayangan sinetron atau film dengan bumbu percintaan malah akan menjerumuskan anak itu sendiri. Walau sinetron atau film kartun/anime sekalipun.

Jangan salah, tidak semua film-film kartun atau anime layak untuk anak tonton. Saya katakan buanyak banget film kartun/anime yang tidak layak untuk ditonton oleh anak. Misalnya saja film Doraemon Stand By Me yang belum lama ini menjadi perbincangan. Siapa yang tidak tahu doraemon? Robot imut menggemaskan dari masa depan. Namun sayang, Doraemon Stand By Me jika dicermati lebih dalam tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Kenapa? Karena inti cerita dari Doraemon Stand By Me adalah menceritakan tentang masa depan Nobita yang nantinya akan menikah dengan siapa, dan dari dia sekolah SD sudah memikirkan tentang cinta dan nikah. Anak SD macam apa yang dari dia SD sudah memikirkan tentang percintaan dan pernikahan. Yang ada ketika anak nonton film doraemon ini mindsetnya terbentuk bahwa ketika SD nanti si anak sudah harus memikirkan soal percintaan dan pernikahan dari semenjak dia SD. Anak akan meniru apa yang ia lihat. Pembaca mau anaknya dari umur SD sudah memikirkan soal percintaan dan pernikahan bahkan memperjuangkannya sedemikan rupa seperti film yang ia tonton? Saya sih ogah :p. Belum lagi belakangan ada kasus anak SMP yang bunuh diri karena melihat anime yang ada adegan bahwa kematian/bunuh diri akan mendapatkan ketenangan. Pada kasus tersebut meyakinkan kita bahwa tidak semua film kartun atau anime layak ditonton anak dan lemahnya pengawasan orang tua.

Anak kecil jaman sekarang sudah gak asing dengan kata yang namanya pacaran, putus cinta, jadian dan hal-hal yang berkaitan dengan percintaan. Sudah tidak tabu lagi. Padahal pada jaman saya kecil kata pacaran amat sangat jarang dibahas, yang ada sibuk mainan tradisional tahun 90-an. Lebih mirisnya, tidak hanya merusak dari sinetron atau film yang anak lihat, tapi dari lagu yang anak dengar. Lagu-lagu yang harusnya hanya boleh di dengar oleh orang dewasa tapi sekarang bebas didengar oleh anak kecil, sebut saja cabe-cabean, goyang dumang dan lagu-lagu lainnya yang kalau dilihat liriknya itu sangat tidak pantas dinyanyikan oleh anak kecil. Sungguh kasian dan miris anak kecil jaman sekarang.

Hal tersebut kembali lagi kepada keluarga dan orang tua. Orang tua seharusnya sadar akan dampak anaknya kedepan nanti ketika si anak sedari kecil sudah menyaksikan sinetron atau film tentang percintaan, juga lagu yang liriknya sangat tidak layak didengar anak kecil. Saya yakin orang tua jaman sekarang sudah lebih tau dan lebih maju daripada orang tua jaman dahulu. Tapi ternyata orang tua jaman dulu yang kurang memiliki pendidikan yang layak tetapi bisa mengurus anak lebih baik daripada oarang tua jaman sekarang yang sudah memiliki titel pendidikan tinggi.

Seharusnya orang tua sudah mendidik dan membentuk karakter anaknya sedari kecil yang berisikan pengetahuan dan pemahaman sesuai dengan kemampuan si anak. Banyak sekali cara yang dapat digunakan oleh oleh orang tua dalam mendidik dan membentuk karakter anaknya, salah satunya adalah dengan cara menonton film, tapi film yang seperti apa? Tentunya film-film yang berisikan pengetahuan dan pendidikan seperti kisah-kisah nabi, video bagaimana cara berperilaku yang baik, bagaiamana caranya sholat, bagaimana caranya hormat kepada orang tua dan lain-lain. Film dan video tersebut buanyak sekali dan mudah sekali di dapat pada jaman sekarang. Hindari anak menonton sinetron tayangan di televisi, menurut saya tayangan di telivisi hampir seluruhnya tidak layak ditonton oleh anak-anak. Walau menonton film atau video yang memiliki konten pendidikan dan pengetahuan, orang tua pun harus berada disampinya untuk memberikan pemahaman, terutama ibu. Dengan lagu pun orang tua dapat mendidik dan menambah pengetahuan anaknya, tentunya lagi-lagi lagu yang layak untuk didengar oleh anak. Memang dapampaknya belum keliatan ketia si anak kecil, tetapi nanti akan terasa ketika anak dewasa nanti.

Saya belum memiliki anak ataupun berkeluarga. Saya tahu dan paham dalam mendidik anak itu sama sekali tidak mudah. Namun setidaknya saya sudah mempunyai gambaran dan pemahaman harus seperti apa nanti ketika saya memiliki anak dalam mendidik dan membentuk karakter anak agar menajadi pribadi yang lebih baik dari saya. Pendidikan yang utama itu dari sebuah keluarga. Jika sebuah keluarga sudah mendidik dan membentuk anaknya sesuai dengan ajaran agama dan aturan hukum negeri ini. Maka sejahteralah negeri Indonesia ini. Selamat berjuang dalam mendidik dan membentuk karakter anak.

Rindu Yang Terpatri

IMG_3030

Resensi buku Tere Liye—Rindu

Judul                  : Rindu

Penulis              : Tere Liye

Penerbit            : Republika Penerbit

Tebal Buku        : 544 halaman

Tahun Terbit      : Oktober 2014, cetakan 1

Nama Tere Liye mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan pembaca buku di Indonesia. Penulis yang sudah ‘melahirkan’ banyak karya yang cukup membuat para pembaca jatuh hati terhadap barisan kata, kalimat atau paragraf yang tercetak dalam buku. Beberapa karyanya bahkan sudah di produksi ke layar lebar, sebut saja Hafalan Surat Delisha dan Bidadari-Bidadari Surga. Tere Liye lebih banyak menulis dengan genre fiksi daripada genre lainnya—yang memang menurut saya Tere Liye lebih fokus pada genre fiksi. Novel merupakan jenis buku yang paling sering ditulis oleh Tere Liye. Novel-novelnya sudah tidak bisa diragukan lagi, baik dari isi cerita maupun bahasa. Tema yang diangkat dari novel yang ditulis pun berkaitan dengan hal-hal yang begitu dekat dengan kita, nilai-nilai yang sehari-hari kita amalkan.

Berbicara tentang Tere Liye dan novel, baru-baru ini Tere Liye kembali menerbitkan novel terbarunya, Rindu. Dilihat dari judul bukunya, novel Rindu ini terlihat sederhana, namun mengandung berjuta makna dan tanya. Ya, rindu mengandung arti yang dalam dan setiap orang berhak menginterpretasikan kata rindu kedalam makna yang berbeda-beda. Seperti cerita dalam novel ini, ada banyak rindu di dalam setiap perjalanan dan tanya.

Adalah Gurutta yang menjadi tokoh utama pada novel kali ini. Seorang ulama yang masyhur, kedalaman ilmunya membawa ia dikenal oleh kalangan masyarakat. Umurnya sudah tidak muda lagi, namun masih gagah melakukan aktivitas. Pada saat itu ia berkesempatan pergi melakukan perjalanan suci ke tanah haram. Namun tidak mudah bagi Gurutta untuk ikut perjalanan suci itu, ia tahu tidak akan semudah itu ia ikut, sehingga ia meminta izin kepada Guberbur Jendral De Jonge dari Batavia, tanda tangannya tidak bisa dibantah oleh siapapun termasuk oleh Sergeant Lucas.

Kapal Blitar Holland menjadi kapal yang membawa penumpang menuju tanah suci, berhenti di beberapa pelabuhan untuk mengangkut penumpang ataupun memenuhi keperluan kapal dan kebutuhan sehari-hari penumpang di dalam kapal. Kapal yang di pimpin oleh Kapten Phillips ini berkekuatan tenaga uap, yang pada kala itu menjadi teknologi kapal paling modern. Tere Liye menceritakan dengan detil kehidupan diatas kapal selama perjalanan, mulai dari matahari terbit sampai rembulan menampakkan wajah teduhnya. Pembaca akan merasa seperti benarbenar merasakan kehidupan diatas kapal seperti nyata, setiap sudut ruang kapal di deskripsikan dengan jelas. Namun siapa sangka, di dalam kapal Blitar Holland tersebut beberapa penumpang memiliki pertanyaan yang mengusik batin. Lima pertanyaan di dalamnya.

Anna dan Elsa merupakan kakak beradik yang ikut kedalam perjalanan besar ini bersama kedua orangtuanya. Daeng Andipati, adalah Ayah dari kakak beradik tersebut. Umurnya masih belia, sembilan dan lima belas tahun. Selama perjalanan Anna sangat antusias terhadap kegiatan apapun di dalam kapal, keceriaannya membawa ia dekat dengan siapa saja, berbeda dengan Elsa yang agak pendiam daripada adiknya itu. Seperti lazimnya kakak beradik, Anna dan Elsa seringkali meributkan sesuatu hal yang tidak penting. Pertengkaran kakak beradik ini menjadi bumbu yang gurih selama perjalanan menuju tanah suci ini.

Gurutta menjadi orang yang paling dihormati di dalam kapal, sehingga apapun yang Gurutta usulkan diamini oleh seluruh penumpang kapal. Sebut saja pengajian untuk anak-anak pada sore hari selepas sholat ashar, kajian ba’da subuh dan lain sebagainya. Tentu saja tujuannya adalah baik, mengisi waktu kosong diatas kapal dengan melakukan aktifitas yang bermanfaat bagi seluruh penumpang kapal.

Bonda Upe bersedia menjadi guru mengaji anak-anak selama berada diatas kapal. Pakaiannya yang serba cerah membuat Anna sering dibuat kagum. Terlebih, Bonda Upe yang memiliki kulit putih dan paras cantik khas negeri cina—dan memang keturunan orang cina. Selama di dalam kapal, Bonda Upe seperti menutup diri dari pergaulan di dalam kapal, Gurutta, Daeng Andipati, Anna, Elsa dan orang-orang di dalam kapal jarang sekali melihat Bundo Upe makan di kantin bersama-sama—kantin menjadi tempat berkumpulnya seluruh penumpang dan saling kenal lebih jauh satu sama lain. Bonda Upe keluar kabin hanya sekedar sholat di masjid kapal. Sikap Bonda Upe sudah terlihat jelas bahwa ia membawa satu pertanyaan yang membuatnya menutup diri, yaitu masa laluny ayng kelam menjadi seorang pelacur yang dijual oleh bapak kandungnya sendiri demi memenuhi kepuasan nafsunya semata dalam berjudi, membuat ia bertanya-tanya apakah Allah akan menerima hajinya dengan keadaan masa lalu ia yang kotor itu? Pertanyaan itu ia lontarkan dengan taku-takut kepada Gurutta—yang tentunya sudah tahu ada sesuatu yang tidak wajar pada sikap Bonda Upe. Sehingga Gurutta dengan bijak memberikan sebuah petuah saktinya yang siapapun mendengarnya pastilah tenteram hatinya. Maka satu pertanyaan terjawab yang dialami oleh Bonda Upe.

Pertanyaan kedua justru muncul dari Daeng Andipati. Tampak bahagia dimata orang lain yang melihatnya namun tidak bagi Daeng Andipati ketika ia teringat akan masa lalunya yang tidak kalah kelamnya dengan apa yang dialami oleh Bonda Upe. Pertanyaan yang dilontarkan Daeng Andipati kepada Gurutta diawali dengan insiden yang tidak terlintas sama sekali. Terjadinya percobaan pembunuhan kepada Daeng Andipati yang membuat ia harus membuka luka lamanya demi melihat orang yang ingin membunuhnya namun digagalkan oleh salah satu kelasi kapal. Daeng Andipati sebenarnya sudah lama ingin menanyakan hal ini kepada Gurutta ketika diawal ia tahu akan satu kapal dengan Gurutta, namun mulutnya enggan berbicara. Akhirnya peristiwa tersebut membawa dirinya bertanya kepada Gurutta, pertanyaan yang sudah lama ia pendam. Rasa benci yang amat sangat medalam kepada ayahnya adalah pertanyaan besarnya, apakah dengan dendam yang amat sangat tersebut Allah akan menerima ia di tanah haram? Membeci seseorang yang harusnya ia sayangi? Gurutta dengan kerendahan hati dan kharismanya menjawab dengan lugas dan tegas atas pertanyaan Daeng Andipati, bahwa memaafkan dengan tulus dapat melunturkan benci, yang mendarah daging sekalipun.

Di tengah perjalanan, sudah separuh lebih penumpang sudah masuk dari berbagai wilayah di tanah air menaiki kapal Blitar Holland untuk melakukan perjalanan besar. Di separuh perjalanan itu pula peristiwa yang membuat awan mendung di dalam kapal membungkus langit-langit kapal. Salah satu penumpang meninggal dunia dalam perjalanan suci ini. Adalah Mbah Putri, suami dari Mbah Kakung meninggal ketika sujud dalam sholat subuh. Berita meninggalnya Mbah Putri tentu saja mengagetkan siapa saja yang berada di dalam kapal, terlebih Anna yang cukup akrab dengan kedua pasangan kakek-nenek itu. Peristiwa itu menimbulkan pertanyaan besar ketiga yang ternyata terlontar dari mulut suami almarhumah Mbah Putri. Mbah Kakung merasakan kesedihan yang mendalam atas meninggalnya istri tercinta, ia mempertanyakan takdir Tuhan yang tidak tepat dalam memanggil istri tercintanya kepada pangkuan-Nya, tidak bisakah ditunda setelah ia melaksanakan haji di tanah suci? Yang menjadi cita-cita sepasang kekasih sepuh itu sejak dahulu kala? Gurutta, dengan sabar dan pelan-pelan menjelaskan kepada Mbah Kakung akan takdir yang menimpa dirinya dan istri. Bahwa takdir Tuhan tidak dapat dimajukan atau dimundurkan sejengkal pun.

Ambo Uleng menjadi pemilik pertanyaan besar keempat diatas kapal Blitar Holland tersebut. Ambo Uleng adalah satu-satunya kelasi yang berdarah lokal—seluruh awak kelasi berkebangsaan Belanda. Uniknya, Ambo Uleng pun baru menjadi kelasi ketika kapal berangkat dari pelabuhan Makassar. Kepergiannya bersama kapal Blitar Holland diharapkan juga pada kepergian rasa sakit hati yang memilukan. Ambo Uleng dekat dekat dengan Anna, anak dari Daeng Andipati yang memanggilnya Om Kelasi. Sakit hati akan kisah cintanya membuat Ambo Uleng menjadi orang yang paling pendiam diatas kapal, bahkan Ruben teman sekamarnya di kabin merasa jengkel akan diamnya Ambo Uleng yang tanpa sebab itu. Kedekatannya dengan Gurutta membuat Ambo Uleng mencoba memberanikan diri untuk membuka rahasia yang selama ini ia pendam sendiri di dalam hati, tentang kisah cintanya yang memilukan, demi mendapatkan cinta sejati. Pertanyaan besar yang ada pada Ambo Uleng adalah apakah sesungguhnya cinta sejati itu? Apakah ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta sejati sesuai dengan apa yang ia miliki? Lagi dan lagi, Gurutta yang menjawab pertanyaan besar itu, diselingi dengan kisah cinta Gurutta yang tidak jauh berbeda dengan Ambo Uleng pada masa lalu. Bahwa untuk emdapatkan cinta sejati adalah dengan cara melepaskan.

Kempat pertanyaan besar yang dibawa oleh penumpang diatas kapal Blitar Holland terjawab sudah. Masih ada satu pertanyaan lagi yang belum terjawab. Pertanyaan kelima justru datang dari Ahmad Karaeng, yang tidak lain dan tidak bukan adalah nama asli dari Gurutta. Ia menyebutnya kemunifikan. Bagaimana mungkin ia yang dengan mudahnya menjawab seluruh pertanyaan orang lain namun tidak bisa menjawab pertanyaan diri sendiri. Puncak dari pertanyaan ini adalah ketika kapal Blitar Holland dibajak oleh pembajak dari Somalia yang terkenal dengan pembajakan kapalnya yang ganas. Pada saat itu Gurutta ditahan oleh Sergeant Lucas karena dianggap mencoba melakukan pemberontakan melaui buku yang ia tulis. Selama diatas kapal, selain menjadi imam dan memberikan kajian agama diatas kapal, Gurutta menulis buku, yang isinya tentu saja tentang semangat kemerdekaan—karena pada waktu itu masih dijajah oleh Belanda. Pertanyaan besar Gurutta, mengapa ia menuliskan semangat kemerdekaan melawan penjajahan namun ia tidak berani dalam akasi nyata melawan pembajak somalias yang membajak kapal? Bukankan itu munafik? dan ternyata jawaban atas pertanyaan Gurutta muncul dari mulut Ambo Uleng yang memberikan aksi nyata, bukan hanya sekedar berbicara. Gurutta hanya tercengang, tak menyangka jawaban atas pertanyaannya terlontar dari mulut anak kemarin sore yang sedih akan kehilangan cinta sejatinya.

Novel setebal 544 halaman ini tidak akan terasa tebalnya. Pasalnya, sebagai pembaca kita larut akan kehidupan diatas kapal yang digambarkan seakan nyata oleh sang penulis. Secara makna, novel ini memiliki arti yang sangat mendalam yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca, melalui lima pertnyaan besar yang dibawa oleh penumpang kapal. Novel ini pun sarat akan sejarah dan budaya, bagaiamana setting novel ini pada saat zaman penjajahan, beragam budaya yang dibawa oleh penumpang dari masing-masing daerah asal sampai kepada keindahan wilayah atau ciri khas daerah yang disinggahi kapal di pelabuhan. Kehdiupan laut pun tidak lepas dari cerita novel ini, bagaimana lumba-lumba berenang secara berkelompok dan ikan paus menyemburkan air keatas dari tubuhnya. Hal tersebut tergambar jelas di dalam novel Rindu ini. Bukan Tere Liye namanya jika pemilihan diksi yang enak dan mudah dicerna oleh siapapun pembacanya, seperti ketika kita bercakap-cakap sehari-hari.

Menurut hemat saya, novel Rindu ini agak berbeda dengan novel Tere Liye lainnya, memang novel yang ditulis oleh Tere Liye diambil dari hal atau kisah-kisah sederhana, namun di novel Rindu ini, walau memiliki makna yang mendalam, isi ceritanya memang benar-benar sederhana, tidak seperti novel Tere Liye yang pernah ditulis sebelumnya. Konflik yang terjadi pun tidak serumit dan setegang dari novel pendahulu Rindu. Hampir keempat pertanyaan dijawab dibagian tengah menuju akhir, terlalu lama dan banyak menceritakan kehidupan di dalam kapal.

Terlepas dari itu semua, novel ini layak dibaca oleh siapa saja. Novel ini memberikan sebuah hikmah yang dapat diambil oleh pembaca melalui jawaban atas lima pertanyaan besar tersebut. Dan yang terpenting, novel ini terbit diwaktu yang pas, ketika bulan haji 1435 H jatuh pada bulan Oktober 2014 🙂

Salam Rindu.