Bisu

“Tolong, katakan yang sejujurnya, apa yang kamu mau dari aku?” raut mukaku entah harus memelas seperti apa lagi, dan pertanyaan apa lagi yang harus aku lontarkan kepada seseorang yang diam membisu sejak dua jam yang lalu, hanya ada suara detak jantungku yang semakin memburu dan riuh rendah tempat ini.

“Tolong kamu jawab pertanyaan terakahir dari aku ini, apa yang kamu mau dari akau?” tanyaku lembut sedikit gemas.

“Aku hanya mau kamu menikahi aku dalam dua hari kedepan. titik.” Akhirnya yang diajak bicara bersua juga, dengan nada yang penuh penekanan.

“Hanya untuk itu kamu diam selama dua jam ini? Tidak menjawab sepatah kata pun apa yang aku tanyakan kepadamu selama dua jam ini? Bahkan meminum setengguk air pun tidak?” aku mendengus kesal.

“Iya!” bentaknya lebih keras.

Orang-orang sekitar sesekali melirik dari bangku dimana mereka duduk. Mau tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Baik jika itu yang kamu mau, tetapi sayang sekali, aku tidak mau menikahimu!” kataku tegas sambil dan membanting uang diatas piring yang hanya tinggal noda makanan, berlalu pergi.

Dari jauh kudengar, ada suara isak tangis dari tempat aku pergi.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Advertisements

Posisi Sahabat

Perahu_Kertas_Sampul

#KisahKasihFavoritku Perahu Kertas Hal. 319

“Selamat. Kamu berhasil jadi juara satu. Tidak ada yang menggeser posisi lu buat gua, Gy,” ucap Noni sambil tersenyum ceria. Kugy membaca tulisan di medali emas itu. Sahabat Terbaik dan Terawet.

Saya sepakat dengan Noni, tidak ada yang dapat menggeser posisi seorang sahabat didalam kehidupan kita. Sahabat ibarat dua mata sisi sebuah koin, tidak dapat dipisahkan. Mengapa? Karena sahabatlah yang paling mengerti satu sama lain, daripada pacar sekalipun. Sahabatlah yang paling mengetahui seluk beluk siapa diri kita sebenarnya. Jika kita mempunyai kabar buruk, seorang sahabat siap menjadi pendengar pertama, ia rela memberikan sebagian dirinya untuk merasakan pedihnya kabar buruk yang kita rasakan. Pun dengan kabar baik, sahabat menjadi orang pertama pula yang siap menampung luapan kegembiaraan dari kita. Tak peduli pada saat itu ia sedang merasakan kepedihan akan realitas hidupnya. Demi kebahagiaan sahabat terbaiknya. Jika ada saat dimana hubungan antar sahabat renggang, semesta tidak akan tinggal diam. Semesta memiliki cara agar antar sahabat kembali menyatu. Entah bagaimana caranya.

Kisah kasih antar sahabat merupakan cinta kasih yang sesungguhnya. Kasih yang begitu tulus. Dan tak akan pernah putus.

Gambar diambil disini

Anak Meniru Apa Yang Ia Lihat

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seorang anak kecil usia balita memiliki memori otak yang masih sangat amat bagus. Otak anak balita merekam apapun yang ia lihat, ia dengar, ia rasakan melalui sentuhan maupun penciuman. Semua indera yang dimiliki anak balita bekerja mengikuti alur yang ada disekelilingnya. Saya mencoba mengkritik kebiasan anak menonton televisi, film dan sebaginya yang berkaitan dengan indera penglihatan anak. Dan saya menulis dari susut pandang dari apa yang saya lihat dan saya alami baik di lingkungan saya tinggal maupun media sosial.

Sangat disayangkan, anak balita (saya mendefinisakan anak balita usia 2-12 tahun/kelas 6 SD) jaman sekarang dibiarkan begitu saja menyaksikan tayangan sinetron atau film yang menurut saya tidak mendidik anak untuk menjadi pribadi yang baik kedepannya. Bahkan orang tuanya ikut menyaksikan tayangan sinetron atau film disisi anaknya, seakan tayangan sinetron atau film tersebut boleh di konsumsi oleh anak tersebut,tanpa ada upaya untuk mencegahnya. Mungkin ada usaha mencegah tapi ya anaknya nonton lagi dibiarin lagi aja.

Apa yang anak lihat itu yang akan ia tiru. Jika anak melihat tayangan sinetron atau film yang sudah berbau cinta-cintaan atau pacaran dari ia kecil, maka apa yang ada di mindset anak kecil tersebut adalah bahwa nanti kalo sudah besar kita harus kaya gitu atau boleh kaya gitu (re: pacaran atau jatuh cinta). Dan ‘besar’ disini bukan lagi pada usia ketika sesorang beranjak dewasa, 22 tahun keatas. Tapi ‘besar’ yang disiarkan oleh sinetron dan film yang disaksikan adalah ‘besar’ usia sekolah menengah pertama, bahkan pada saat sekolah dasar. Jika ada orang yang berpikiran ini adalah masalah sepele, hanya untuk hiburan anak, atau hiburan anak biar ia tenang, gak rewel, itu saya rasa salah besar. Cara yang dianggap tepat agar anak tenang dan gak rewel dengan memeberikan atau membiarkan anak melihat tayangan sinetron atau film dengan bumbu percintaan malah akan menjerumuskan anak itu sendiri. Walau sinetron atau film kartun/anime sekalipun.

Jangan salah, tidak semua film-film kartun atau anime layak untuk anak tonton. Saya katakan buanyak banget film kartun/anime yang tidak layak untuk ditonton oleh anak. Misalnya saja film Doraemon Stand By Me yang belum lama ini menjadi perbincangan. Siapa yang tidak tahu doraemon? Robot imut menggemaskan dari masa depan. Namun sayang, Doraemon Stand By Me jika dicermati lebih dalam tidak layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Kenapa? Karena inti cerita dari Doraemon Stand By Me adalah menceritakan tentang masa depan Nobita yang nantinya akan menikah dengan siapa, dan dari dia sekolah SD sudah memikirkan tentang cinta dan nikah. Anak SD macam apa yang dari dia SD sudah memikirkan tentang percintaan dan pernikahan. Yang ada ketika anak nonton film doraemon ini mindsetnya terbentuk bahwa ketika SD nanti si anak sudah harus memikirkan soal percintaan dan pernikahan dari semenjak dia SD. Anak akan meniru apa yang ia lihat. Pembaca mau anaknya dari umur SD sudah memikirkan soal percintaan dan pernikahan bahkan memperjuangkannya sedemikan rupa seperti film yang ia tonton? Saya sih ogah :p. Belum lagi belakangan ada kasus anak SMP yang bunuh diri karena melihat anime yang ada adegan bahwa kematian/bunuh diri akan mendapatkan ketenangan. Pada kasus tersebut meyakinkan kita bahwa tidak semua film kartun atau anime layak ditonton anak dan lemahnya pengawasan orang tua.

Anak kecil jaman sekarang sudah gak asing dengan kata yang namanya pacaran, putus cinta, jadian dan hal-hal yang berkaitan dengan percintaan. Sudah tidak tabu lagi. Padahal pada jaman saya kecil kata pacaran amat sangat jarang dibahas, yang ada sibuk mainan tradisional tahun 90-an. Lebih mirisnya, tidak hanya merusak dari sinetron atau film yang anak lihat, tapi dari lagu yang anak dengar. Lagu-lagu yang harusnya hanya boleh di dengar oleh orang dewasa tapi sekarang bebas didengar oleh anak kecil, sebut saja cabe-cabean, goyang dumang dan lagu-lagu lainnya yang kalau dilihat liriknya itu sangat tidak pantas dinyanyikan oleh anak kecil. Sungguh kasian dan miris anak kecil jaman sekarang.

Hal tersebut kembali lagi kepada keluarga dan orang tua. Orang tua seharusnya sadar akan dampak anaknya kedepan nanti ketika si anak sedari kecil sudah menyaksikan sinetron atau film tentang percintaan, juga lagu yang liriknya sangat tidak layak didengar anak kecil. Saya yakin orang tua jaman sekarang sudah lebih tau dan lebih maju daripada orang tua jaman dahulu. Tapi ternyata orang tua jaman dulu yang kurang memiliki pendidikan yang layak tetapi bisa mengurus anak lebih baik daripada oarang tua jaman sekarang yang sudah memiliki titel pendidikan tinggi.

Seharusnya orang tua sudah mendidik dan membentuk karakter anaknya sedari kecil yang berisikan pengetahuan dan pemahaman sesuai dengan kemampuan si anak. Banyak sekali cara yang dapat digunakan oleh oleh orang tua dalam mendidik dan membentuk karakter anaknya, salah satunya adalah dengan cara menonton film, tapi film yang seperti apa? Tentunya film-film yang berisikan pengetahuan dan pendidikan seperti kisah-kisah nabi, video bagaimana cara berperilaku yang baik, bagaiamana caranya sholat, bagaimana caranya hormat kepada orang tua dan lain-lain. Film dan video tersebut buanyak sekali dan mudah sekali di dapat pada jaman sekarang. Hindari anak menonton sinetron tayangan di televisi, menurut saya tayangan di telivisi hampir seluruhnya tidak layak ditonton oleh anak-anak. Walau menonton film atau video yang memiliki konten pendidikan dan pengetahuan, orang tua pun harus berada disampinya untuk memberikan pemahaman, terutama ibu. Dengan lagu pun orang tua dapat mendidik dan menambah pengetahuan anaknya, tentunya lagi-lagi lagu yang layak untuk didengar oleh anak. Memang dapampaknya belum keliatan ketia si anak kecil, tetapi nanti akan terasa ketika anak dewasa nanti.

Saya belum memiliki anak ataupun berkeluarga. Saya tahu dan paham dalam mendidik anak itu sama sekali tidak mudah. Namun setidaknya saya sudah mempunyai gambaran dan pemahaman harus seperti apa nanti ketika saya memiliki anak dalam mendidik dan membentuk karakter anak agar menajadi pribadi yang lebih baik dari saya. Pendidikan yang utama itu dari sebuah keluarga. Jika sebuah keluarga sudah mendidik dan membentuk anaknya sesuai dengan ajaran agama dan aturan hukum negeri ini. Maka sejahteralah negeri Indonesia ini. Selamat berjuang dalam mendidik dan membentuk karakter anak.

Langkah Kecil Resolusi Hijau

Indonesia merupakan negara dengan keindahan alam yang sudah tidak asing lagi. Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa berlimpah, dari mulai kekayaan laut sampai kepada kekayaan hutan dan tumbuhan yang memiliki beragam spesies. Namun sayangnya tidak sedikit hutan yang rusak oleh tangan yang tidak bertanggung jawab terhadap kekayaan hutan Indonesia, yang tentunya berdampak terhadap kerusakan lingkungan bahkan nilai ekonomi. Mengutip Danang D Cahyadi di situs Greenpeace Indonesia bahwa tutupan hutan di Indonesia hanya tinggal 48%, yang artinya hutan di Indonesia mengalami kerusakan yang cukup serius akibat penebangan liar. Tentu hal tersebut sangat memprihatinkan dan menjadi perhatian penting bagi pemerintah dan masyarakat pada umumnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Di awal tahun 2015 merupakan langkah awal yang tepat untuk memulai kembali langkah nyata untuk melakukan penghijauan yang sudah menjadi kampanye tahunan pemerintah, dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia dan berbagai macam organisasi-organisasi yang memiliki fokus terhadap menjaga dan melestarikan kekayaan dan keindahan alam Indonesia. Banyak sekali resolusi baru yang menjadi target bergbagai banyak pihak dalam melestarikan lingkungan, dari mulai resolusi dengan skala besar sampai kepada resolusi yang berskala kecil.
Resolusi dalam upaya melestarikan kembali lingkungan hijau tentu harus didukung penuh untuk mencapainya. Bagi pemerintah dan organisasi besar yang memiliki fokus terhadap kelestarian alam Indonesia, tentu resolusi yang dicanangkan mencangkup skala besar, seperti menjaga kelestarian hutan dari penebangan liar, konservasi hutan lindung, pemanfaatan hasil alam hutan dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar, menjaga flora dan fauna yang hidup dalam hutan itu sendiri dan masih banyak lagi resolusi atau target yang harus dicapai dalam skala besar dalam rangka menjaga hutan dan melestarikan lingkungan hijau.
Bagi masyarakat umum yang memiliki keprihatinan terhadap rusaknya hutan di Indonesia dan memiliki kesadaran untuk melestarikannya kembali tentunya memiliki keterbatasan waktu dan biaya sehingga sulit bagi masyarakat umum untuk terjun langsung ke lokasi hutan. Resolusi kecil yang dapat dilakukan oleh masyarakat pada umumnya dalam membantu menjaga dan melestarikan lingkungan seperti menanam tanaman kecil di halaman rumah, aktif dalam kegiatan yang bersentuhan dengan kelestarian alam. Berbicara mengenai lingkungan alam, tidak hanya terfokus hanya pada isu rusaknya hutan di Indonesia dan cara melestarikannya lagi, namun kegiatan yang lingkupnya berkaitan dengan lingkungan tentu tidak lepas dengan isu-isu terkait lingkungan lainnya seperti membuat lubang biopori di setiap rumah untuk mencegah terjadinya banjir, mengelola limbah sampah menjadi pupuk kompos, memanfaatkan sampah-sampah plastik menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomis dan lain sebagainya.
Kegiatan yang disebutkan sebelumnya bukan lagi isapan jempol belaka, saat ini sudah banyak yang merealisasikan kegiatan-kegiatan tersebut dalam skala kecil maupun besar, misalnya pengelolaan sampah menjadi pupuk kompos telah dilakukan Amilia Agustin, si ratu sampah begitu ia dijuluki karena pada saat duduk dibangku SMP ia dan beberapa temannya mengumpulkan sampah di sekitar sekolahnya untuk diolah menjadi pupuk kompos. Amilia pun mendapatkan berbagai tawaran beasiswa dari beberapa negara karena aksi dan ide cemerlangnya tersebut.
Lain hal yang dilakukan oleh warga kampung Banjarsari XI RT 008/008 Kelurahan Cilandak Barat Jakarta Selatan yang memiliki inisiatif mengembangkan kampung hijau. Kampung hijau ini memiliki konsep yang sederhana, sepanjang jalan di kampung ini ditanami tanaman menggunakan medium pot, bahkan hal tersebut didasari oleh kesadaran warga masing-masing. Tanaman obat pun dibudidayakan di kampung hijau ini, jumlahnya mencapai 150 jenis tanaman obat yang awalnya hanya berjumlah 20. Kampung hijau Banjarsari ini menjadi kampung percontohan dalam mengembangkan penghijauan bagi kampung lainnya. Atas kerja keras warga kampung Banjarsari dalam kegiatan melestarikan lingkungan dan penghijauan, UNESCO menyuntikan dana segar untuk kampung hijau Banjarsari dalam melakukan pengembangan lingkungan hijau agar lebih luas lagi.
Resolusi-resolusi tersebut memang terkesan sederhana dan bukan menjadi hal yang luar biasa, namun jika masyarakat sungguh-sungguh dalam melakukannya tentu akan mendapatkan hasil yang baik paling tidak bagi lingkungan kecil masyarakat tersebut. Dengan demikian, masyarakat luas akan melihatnya dan menilai kegiatan-kegiatan tersebut memiliki nilai yang sangat baik dalam upaya mengkampanyekan penghijauan serta menajaga dan melestarikan lingkungan sekitar khususnya, dan umumnya penghijauan untuk negeri ini. Apalagi teknologi komunikasi dan informasi sudah sangat maju, media sosial sudah sedemikian mudahnya dijangkau oleh masyarakat sehingga kegiatan yang berkaitan dengan penghijauan dapat dengan mudah disebarkan kepada masyarakat luas.
Kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan dan penghijauan sejalan dengan The Nature Conservacy sebagai salah satu organisasi yang concern dalam melindungi alam. Hal tersebut dapat dilihat dari misi The Nature Conservacy yaitu melestarikan daratan dan perairan yang menjadi sandaran bagi semua kehidupan, mempromosikan nilai alam dan membantu memicu perubahan transformasional dalam konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya alam untuk kepentingan manusia dan alam. Misi tersebut sangat realistis terhadap fakta yang ada saat ini, dimana Indonesia sebagai negara kaya akan di perairan maupun di daratan harus memanfaatan sumber daya tersebut bagi keberlangsungan hidup seluruh masyarakat Indonesia tanpa merusak alam itu sendiri.
Mencantumkan resolusi hijau di tahun 2015 ini bukanlah tanpa alasan, ada banyak sekali ‘pekerjaan rumah’ yang harus dilakukan demi terciptanya lingkungan yang sehat, bersih dan nyaman. Dengan melakukan langkah kecil resolusi hijau di tahun 2015 ini, anda sudah mendukung The Nature Conservacy Program Indonesia dalam melindungi alam dan melestarikan kehidupan.

Referensi:
http://www.nature.or.id/tentang-kami/misi-visi-dan-nilai-nilai-kami/index.htm
http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/hutan-indonesia-kekayaan-dan-kompleksitas-mas/blog/48605/
http://edukasi.kompasiana.com/2012/07/09/belajar-dari-amilia-agustin-ratu-sampah-475540.html
http://kabarinews.com/banjarsari-kampung-yang-mendunia/36575

Air Mata Yang Bersisian

teard

Aku merangkul tas gemblok dan salah satu tanganku menjinjing tas besar. Melangkah keluar rumah yang sudah disambut oleh beberapa tetangga yang masih ada tali saudara, menyalami satu per satu, yang disalami merapal doa untukku sembari menyelipkan amplop ditanganku. Tidak, aku tidak merasa bahagia terselipnya amplop ditangan, air mata sudah mengambang yang pada akhirnya jatuh dipipi sebelah kanan, hanya satu tetes. Aku mengusapnya, mencoba untuk kuat. Setelah selesai menyalami satu per satu orang yang melepas kepergianku, aku menuju mobil yang sudah siap membawaku ke tempat yang aku sendiri enggan.
**
Sepanjang perjalanan, tidak banyak yang dapat aku lakukan, hanya menatap jalan dan kemungkinan-kemungkinan yang nanti akan terjadi denganku di depan sana. Satu dua teguran atau pertanyaan dari orang-orang di dalam mobil hanya aku jawab singkat. Namun disatu sisi aku mencoba bersikap tenang akan keadaan ini, sekedar memberi sinyal bahwa aku baik-baik saja, seolah tidak ada yang salah dengan keputusan ini.

Perjalanan sekitar 1,5 jam hanya kuhabiskan dengan duduk tenang tanpa banyak cakap dengan orang-orang di dalam mobil. Tak terasa mobil sudah masuk ke dalam gerbang yang nantinya akan menjadi tempat tinggalku, entah berapa lama. Aku tidak berani untuk membayangkannya.
Tak lain dan tak bukan, tempat yang menjadi tujuan aku ini adalah pondok pesantren. Ya, aku akan tinggal di pondok pesantren untuk menuntut ilmu. Tentunya ilmu agama menjadi tujuan utama mengapa saya berada disini. Orang tuaku mempunyai harapan tinggi terhadapku dikirimnya aku ke tempat ini, menjadi alim ulama, ceramah kesana-kemari, menagajarkan kitab-kitab berbahasa arab yang aku saja melihatnya sudah jeri. Ada rasa takut menyelusup ke dalam diriku. Yang paling besar adalah takut tidak menyanggupi harapan dari orang tuaku yang berekspektasi bahwa setiap orang yang lulus dari pondok pesantren akan menjadi orang yang serba bisa dalam hal agama, tentang apapun itu. Secara tidak langsung itu menjadi beban yang ada di pundakku. Orang tuaku memang tidak secara blak-blakkan aku harus jadi ini itu setelah lulus nanti, mereka tahu betul beban psikologis anak kecil yang baru lulus SD sudah pisah dari orang tuanya dan hidup secara mandiri mengurus segala kebutuhan hidup. Mereka hanya mengucapkan, “belajar yang rajin ya de”, atau “yang betah ya de”. Dan aku hanya bisa mengangguk pelan.

Kendaraan yang parkir sudah cukup ramai diwaktu yang masih terbilang pagi ini. Belakangan aku ketahui yang datang lebih pagi adalah mereka-mereka yang berstatus anak baru, datang lebih pagi agar dapat memilih tempat tidur yang anak mau, karena memang semakin sore semakin penuh, orang-orang sudah memilihkan tempat tidur untuk anaknya, jika dateng telat, maka terimalah sisa temapt tidur yang kosong—yang mungkin dianggap kurang ‘strategis’. Mobil sudah terparkir dengan rapih, aku turun membawa tas gemblok ku, dan barang-barang lainnya dibawa oleh kakak-kakakku yang lain. Aku dan keluargaku tidak langsung ke kamar untuk memilih tempat tidur, aku dibawa ke sebuah rumah yang dimana aku memilih perangkat mandi, buku paket, kitab-kitab dan lain sebagainya. Setelah selesai memilih, aku dan keluarga langsung menuju ke kamar yang gedungnya tidak jauh dari rumah tempat aku mengambil peralatan.

Kamar yang aku dan keluarga tuju berada di lantai dua, tangganya cukup sederhana, hanya terbuat dari besi yang anak tangganya berlapis kayu, sehingga jika menaiki anak tangga akan terdengar cukup berisik—bahkan sesekali ada yang iseng menghentakkan kaki dengan keras ketika menaiki anak tangga. Kamar yang menjadi tempat aku tidur kamar nomor satu, persis di sebelah anak tangga, jadi ketika sudah sampai atas dan berjalan lurus di dalam koridor, kamar pertama di sebelah kiri merupakan kamar yang aku tempati, cukup banyak ranjang yang berjajar rapi. Ranjang tempat tidurnya pun atas-bawah, ada yang terbuat dari besi maupun kayu. Aku memilih tempat tidur yang berada di bawah, posisi lemari persis didepan dimana ranjangku berada.

Kakakku yang sudah berpengalaman tinggal di pondok pesantren selama 6 tahun membantu aku merapihkan lemari dan menatanya. Lemari kayu yang terdiri dari 3 lantai dilapisi kertas koran, baru setelah itu diletakan beberapa barang sesuai dengan jenisnya. Aku tidak banyak melakukan apapun, membantu sesekalinya saja. Sisanya aku memperhatikan sekeliling kamar yang sama sekali asing bagiku. Terlihat beberapa orang juga sedang rapih-rapih seperti apa yang aku lakukan, bahkan ada yang sudah selesai merapihkan tempat tidur dan lemarinya. Orang tuaku sibuk berbincang dengan orang tua lainnya yang ada di kamar itu, memperkenalkan aku dengan anak-anak lainnya.

Cukup lama untuk merapihkan sebuah lemari beserta barang-barangnya dan tempat tidur. Sampai matahari sudah agak condong kearah barat, rapih-rapih bisa dikatakan selesai, tinggal beberapa barang yang bisa kurapihkan sendiri nanti. Selebihnya waktu digunakan untuk istirahat dan menikmati lingkungan pondok sampai selepas ashar.
Dan inilah saat dimana aku berpisah.
**
Aku dan keluarga keluar dari kamar setelah pamitan kepada orang-orang yang berada di dalam kamar—kakak kelas yang kebetulan satu kamar dengaku. Orang tuaku ‘menitip’ kepada salah satu senior di pondok yang ternyata rumahnya tidak jauh dari rumahku, namun aku tidak mengenalnya.

Persis di depan kamar, seluruh keluargaku yang mengantarku berpamitan denganku. Satu persatu dari mereka menyalamiku diiringi dengan ucapan doa, “semoga betah ya de”, atau belajar yang rajin ya de, jangan nangis ya..” Ada yang mengacak-acak rambut bahkan menciumiku. Terlebih orang tuaku, ibu. Hanturan doa dan semangat beliau ucapkan dengan sangat lembut, bola matanya memancarkan kebahagiaan, ketegaran, namun aku tidak melihat tatapan kesedihan di dalamnya. Pelukkannya mengalirkan kehangatan, ketenangan. Aku memeluk erat, seakan berkata,”aku tidak mau tinggal disini”. Setelah semua selesai berpamitan, mereka menuruni anak tangga, aku tidak ikut turun kebawah, hanya melihat kepergian mereka dari atas, dari mereka menuruni anak tangga sampai masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil bergerak maju. Dari dalam mobil, kaca mobil dibuka, mereka melambaikan tangan kearahku. Perlahan tapi pasti mobil melaju meninggalkan pondok, dan hilang di kelokan jalan.
Aku merasa aneh, tidak sekalipun air mata menetes jatuh, apalagi menangis sampai merengek. Seperti halnya teman-temanku yang lain ketika keluarganya pulang, mereka nangis sejadi-jadinya, bahkan ada yang berontak meminta pulang. Aku mau nangis tapi tidak bisa. Mungkin aku belum merasakan hidup sendiri, tanpa keluarga disamping.

Betul saja, kala malam datang aku hanya bisa termenung diatas kasur, berpikir tidak menentu. Tak terasa, semakin lama air mati mengalir dari ujung mata, dan semakin lama pula air mata yang mengalir semakin deras. Aku menangis sejadi-jadinya dengan suara lirih.
**
Belakangan aku tahu, pada malam yang sama, ibuku juga menangis.

Gambar diambil disini

Rindu Yang Terpatri

IMG_3030

Resensi buku Tere Liye—Rindu

Judul                  : Rindu

Penulis              : Tere Liye

Penerbit            : Republika Penerbit

Tebal Buku        : 544 halaman

Tahun Terbit      : Oktober 2014, cetakan 1

Nama Tere Liye mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan pembaca buku di Indonesia. Penulis yang sudah ‘melahirkan’ banyak karya yang cukup membuat para pembaca jatuh hati terhadap barisan kata, kalimat atau paragraf yang tercetak dalam buku. Beberapa karyanya bahkan sudah di produksi ke layar lebar, sebut saja Hafalan Surat Delisha dan Bidadari-Bidadari Surga. Tere Liye lebih banyak menulis dengan genre fiksi daripada genre lainnya—yang memang menurut saya Tere Liye lebih fokus pada genre fiksi. Novel merupakan jenis buku yang paling sering ditulis oleh Tere Liye. Novel-novelnya sudah tidak bisa diragukan lagi, baik dari isi cerita maupun bahasa. Tema yang diangkat dari novel yang ditulis pun berkaitan dengan hal-hal yang begitu dekat dengan kita, nilai-nilai yang sehari-hari kita amalkan.

Berbicara tentang Tere Liye dan novel, baru-baru ini Tere Liye kembali menerbitkan novel terbarunya, Rindu. Dilihat dari judul bukunya, novel Rindu ini terlihat sederhana, namun mengandung berjuta makna dan tanya. Ya, rindu mengandung arti yang dalam dan setiap orang berhak menginterpretasikan kata rindu kedalam makna yang berbeda-beda. Seperti cerita dalam novel ini, ada banyak rindu di dalam setiap perjalanan dan tanya.

Adalah Gurutta yang menjadi tokoh utama pada novel kali ini. Seorang ulama yang masyhur, kedalaman ilmunya membawa ia dikenal oleh kalangan masyarakat. Umurnya sudah tidak muda lagi, namun masih gagah melakukan aktivitas. Pada saat itu ia berkesempatan pergi melakukan perjalanan suci ke tanah haram. Namun tidak mudah bagi Gurutta untuk ikut perjalanan suci itu, ia tahu tidak akan semudah itu ia ikut, sehingga ia meminta izin kepada Guberbur Jendral De Jonge dari Batavia, tanda tangannya tidak bisa dibantah oleh siapapun termasuk oleh Sergeant Lucas.

Kapal Blitar Holland menjadi kapal yang membawa penumpang menuju tanah suci, berhenti di beberapa pelabuhan untuk mengangkut penumpang ataupun memenuhi keperluan kapal dan kebutuhan sehari-hari penumpang di dalam kapal. Kapal yang di pimpin oleh Kapten Phillips ini berkekuatan tenaga uap, yang pada kala itu menjadi teknologi kapal paling modern. Tere Liye menceritakan dengan detil kehidupan diatas kapal selama perjalanan, mulai dari matahari terbit sampai rembulan menampakkan wajah teduhnya. Pembaca akan merasa seperti benarbenar merasakan kehidupan diatas kapal seperti nyata, setiap sudut ruang kapal di deskripsikan dengan jelas. Namun siapa sangka, di dalam kapal Blitar Holland tersebut beberapa penumpang memiliki pertanyaan yang mengusik batin. Lima pertanyaan di dalamnya.

Anna dan Elsa merupakan kakak beradik yang ikut kedalam perjalanan besar ini bersama kedua orangtuanya. Daeng Andipati, adalah Ayah dari kakak beradik tersebut. Umurnya masih belia, sembilan dan lima belas tahun. Selama perjalanan Anna sangat antusias terhadap kegiatan apapun di dalam kapal, keceriaannya membawa ia dekat dengan siapa saja, berbeda dengan Elsa yang agak pendiam daripada adiknya itu. Seperti lazimnya kakak beradik, Anna dan Elsa seringkali meributkan sesuatu hal yang tidak penting. Pertengkaran kakak beradik ini menjadi bumbu yang gurih selama perjalanan menuju tanah suci ini.

Gurutta menjadi orang yang paling dihormati di dalam kapal, sehingga apapun yang Gurutta usulkan diamini oleh seluruh penumpang kapal. Sebut saja pengajian untuk anak-anak pada sore hari selepas sholat ashar, kajian ba’da subuh dan lain sebagainya. Tentu saja tujuannya adalah baik, mengisi waktu kosong diatas kapal dengan melakukan aktifitas yang bermanfaat bagi seluruh penumpang kapal.

Bonda Upe bersedia menjadi guru mengaji anak-anak selama berada diatas kapal. Pakaiannya yang serba cerah membuat Anna sering dibuat kagum. Terlebih, Bonda Upe yang memiliki kulit putih dan paras cantik khas negeri cina—dan memang keturunan orang cina. Selama di dalam kapal, Bonda Upe seperti menutup diri dari pergaulan di dalam kapal, Gurutta, Daeng Andipati, Anna, Elsa dan orang-orang di dalam kapal jarang sekali melihat Bundo Upe makan di kantin bersama-sama—kantin menjadi tempat berkumpulnya seluruh penumpang dan saling kenal lebih jauh satu sama lain. Bonda Upe keluar kabin hanya sekedar sholat di masjid kapal. Sikap Bonda Upe sudah terlihat jelas bahwa ia membawa satu pertanyaan yang membuatnya menutup diri, yaitu masa laluny ayng kelam menjadi seorang pelacur yang dijual oleh bapak kandungnya sendiri demi memenuhi kepuasan nafsunya semata dalam berjudi, membuat ia bertanya-tanya apakah Allah akan menerima hajinya dengan keadaan masa lalu ia yang kotor itu? Pertanyaan itu ia lontarkan dengan taku-takut kepada Gurutta—yang tentunya sudah tahu ada sesuatu yang tidak wajar pada sikap Bonda Upe. Sehingga Gurutta dengan bijak memberikan sebuah petuah saktinya yang siapapun mendengarnya pastilah tenteram hatinya. Maka satu pertanyaan terjawab yang dialami oleh Bonda Upe.

Pertanyaan kedua justru muncul dari Daeng Andipati. Tampak bahagia dimata orang lain yang melihatnya namun tidak bagi Daeng Andipati ketika ia teringat akan masa lalunya yang tidak kalah kelamnya dengan apa yang dialami oleh Bonda Upe. Pertanyaan yang dilontarkan Daeng Andipati kepada Gurutta diawali dengan insiden yang tidak terlintas sama sekali. Terjadinya percobaan pembunuhan kepada Daeng Andipati yang membuat ia harus membuka luka lamanya demi melihat orang yang ingin membunuhnya namun digagalkan oleh salah satu kelasi kapal. Daeng Andipati sebenarnya sudah lama ingin menanyakan hal ini kepada Gurutta ketika diawal ia tahu akan satu kapal dengan Gurutta, namun mulutnya enggan berbicara. Akhirnya peristiwa tersebut membawa dirinya bertanya kepada Gurutta, pertanyaan yang sudah lama ia pendam. Rasa benci yang amat sangat medalam kepada ayahnya adalah pertanyaan besarnya, apakah dengan dendam yang amat sangat tersebut Allah akan menerima ia di tanah haram? Membeci seseorang yang harusnya ia sayangi? Gurutta dengan kerendahan hati dan kharismanya menjawab dengan lugas dan tegas atas pertanyaan Daeng Andipati, bahwa memaafkan dengan tulus dapat melunturkan benci, yang mendarah daging sekalipun.

Di tengah perjalanan, sudah separuh lebih penumpang sudah masuk dari berbagai wilayah di tanah air menaiki kapal Blitar Holland untuk melakukan perjalanan besar. Di separuh perjalanan itu pula peristiwa yang membuat awan mendung di dalam kapal membungkus langit-langit kapal. Salah satu penumpang meninggal dunia dalam perjalanan suci ini. Adalah Mbah Putri, suami dari Mbah Kakung meninggal ketika sujud dalam sholat subuh. Berita meninggalnya Mbah Putri tentu saja mengagetkan siapa saja yang berada di dalam kapal, terlebih Anna yang cukup akrab dengan kedua pasangan kakek-nenek itu. Peristiwa itu menimbulkan pertanyaan besar ketiga yang ternyata terlontar dari mulut suami almarhumah Mbah Putri. Mbah Kakung merasakan kesedihan yang mendalam atas meninggalnya istri tercinta, ia mempertanyakan takdir Tuhan yang tidak tepat dalam memanggil istri tercintanya kepada pangkuan-Nya, tidak bisakah ditunda setelah ia melaksanakan haji di tanah suci? Yang menjadi cita-cita sepasang kekasih sepuh itu sejak dahulu kala? Gurutta, dengan sabar dan pelan-pelan menjelaskan kepada Mbah Kakung akan takdir yang menimpa dirinya dan istri. Bahwa takdir Tuhan tidak dapat dimajukan atau dimundurkan sejengkal pun.

Ambo Uleng menjadi pemilik pertanyaan besar keempat diatas kapal Blitar Holland tersebut. Ambo Uleng adalah satu-satunya kelasi yang berdarah lokal—seluruh awak kelasi berkebangsaan Belanda. Uniknya, Ambo Uleng pun baru menjadi kelasi ketika kapal berangkat dari pelabuhan Makassar. Kepergiannya bersama kapal Blitar Holland diharapkan juga pada kepergian rasa sakit hati yang memilukan. Ambo Uleng dekat dekat dengan Anna, anak dari Daeng Andipati yang memanggilnya Om Kelasi. Sakit hati akan kisah cintanya membuat Ambo Uleng menjadi orang yang paling pendiam diatas kapal, bahkan Ruben teman sekamarnya di kabin merasa jengkel akan diamnya Ambo Uleng yang tanpa sebab itu. Kedekatannya dengan Gurutta membuat Ambo Uleng mencoba memberanikan diri untuk membuka rahasia yang selama ini ia pendam sendiri di dalam hati, tentang kisah cintanya yang memilukan, demi mendapatkan cinta sejati. Pertanyaan besar yang ada pada Ambo Uleng adalah apakah sesungguhnya cinta sejati itu? Apakah ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta sejati sesuai dengan apa yang ia miliki? Lagi dan lagi, Gurutta yang menjawab pertanyaan besar itu, diselingi dengan kisah cinta Gurutta yang tidak jauh berbeda dengan Ambo Uleng pada masa lalu. Bahwa untuk emdapatkan cinta sejati adalah dengan cara melepaskan.

Kempat pertanyaan besar yang dibawa oleh penumpang diatas kapal Blitar Holland terjawab sudah. Masih ada satu pertanyaan lagi yang belum terjawab. Pertanyaan kelima justru datang dari Ahmad Karaeng, yang tidak lain dan tidak bukan adalah nama asli dari Gurutta. Ia menyebutnya kemunifikan. Bagaimana mungkin ia yang dengan mudahnya menjawab seluruh pertanyaan orang lain namun tidak bisa menjawab pertanyaan diri sendiri. Puncak dari pertanyaan ini adalah ketika kapal Blitar Holland dibajak oleh pembajak dari Somalia yang terkenal dengan pembajakan kapalnya yang ganas. Pada saat itu Gurutta ditahan oleh Sergeant Lucas karena dianggap mencoba melakukan pemberontakan melaui buku yang ia tulis. Selama diatas kapal, selain menjadi imam dan memberikan kajian agama diatas kapal, Gurutta menulis buku, yang isinya tentu saja tentang semangat kemerdekaan—karena pada waktu itu masih dijajah oleh Belanda. Pertanyaan besar Gurutta, mengapa ia menuliskan semangat kemerdekaan melawan penjajahan namun ia tidak berani dalam akasi nyata melawan pembajak somalias yang membajak kapal? Bukankan itu munafik? dan ternyata jawaban atas pertanyaan Gurutta muncul dari mulut Ambo Uleng yang memberikan aksi nyata, bukan hanya sekedar berbicara. Gurutta hanya tercengang, tak menyangka jawaban atas pertanyaannya terlontar dari mulut anak kemarin sore yang sedih akan kehilangan cinta sejatinya.

Novel setebal 544 halaman ini tidak akan terasa tebalnya. Pasalnya, sebagai pembaca kita larut akan kehidupan diatas kapal yang digambarkan seakan nyata oleh sang penulis. Secara makna, novel ini memiliki arti yang sangat mendalam yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca, melalui lima pertnyaan besar yang dibawa oleh penumpang kapal. Novel ini pun sarat akan sejarah dan budaya, bagaiamana setting novel ini pada saat zaman penjajahan, beragam budaya yang dibawa oleh penumpang dari masing-masing daerah asal sampai kepada keindahan wilayah atau ciri khas daerah yang disinggahi kapal di pelabuhan. Kehdiupan laut pun tidak lepas dari cerita novel ini, bagaimana lumba-lumba berenang secara berkelompok dan ikan paus menyemburkan air keatas dari tubuhnya. Hal tersebut tergambar jelas di dalam novel Rindu ini. Bukan Tere Liye namanya jika pemilihan diksi yang enak dan mudah dicerna oleh siapapun pembacanya, seperti ketika kita bercakap-cakap sehari-hari.

Menurut hemat saya, novel Rindu ini agak berbeda dengan novel Tere Liye lainnya, memang novel yang ditulis oleh Tere Liye diambil dari hal atau kisah-kisah sederhana, namun di novel Rindu ini, walau memiliki makna yang mendalam, isi ceritanya memang benar-benar sederhana, tidak seperti novel Tere Liye yang pernah ditulis sebelumnya. Konflik yang terjadi pun tidak serumit dan setegang dari novel pendahulu Rindu. Hampir keempat pertanyaan dijawab dibagian tengah menuju akhir, terlalu lama dan banyak menceritakan kehidupan di dalam kapal.

Terlepas dari itu semua, novel ini layak dibaca oleh siapa saja. Novel ini memberikan sebuah hikmah yang dapat diambil oleh pembaca melalui jawaban atas lima pertanyaan besar tersebut. Dan yang terpenting, novel ini terbit diwaktu yang pas, ketika bulan haji 1435 H jatuh pada bulan Oktober 2014 🙂

Salam Rindu.

Wajah Generasi Muda

bultang

Setiap tanggal 9 September Indonesia merayakan Hari Olahraga Nasional. Tepat pada hari selasa kemarin tanggal 9 September 2014 Indonesia kembali merayakan Hari Olahraga Nasional yang ke-31. Tentu ada pesan dan semangat yang ingin ditularkan kepada masyarakat Indonesia terkait dengan perayaan Hari Olahraga Nasional ini, bukan hanya perayaan tanpa arti semata. Salah satunya adalah menularkan semangat untuk berolahraga demi terwujudnya gaya hidup yang sehat. Disamping itu, Perayaan Hari Olahraga Nasional ditujukkan untuk mengahargai prestasi yang ditorehkan para atlet di tingkat nasional maupun internasional.

“Yang muda, yang berprestasi”, sering kali kita mendengar atau membaca di banner atau tembok-tembok di pinggir kota. Ya, saat ini sudah sepantasnya generasi muda menunjukkan kreatifitas dan prestasinya melalui berbagai cara yang postif dan inspiratif bagi masyarakat Indonesia. Generasi muda seringkali dipandang sebelah mata akan argumentasi atau tindakannya dengan berbagai alasan yang kurang rasional, seperti belum cukup umur atau kurang pengalaman. Namun hal tersebut tidak berlaku lagi dimasa sekarang, masa dimana generasi muda sudah menunjukan tajinya bahwa mereka mampu memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia.

Sektor olahraga khususnya, atlet generasi muda sudah banyak menunjukkan prestasi yang membanggakan untuk Indonesia di tingkat nasional maupun di level internasional. Prestasi tidak harus menjadi juara dunia, berpartisipasi dengan membawa nama bangsa Indonesia di level internasional sudah menjadi prestasi yang membanggakan setidaknya bagi diri mereka sendiri, apalagi jika dilengkapi dengan raihan juara, Indonesia akan sangat bangga. Prestasi di sektor olahraga yang dipersembahkan generasi muda tidak hanya pada satu atau dua bidang olahraga saja, tetapi dipersembahkan di berbagai bidang olahraga.

Sebut saja Anggia/Della di bidang olahraga bulutangkis yang mengikuti kejuaraan dunia di Copenhagen, Denmark beberapa waktu lalu, walau terhenti di babak perempat final, pemain muda yang bermain di ganda putri ini mampu menumbangkan pasangan nomor satu dunia asal Tiongkok. Atau Rio Haryanto yang menorehkan prestasi di kancah internasional di lintasan balap mobil yang saat ini berlaga di GP2 Series. Timnas Indonesia U-19 pun tak mau kalah, Timnas sepakbola muda yang dipimpin oleh Evan Dimas dan kawan-kawan ini lolos kualifikasi Piala Asia 2014 di Myanmar Oktober nanti.

Masih banyak lagi prestasi olahraga yang dipersembahkan oleh generasi muda untuk Indonesia. Saat ini, bagaimana cara kita mengapresiasi dan mengembangkan potensi generasi muda di sektor olahraga. Bagi generasi muda yang bukan berprofesi sebagai atlet seperti saya, tidak ada alasan untuk tidak berolahraga, lari pagi secara rutin atau melakukan aktivitas olahraga yang disukai merupakan salah satu cara membudayakan masyarakat gemar olahraga. Mari kita dukung dan rayakan Hari Olahraga Nasional untuk Indonesia lebih sehat. #GENspirit 🙂

Gambar diambil disini